Well, posting-an ini bisa dibilang ane buat secara kebetulan. Secara kebetulan ane lagi baca buku, trus secara kebetulan juga liat status di facebook yang bunyinya seperti ini nih, “Facebook must be a woman. A man would never ask, ‘What’s on your mind?’”. Untuk keamanan dan kenyaman ane ngga usah cantumin siapa pemilik status itu yak? ^_^.
Entahlah ada atau tidak adanya hubungan antara status itu sama buku yang lagi ane baca, yang penting ane cuma pengen posting, ehehehee.. langsung aj deh ke TKP..
Mengapa Pria Tidak Lebih Peka Dari Wanita?
Mengapa pria tidak lebih peka dari wanita?
Itu bukan karena wanita memiliki indera yang lebih hebat. Hanya saja, indera pria lebih tumpul jika dibandingkan dengan indera wanita. Dalam dunia wanita yang sangat peka, mereka mengharapkan pria mampu membaca lisan, suara dan tanda-tanda bahasa tubuh mereka.
Untuk alasan revolusionerlah, maka hal itu didiskusikan –meski bukan itu masalahnya. Wanita secara diam-diam menduga bahwa seorang pria akan tahu apa yang diinginkannya atau dibutuhkannya; dan ketika para pria itu tidak mengerti tanda-tanda yang diberikan, wanita itu akan menuduhnya sebagai “tidak peka”. Sedangkan pria di manapun akan membela diri, “apakah aku harus bisa membaca pikiran mereka?”.
Lyn dan Chris sedang mengendarai mobil pulang dari sebuah pesta. Chris mengemudi, Lyn menunjukkan arah. Mereka rupanya baru saja bertengkar karena Lyn mengatakan untuk berbelok ke kiri, padahal sesungguhnya yang dimaksudkan adalah berbelok ke kanan. Sembilan menit berlalu dalam kebisuan, sehingga Chris menduga ada yang tidak beres. “Sayang.. kamu tidak apa-apa?” tanya Chris. “Ya. Aku tidak apa-apa!” sahut Lyn.
Penekanan pada kata “tidak apa-apa!” berarti bahwa segalanya jauh dari ‘tidak apa-apa’. Chris mengingat kembali pesta yang baru saja mereka hadiri. “Aku melakukan kesalahan malam ini?” tanya Chris. “Aku tidak mau membicarakannya!” bentak Lyn.
Ini artinya Lyn sangat marah dan betul-betul ingin membicarakannya. Sementara Chris, ia betul-betul kebingungan mengingat-ingat kesalahan apa yang telah dilakukannya sehingga membuat marah Lyn. “Katakan padaku, sayang. Apa yang aku lakukan di pesta?” ia memohon. “Aku betul-betul tidak tahu apa yang telah kulakukan tadi!”
Dalam percakapan seperti ini, biasanya si pria memang mengatakan yang sebenarnya – dia betul-betul tidak mengerti masalahnya.
“Baiklah,” kata Lyn. “Aku akan katakan masalahnya, walau kamu pura-pura bodoh!” –tetapi Chris tidak berpura-pura bodoh. Ia benar-benar tidak mengerti mengapa Lyn marah. Lyn menarik nafas panjang. “Wanita centil murahan itu, selalu berada di dekatmu sepanjang malam dan mengirim tanda-tanda ajakan padamu. Sementara kamu tidak menghindarinya –kamu bahkan membuatnya semakin berani!”
Sekarang Chris benar-benar bingung. Wanita centil murahan yang mana? Tanda-tanda ajakan apa? ia tidak melihat apa-apa.
Berikut adalah yang terjadi di pesta: Ketika ‘wanita centil murahan itu’ berbicara pada Chris (ini adalah istilah yang digunakan wanita untuk wanita semacam itu. Sementara pria akan menyebut wanita seperti itu sebagai ‘ wanita menawan’). Ia tidak melihat bahwa wanita itu mengangkat pinggulnya ke arah Chris, menyibakkan rambutnya, mengusap-usap pahanya sendiri, menatap Chris lebih lama dari yang bisa disebut tatapan sopan, dan mengelus-elus tangkai gelas minumannya serta berbicara dengan nada manja seperti seorang gadis sekolahan.
Yah, Chris adalah ‘seorang pemburu’(hakikat seorang pria pada umumnya). Ia mampu melihat seekor Rusa diujung cakrawala dan mengatakan seberapa cepat hewan itu bergerak. Namun ia tidak memiliki kemampuan untuk mengerti tanda-tanda bahasa tubuh, arti suara dan tatapan yang ditujukan padanya.
Semua wanita dalam pesta itu akan melihat ‘wanita centil murahan itu’ tanpa harus memalingkan kepalanya untuk benar-benar menyaksikannya. Lalu sebuah naluri jarak jauh ‘waspada akan wanita nakal’ terkirim dan diterima oleh semua wanita dalam pesta itu. Sementara kebanyakan pria di sana, tidak mengerti sama sekali akan hal itu.
Maka ketika seorang pria mengaku bahwa ia memang mengatakan yang sebenarnya –tentang apa yang dituduhkan padanya– ia mungkin saja memang mengatakan yang sesungguhnya. Hal ini bisa terjadi karena otak pria tidak dilengkapi dengan bagian untuk mendengar atau melihat lebih rinci dibandingkan wanita. Oleh karena itu para pria selalu membutuhkan bantuan wanita untuk mengetahui ketidakpekaannya tersebut.
Sebuah penelitian membuktikan bahwa pria merupakan pembaca pikiran yang payah. Tapi kabar baiknya adalah pada umumnya mereka dapat dilatih untuk meningkatkan kewaspadaan mereka akan pesan-pesan tak terucap dan nada suara. (end)
Btw, sampel yang disajikan tadi itu hanyalah satu sampel dari sekian banyak sampel yang ada di dunia ini. Jadi, untuk penerapannya tinggal disesuaikan dengan kondisi terkini yang terjadi yak!
Makasih buat yang udah mau nyimak dan mau meninggalkan komentarnya di-postingan ini ^_^
Sumber: Why Men Don’t Listen and Woman Can’t Read Maps – Allan + Barbara Pease.
Selasa, 17 Agustus 2010
Kamis, 05 Agustus 2010
Cinta-cinta.. SUNGGUH ANEH !! (Fiksi saya lagi)
Halloo..brader-sister..
Saya posting karya fiksi lagi nihh.. ^_^ ini sebetulnya satu bagian dari beberapa bagian yang belum tau kapan selesainya, ehehee.. mohon saran dan kritiknya aja ah! Wajib..!!
Bab 1
Cinta-cinta.. SUNGGUH ANEH !!
Cinta itu kadang suka aneh yah?
Salah satu keanehannya itu terjadi ketika Laras, sahabat gue cerita tentang Fajar, pacarnya yang marah banget ketika dia udah ngga lagi mengingatkannya akan pentingnya bahaya merokok. Padahal sebelum-sebelumnya pas diingatkan pun Fajar selalu enggan untuk berhenti dari kebiasaannya itu. Menurut Laras, alasan dia berhenti mengingatkan Fajar, ya karena dia sudah pada taraf mengerti akan kekurangan Fajar. Tapi, kenapa respon dari Fajar sangat bertolak belakang?
Haduhh.. apakah urusan cinta itu terlalu sensitif?
Bahkan untuk hal-hal yang mungkin, bisa dikatakan sepele.
Akibat rokok tadi, mereka sempat bertengkar hebat. Bahkan hal-hal yang ngga ada sangkut-pautnya sama rokok pun jadi topik pertengkaran. Ni rokok udah kaya bensin kesamber api. Kena satu langsung nyamber kesemua. Sesensitif itukah urusan rokok-merokok? Atau lagi-lagi, sesentif itu-kah urusan cinta?? Kalo versi gue mah, ANEH..
Semakin aneh lagi nih sama alasannya si Fajar. Dia bilang Laras udah ngga perhatian lagi gara-gara hal rokok tadi. -???-
Sebagai sahabat dari mereka berdua, gue coba deh cari-cari akar masalahnya di mana. Gue coba lihat masalahnya dari sisi logika dan emosional. Bukan gimana-gimana yak! Menurut gue cinta bukan hanya permainan emosi. Cinta juga perlu logika, agar cinta itu bisa berjalan dengan baik dan normal.
Secara logika gue ngga nemuin adanya indikasi kerugian di kubu Fajar. Bahkan kalau pikirannya normal, harusnya si Fajar itu merasa senang! Dia bisa melanjutkan kegiatan rokok-merokoknya tanpa adanya rongrongan dari Laras. Tapi, nyatanya Fajar malah marah. Aneh..
Secara emosional, gue melihat adanya indikasi Fajar selalu ingin diingatkan. Selalu diperhatikan. Meskipun dia suka melanggar aturan-aturan yang dibuat Laras, tapi dia selalu ingat apa yang dilakukan Laras untuknya, dan dia tidak mau kehilangan hal itu.
Nahh..tinggal gue dah yang bingung sendiri. Tapi kenapa gue yang bingung yak? Lhaa..yang pacaran mereka bedua. Lha trus gue? Iyak-lahh..gue khan sahabat mereka berdua. Repotnya mereka hampir selalu curhat(curahan hati) ke gue kalo lagi ada urusan sama yang namanya berantem gara-gara cinta. Aduehh..mau gue kasih saran apa nih bocah bedua. Sulit..!!
Akhirnya dari pada bingung sendiri, mending gue temuin aja deh mereka berdua. Jadi wasit lagi deh gue! Mudah-mudahan di tempat ketemuannya nanti ga ada yang namanya benda-benda tajam yang bisa dilempar atau bisa dipake buat nusuk!
Nah! Lagi-lagi nih, gue keheranan sama yang namanya cinta. Gue temuin tuh mereka berdua. Ehh..gue sama sekali ngga ngeliat mereka marahan dah! Mereka malah udah saling senyum, sayang-sayangan, bahkan udah manja-manjaan di depan gue. Seolah sudah saling memaafkan dan sudah saling melupakan kejadian yang lalu. Makin ga ngerti aja, gue sama yang namanya cinta!
Beres menjadi mediator (yang harusnya tidak perlu!). Gue pergi ke kampus. Ada tugas yang harus gue kumpulin siang ini. Cukup panas Jatinangor hari ini. Sekedar informasi bahwa hari-hari sebelumnya di Jatinangor juga panas. Jadi, sebetulnya informasi ini sungguh tidak penting, hehehee..just to the intermezzo. Kembali lagi, meskipun terik matahari mengganas, itu bukan satu halangan yang berarti buat gue melangkahkan kaki ke kampus. Tentu saja! Gue ga rela-lah bakal dapet nilai jelek gara-gara cuma telat ngumpulin tugas.
Trus terang aja nih. gue juga rada ga rela sama cewe yang barusan nyenggol tas gue dari belakang tanpa minta maaf.. “Buru-buru mau ke mana si mbak? Tenang,, kampus ga akan pergi ke mana-mana.”, gumam gue dalam hati. Tapi, buru-buru juga deh gue hapus itu hujatan jelek. Gue perhatikan langkahnya, ni cewe sepertinya emang lagi buru-buru. Gue perhatiin lagi, dia cukup cantik! Hmm..oke oke dia cewe yang CANTIK tanpa ada kata “cukup” di depannya.
Entah siapa namanya, ni cewe udah jelas-jelas meruntuhkan teori gue tentang perilaku sombong cewe-cewe cantik di kampus ini. Menurut pengamatan gue selama hampir setahun ke belakang ini, banyak sekali ditemukan sampel-sampel adanya keengganan cewe-cewe cantik di kampus dalam hal menggunakan kakinya berjalan dari gerbang kampus ke gedung kuliah.
Tentu saja, semua asumsi ini sudah ditambahkan dengan cewe cantik yang sudah punya pacar, yang kebetulan pacarnya memiliki kendaraan untuk antar-jemput. Serta, keberuntungan cewe-cewe cantik yang kebetulan jomblo, yang kebetulan juga sedang didekati senior yang sudah paham betapa memiliki kendaraan itu begitu penting, terutama dalam hal urusan PDKT. Atau, kelihaian cewe-cewe cantik yang memanja dan meng-iba kepada temen sekelas yang punya kendaraan untuk mengantarkannya ke sana-sini dengan senang hati. Asumsi ini ditambah fakta terjadi keyakinan dikalangan pria-pria di kampus bahwa memboncengi cewe cantik jelas akan mempengaruhi prestise-nya di kampus.
Dan, sesungguhnya asumsi-asumsi itu tidak hanya berlaku terhadap cewe-cewe cantik saja, cewe yang biasa pun bisa melakukannya. Jadi lagi-lagi, ini sungguh informasi yang NGGA PENTING !!
Terkait urusan antar-mengantar, salah satu teman gue, sebut saja namanya Toni. Mahasiswa tingkat dua yang berstatus pacar Intan, mahasiswi tingkat satu. Dengan segala hormat dan tidak adanya niat untuk menjatuhkan kredibilitas Intan sebagai mahasiswi yang ber-IPK 4 kurang nol koma nol empat.
Gue merasa sangat heran sama sikapnya yang lebih meminta dijemput dan diantar Toni ke gerbang kampus hanya untuk memfotokopi bahan kuliah. Padahal di dalam kampus juga banyak kios-kios fotokopi. Karena itu, otomatis deh, Toni yang lagi ngerjain tugas kelompok, yang 30 menit lagi bakal dikumpulin, langsung pamit dan segera menuju TKP (Tempat Kejadian Perkara.red).
“Demi cinta”, ujarnya sebelum bergegas pergi.
Nah di sini baru deh gue mempertanyakan kredibilitas Intan sebagai mahasiswi yang ber-IPK hampir 4. Dia ga mungkin, ga tau jarak antara gedung tempat kuliah di kampus dengan gerbangnya akan menempuh perjalanan hampir 2 kilometer. Tidak mungkin, tidak tau bahwa di dalam kampus pun tidak hanya ada satu kios fotokopi. Dan, ga mungkin, ga tau jika harus ke kampus Toni harus menempuh jarak memutar mengelilingi kampus belakang yang memakan waktu 20 menit perjalanan sebelum sampai ke gedung tempatnya kuliah.
Apakah Intan telah memikirkannya pula?
Gue rasa ngga, tapi yang jelas, “demi cinta” menurut definisi Toni, SUNGGUH ANEH !!
Gue udah hampir sampe gedung fakultas dan ternyata si cewe cantik yang barusan juga satu fakultas! Aheiy..nanti deh dicari infonya tapi, ah! Kecewa. Itu ada cowo yang nemuinnya disimpang jalan depan gedung fakultas. Kayanya mah cowonya.. Baru ketemu udah langsung pegang tangan sih. Wah-wah.. keliatannya mereka lagi ada cek-cok tuh. Keliatan kaya lagi berantem-berantem gitu. Alaahh..paling juga masalah sepele kaya si Laras sama si Fajar atau kaya si Toni sama si Intan.
What-The-Fuck !!
Itu cowo ngegampar itu cewe cantik!
Cowo laknat dari mana dia? Pengecut, GA-PUNYA-ETIKA!!
Jelas-jelas itu cewe baru nyampe, udah main gampar-gampar aja! BEJAT!!
Gue udah siap nolongin tapi baru aja gue masuk langkah pertama, itu cewe cantik udah keburu dibawanya ke tepi jalan dan terus menuju kantin. Pengen diomongin baik-baik kayanya dan semoga aja deh itu cewe cantik baik-baik aja di sana. Kalaupun tidak, semoga ada orang lain yang menolongnya. Gue sangat ingin menolongnya tapi situasi lagi ngga memungkinkan. Gue lagi harus cepet-cepet ke kampus dan menyerahkan ni tugas akhir. Dosen yang satu ini udah paling terkenal tepat waktunya. Kalau ngga sekarang gue kumpulin. Bisa dipastiin nilai gue pasti jatoh. Gue harus cepet-cepet ketemu dia karena sebentar lagi dia akan berangkat keluar kota dan baru akan kembali ke Jatinangor dua minggu kemudian. Itu artinya kalau gue ngga ngumpulin tugas sekarang otomatis gue baru bisa ngumpulin lagi 2 minggu berikutnya dan itu udah pasti melewati batas akhir pengumpulan, hari ini.
Gue emang ngga mau berspekulasi terlibat langsung sama urusan kedua manusia tadi. Tapi gue paling ngga suka sama sikap pengecut tuh cowo. Rasanya gue udah gatel dan pengen ngeberi satu pukulan tepat dihidungnya!
Besoknya di kampus, gue ngga sengaja ketemu mereka lagi. Dari informasi salah satu teman kampus, gue udah tau mereka berpacaran. Aneh! Mereka sama halnya Laras dan Fajar. Sekarang mereka udah (seolah) melupakan kejadian kemarin. Sekarang gue liat mereka lagi mesra-mesraan. Peluk-pelukan. Manja-manjaan.
Lagi-lagi gue keheranan sama yang namanya cinta !!
***
Kalo bisa nebak, silahkan ditebak nanti endingnya seperti apa? Ehehee..
Kerangkanya udah beres, jadi ane udah tau endingnya seperti apa, tapi kalo saran dari kalian bisa lebih bagus kenapa ngga ane terima. Makasih nihh..udah mau nyimak..
Saya posting karya fiksi lagi nihh.. ^_^ ini sebetulnya satu bagian dari beberapa bagian yang belum tau kapan selesainya, ehehee.. mohon saran dan kritiknya aja ah! Wajib..!!
Bab 1
Cinta-cinta.. SUNGGUH ANEH !!
Cinta itu kadang suka aneh yah?
Salah satu keanehannya itu terjadi ketika Laras, sahabat gue cerita tentang Fajar, pacarnya yang marah banget ketika dia udah ngga lagi mengingatkannya akan pentingnya bahaya merokok. Padahal sebelum-sebelumnya pas diingatkan pun Fajar selalu enggan untuk berhenti dari kebiasaannya itu. Menurut Laras, alasan dia berhenti mengingatkan Fajar, ya karena dia sudah pada taraf mengerti akan kekurangan Fajar. Tapi, kenapa respon dari Fajar sangat bertolak belakang?
Haduhh.. apakah urusan cinta itu terlalu sensitif?
Bahkan untuk hal-hal yang mungkin, bisa dikatakan sepele.
Akibat rokok tadi, mereka sempat bertengkar hebat. Bahkan hal-hal yang ngga ada sangkut-pautnya sama rokok pun jadi topik pertengkaran. Ni rokok udah kaya bensin kesamber api. Kena satu langsung nyamber kesemua. Sesensitif itukah urusan rokok-merokok? Atau lagi-lagi, sesentif itu-kah urusan cinta?? Kalo versi gue mah, ANEH..
Semakin aneh lagi nih sama alasannya si Fajar. Dia bilang Laras udah ngga perhatian lagi gara-gara hal rokok tadi. -???-
Sebagai sahabat dari mereka berdua, gue coba deh cari-cari akar masalahnya di mana. Gue coba lihat masalahnya dari sisi logika dan emosional. Bukan gimana-gimana yak! Menurut gue cinta bukan hanya permainan emosi. Cinta juga perlu logika, agar cinta itu bisa berjalan dengan baik dan normal.
Secara logika gue ngga nemuin adanya indikasi kerugian di kubu Fajar. Bahkan kalau pikirannya normal, harusnya si Fajar itu merasa senang! Dia bisa melanjutkan kegiatan rokok-merokoknya tanpa adanya rongrongan dari Laras. Tapi, nyatanya Fajar malah marah. Aneh..
Secara emosional, gue melihat adanya indikasi Fajar selalu ingin diingatkan. Selalu diperhatikan. Meskipun dia suka melanggar aturan-aturan yang dibuat Laras, tapi dia selalu ingat apa yang dilakukan Laras untuknya, dan dia tidak mau kehilangan hal itu.
Nahh..tinggal gue dah yang bingung sendiri. Tapi kenapa gue yang bingung yak? Lhaa..yang pacaran mereka bedua. Lha trus gue? Iyak-lahh..gue khan sahabat mereka berdua. Repotnya mereka hampir selalu curhat(curahan hati) ke gue kalo lagi ada urusan sama yang namanya berantem gara-gara cinta. Aduehh..mau gue kasih saran apa nih bocah bedua. Sulit..!!
Akhirnya dari pada bingung sendiri, mending gue temuin aja deh mereka berdua. Jadi wasit lagi deh gue! Mudah-mudahan di tempat ketemuannya nanti ga ada yang namanya benda-benda tajam yang bisa dilempar atau bisa dipake buat nusuk!
Nah! Lagi-lagi nih, gue keheranan sama yang namanya cinta. Gue temuin tuh mereka berdua. Ehh..gue sama sekali ngga ngeliat mereka marahan dah! Mereka malah udah saling senyum, sayang-sayangan, bahkan udah manja-manjaan di depan gue. Seolah sudah saling memaafkan dan sudah saling melupakan kejadian yang lalu. Makin ga ngerti aja, gue sama yang namanya cinta!
Beres menjadi mediator (yang harusnya tidak perlu!). Gue pergi ke kampus. Ada tugas yang harus gue kumpulin siang ini. Cukup panas Jatinangor hari ini. Sekedar informasi bahwa hari-hari sebelumnya di Jatinangor juga panas. Jadi, sebetulnya informasi ini sungguh tidak penting, hehehee..just to the intermezzo. Kembali lagi, meskipun terik matahari mengganas, itu bukan satu halangan yang berarti buat gue melangkahkan kaki ke kampus. Tentu saja! Gue ga rela-lah bakal dapet nilai jelek gara-gara cuma telat ngumpulin tugas.
Trus terang aja nih. gue juga rada ga rela sama cewe yang barusan nyenggol tas gue dari belakang tanpa minta maaf.. “Buru-buru mau ke mana si mbak? Tenang,, kampus ga akan pergi ke mana-mana.”, gumam gue dalam hati. Tapi, buru-buru juga deh gue hapus itu hujatan jelek. Gue perhatikan langkahnya, ni cewe sepertinya emang lagi buru-buru. Gue perhatiin lagi, dia cukup cantik! Hmm..oke oke dia cewe yang CANTIK tanpa ada kata “cukup” di depannya.
Entah siapa namanya, ni cewe udah jelas-jelas meruntuhkan teori gue tentang perilaku sombong cewe-cewe cantik di kampus ini. Menurut pengamatan gue selama hampir setahun ke belakang ini, banyak sekali ditemukan sampel-sampel adanya keengganan cewe-cewe cantik di kampus dalam hal menggunakan kakinya berjalan dari gerbang kampus ke gedung kuliah.
Tentu saja, semua asumsi ini sudah ditambahkan dengan cewe cantik yang sudah punya pacar, yang kebetulan pacarnya memiliki kendaraan untuk antar-jemput. Serta, keberuntungan cewe-cewe cantik yang kebetulan jomblo, yang kebetulan juga sedang didekati senior yang sudah paham betapa memiliki kendaraan itu begitu penting, terutama dalam hal urusan PDKT. Atau, kelihaian cewe-cewe cantik yang memanja dan meng-iba kepada temen sekelas yang punya kendaraan untuk mengantarkannya ke sana-sini dengan senang hati. Asumsi ini ditambah fakta terjadi keyakinan dikalangan pria-pria di kampus bahwa memboncengi cewe cantik jelas akan mempengaruhi prestise-nya di kampus.
Dan, sesungguhnya asumsi-asumsi itu tidak hanya berlaku terhadap cewe-cewe cantik saja, cewe yang biasa pun bisa melakukannya. Jadi lagi-lagi, ini sungguh informasi yang NGGA PENTING !!
Terkait urusan antar-mengantar, salah satu teman gue, sebut saja namanya Toni. Mahasiswa tingkat dua yang berstatus pacar Intan, mahasiswi tingkat satu. Dengan segala hormat dan tidak adanya niat untuk menjatuhkan kredibilitas Intan sebagai mahasiswi yang ber-IPK 4 kurang nol koma nol empat.
Gue merasa sangat heran sama sikapnya yang lebih meminta dijemput dan diantar Toni ke gerbang kampus hanya untuk memfotokopi bahan kuliah. Padahal di dalam kampus juga banyak kios-kios fotokopi. Karena itu, otomatis deh, Toni yang lagi ngerjain tugas kelompok, yang 30 menit lagi bakal dikumpulin, langsung pamit dan segera menuju TKP (Tempat Kejadian Perkara.red).
“Demi cinta”, ujarnya sebelum bergegas pergi.
Nah di sini baru deh gue mempertanyakan kredibilitas Intan sebagai mahasiswi yang ber-IPK hampir 4. Dia ga mungkin, ga tau jarak antara gedung tempat kuliah di kampus dengan gerbangnya akan menempuh perjalanan hampir 2 kilometer. Tidak mungkin, tidak tau bahwa di dalam kampus pun tidak hanya ada satu kios fotokopi. Dan, ga mungkin, ga tau jika harus ke kampus Toni harus menempuh jarak memutar mengelilingi kampus belakang yang memakan waktu 20 menit perjalanan sebelum sampai ke gedung tempatnya kuliah.
Apakah Intan telah memikirkannya pula?
Gue rasa ngga, tapi yang jelas, “demi cinta” menurut definisi Toni, SUNGGUH ANEH !!
Gue udah hampir sampe gedung fakultas dan ternyata si cewe cantik yang barusan juga satu fakultas! Aheiy..nanti deh dicari infonya tapi, ah! Kecewa. Itu ada cowo yang nemuinnya disimpang jalan depan gedung fakultas. Kayanya mah cowonya.. Baru ketemu udah langsung pegang tangan sih. Wah-wah.. keliatannya mereka lagi ada cek-cok tuh. Keliatan kaya lagi berantem-berantem gitu. Alaahh..paling juga masalah sepele kaya si Laras sama si Fajar atau kaya si Toni sama si Intan.
What-The-Fuck !!
Itu cowo ngegampar itu cewe cantik!
Cowo laknat dari mana dia? Pengecut, GA-PUNYA-ETIKA!!
Jelas-jelas itu cewe baru nyampe, udah main gampar-gampar aja! BEJAT!!
Gue udah siap nolongin tapi baru aja gue masuk langkah pertama, itu cewe cantik udah keburu dibawanya ke tepi jalan dan terus menuju kantin. Pengen diomongin baik-baik kayanya dan semoga aja deh itu cewe cantik baik-baik aja di sana. Kalaupun tidak, semoga ada orang lain yang menolongnya. Gue sangat ingin menolongnya tapi situasi lagi ngga memungkinkan. Gue lagi harus cepet-cepet ke kampus dan menyerahkan ni tugas akhir. Dosen yang satu ini udah paling terkenal tepat waktunya. Kalau ngga sekarang gue kumpulin. Bisa dipastiin nilai gue pasti jatoh. Gue harus cepet-cepet ketemu dia karena sebentar lagi dia akan berangkat keluar kota dan baru akan kembali ke Jatinangor dua minggu kemudian. Itu artinya kalau gue ngga ngumpulin tugas sekarang otomatis gue baru bisa ngumpulin lagi 2 minggu berikutnya dan itu udah pasti melewati batas akhir pengumpulan, hari ini.
Gue emang ngga mau berspekulasi terlibat langsung sama urusan kedua manusia tadi. Tapi gue paling ngga suka sama sikap pengecut tuh cowo. Rasanya gue udah gatel dan pengen ngeberi satu pukulan tepat dihidungnya!
Besoknya di kampus, gue ngga sengaja ketemu mereka lagi. Dari informasi salah satu teman kampus, gue udah tau mereka berpacaran. Aneh! Mereka sama halnya Laras dan Fajar. Sekarang mereka udah (seolah) melupakan kejadian kemarin. Sekarang gue liat mereka lagi mesra-mesraan. Peluk-pelukan. Manja-manjaan.
Lagi-lagi gue keheranan sama yang namanya cinta !!
***
Kalo bisa nebak, silahkan ditebak nanti endingnya seperti apa? Ehehee..
Kerangkanya udah beres, jadi ane udah tau endingnya seperti apa, tapi kalo saran dari kalian bisa lebih bagus kenapa ngga ane terima. Makasih nihh..udah mau nyimak..
Sabtu, 24 Juli 2010
Golongan Pria dan Wanita dalam Kehidupannya
Alhamdulillah bisa ketemu lagii.. Secara tidak disengaja beberapa waktu ini ada satu obrolan yang masih jauh dipikiran dan rencana saya, yaitu obrolan persiapan meningkatkan status, dari taraf berpacaran menjadi hubungan yang dicatat Kantor Urusan Agama a.k.a pernikahan. Satu hal yang belum terpikirkan sebelumnya bagi saya. Hmm..masih ada hal yang ingin saya capai terlebih dahulu sebelum kearah sana. Tapi, tentu bukan hal yang salah juga kalo kita iseng-iseng mendiskusikannya saat ini. Mungkin dari obrolan-obrolan ringan ini bisa diambil banyak pelajaran untuk ke depannya.
Terkait hal tersebut saya jadi mau menambahkan satu posting di blog/notes ini nih, ehehee.. Tadinya saya ingin menulis langsung dari isi kepala saya sendiri, tapi ketika mulai menulisnya saya malah keingetan sama beberapa bagian di salah satu novel. So, saya buka kembali aja bagian-bagian di novel itu dan hampir sama persis dengan apa yang akan saya tulis. Daripada nanti malah menjiplak mending saya tulis ulang aja bagian novel itu. Langsung aja yak! Cek-dis-ot..!!
Golongan Pria dan Wanita dalam Kehidupannya
*Bagian percakapan Gege dengan teman-temannya di saat makan siang*
.....
“Cowok itu pada dasarnya dibagi jadi dua..”
“ah ah, aku tau lah ini. Mereka yang sepanjang lontong dan sependek tahu?” Eman dengan penuh aspirasi bertanya.
“Hhh! Hina!” Tia memandang dengan jijik.
“Pertama adalah mereka yang percaya adanya seorang wanita dalam kehidupan mereka, akan membuat mereka lebih bersemangat meraih cita-cita. Kata mereka,
‘Malu dong sama pacar kalo nganggur.’
‘Malu dong sama dia kalo ga ranking.’
Bagi mereka, kalo nggak pacaran malah kurang motivasi idup. Mereka butuh orang di samping untuk proses kedewasaan mereka.
Mereka ini butuh dihargai dulu sebelum mereka PD menghadapi hidup.
Mereka bilang
‘Liat deh, gue pengen jadi orang yang lebih dewasa karena elo.’
Kedua adalah mereka yang terkesan jomblo seumur idup. Mereka nggak berani pacaran sebelum tua. Mereka bilang,
‘Takut IP-nya ditanya sama orangtua pacar.’
Gua belum punya apa-apa yang bisa dibanggain.’
Mereka memotivasi diri.
Sebenarnya mereka menempa diri mencari penghargaan dalam hidup agar suatu saat bisa PD menghadapi seorang perempuan.Agar suatu saat bisa bilang,
‘ini loh, gua udah mendewasakan diri. Gua yakin kok gua bisa ngebahagiain elo.’
*Bagian percakapan Gege dan Caca*
.....
Gege menghela nafas panjang. Saatnya dia menjelaskan pada wanita yang dia cintai, apa yang selama ini dia lakukan. Gege kemudian menjelaskan dengan panjang lebar teori yang dulu dia pernah kemukakan di makan siang bersama teman-teman.
“menarik”
“wajar ya Ca.. Gege kan udah 27. Mikirnya kalo pacaran, ya untuk nikah,” kali ini Gege memang bertutur terus terang, tentang bagaimana dia memandang perjodohan.
“Pria itu pemimpin keluarga. Tugasnya melindungi, membina, dan mencukupi. Mereka bangga kalo mereka bisa mencukupi istri dan anak.”
“...”
“Contoh paling gampang. Masalah pria dan harta. Kita lihat banyak pria yang bela-belain nikah tua. Mereka itu pengen maksain kalo mereka punya cukup bekal untuk nikah.”
“Tapi kan nggak semua wanita itu matre Ge. Jangan digener...”
“Bukannya kita memandang bahwa wanita itu matre...” Gege segera meneruskan argumennya.
“...tapi justru kita yang menuntut diri kita untuk mampu membiayai hidup anak istri. Sedablek-dableknya pria, nggak ada suami yang pengen ngeliat istri susah kan?”
“...”
“Itu dari materi. Sekarang dari mental. Banyak juga pria yang nggak mau nikah dulu karena mereka mikir, ngurus diri sendiri aja masih nggak disiplin, susah. Gimana mau ngurusin sebuah keluarga coba? Pria kan imam keluarga. Gimana berani jadi imam, kalo sholat juga masih bolong-bolong?”
“...”
“Di saat semua itu sudah siap, baru kita mencari pasangan. Semua pria dalam kadar yang berbeda mencari tempaan ya Ca. Pria itu membutuhkan pencapaian.”
“untuk?”
“Supaya mereka bisa yakin sama diri sendiri. Dan bisa ngeyakinin wanita bahwa dia layak dicintai.
‘Nih liat gue bisa cari duit.’
‘Nih liat, gue dewasa.’
‘Nih liat, gue bisa mimpin keluarga.”
Mereka saling menyandarkan badan. Mereka melihat gelas masing-masing dan saling tenggelam berusaha meresap apa yang baru Gege katakan.
***
Nah! Kalo menurut kalian gimana nih? Atau mau pilih yang mana?? ^_^
Ini saya bukan mau promosi ya, tapi saya emang harus mencantumkan sumbernya.
Sumber; Gege Mengejar Cinta – Adhitya Mulya.
Terkait hal tersebut saya jadi mau menambahkan satu posting di blog/notes ini nih, ehehee.. Tadinya saya ingin menulis langsung dari isi kepala saya sendiri, tapi ketika mulai menulisnya saya malah keingetan sama beberapa bagian di salah satu novel. So, saya buka kembali aja bagian-bagian di novel itu dan hampir sama persis dengan apa yang akan saya tulis. Daripada nanti malah menjiplak mending saya tulis ulang aja bagian novel itu. Langsung aja yak! Cek-dis-ot..!!
Golongan Pria dan Wanita dalam Kehidupannya
*Bagian percakapan Gege dengan teman-temannya di saat makan siang*
.....
“Cowok itu pada dasarnya dibagi jadi dua..”
“ah ah, aku tau lah ini. Mereka yang sepanjang lontong dan sependek tahu?” Eman dengan penuh aspirasi bertanya.
“Hhh! Hina!” Tia memandang dengan jijik.
“Pertama adalah mereka yang percaya adanya seorang wanita dalam kehidupan mereka, akan membuat mereka lebih bersemangat meraih cita-cita. Kata mereka,
‘Malu dong sama pacar kalo nganggur.’
‘Malu dong sama dia kalo ga ranking.’
Bagi mereka, kalo nggak pacaran malah kurang motivasi idup. Mereka butuh orang di samping untuk proses kedewasaan mereka.
Mereka ini butuh dihargai dulu sebelum mereka PD menghadapi hidup.
Mereka bilang
‘Liat deh, gue pengen jadi orang yang lebih dewasa karena elo.’
Kedua adalah mereka yang terkesan jomblo seumur idup. Mereka nggak berani pacaran sebelum tua. Mereka bilang,
‘Takut IP-nya ditanya sama orangtua pacar.’
Gua belum punya apa-apa yang bisa dibanggain.’
Mereka memotivasi diri.
Sebenarnya mereka menempa diri mencari penghargaan dalam hidup agar suatu saat bisa PD menghadapi seorang perempuan.Agar suatu saat bisa bilang,
‘ini loh, gua udah mendewasakan diri. Gua yakin kok gua bisa ngebahagiain elo.’
*Bagian percakapan Gege dan Caca*
.....
Gege menghela nafas panjang. Saatnya dia menjelaskan pada wanita yang dia cintai, apa yang selama ini dia lakukan. Gege kemudian menjelaskan dengan panjang lebar teori yang dulu dia pernah kemukakan di makan siang bersama teman-teman.
“menarik”
“wajar ya Ca.. Gege kan udah 27. Mikirnya kalo pacaran, ya untuk nikah,” kali ini Gege memang bertutur terus terang, tentang bagaimana dia memandang perjodohan.
“Pria itu pemimpin keluarga. Tugasnya melindungi, membina, dan mencukupi. Mereka bangga kalo mereka bisa mencukupi istri dan anak.”
“...”
“Contoh paling gampang. Masalah pria dan harta. Kita lihat banyak pria yang bela-belain nikah tua. Mereka itu pengen maksain kalo mereka punya cukup bekal untuk nikah.”
“Tapi kan nggak semua wanita itu matre Ge. Jangan digener...”
“Bukannya kita memandang bahwa wanita itu matre...” Gege segera meneruskan argumennya.
“...tapi justru kita yang menuntut diri kita untuk mampu membiayai hidup anak istri. Sedablek-dableknya pria, nggak ada suami yang pengen ngeliat istri susah kan?”
“...”
“Itu dari materi. Sekarang dari mental. Banyak juga pria yang nggak mau nikah dulu karena mereka mikir, ngurus diri sendiri aja masih nggak disiplin, susah. Gimana mau ngurusin sebuah keluarga coba? Pria kan imam keluarga. Gimana berani jadi imam, kalo sholat juga masih bolong-bolong?”
“...”
“Di saat semua itu sudah siap, baru kita mencari pasangan. Semua pria dalam kadar yang berbeda mencari tempaan ya Ca. Pria itu membutuhkan pencapaian.”
“untuk?”
“Supaya mereka bisa yakin sama diri sendiri. Dan bisa ngeyakinin wanita bahwa dia layak dicintai.
‘Nih liat gue bisa cari duit.’
‘Nih liat, gue dewasa.’
‘Nih liat, gue bisa mimpin keluarga.”
Mereka saling menyandarkan badan. Mereka melihat gelas masing-masing dan saling tenggelam berusaha meresap apa yang baru Gege katakan.
***
Nah! Kalo menurut kalian gimana nih? Atau mau pilih yang mana?? ^_^
Ini saya bukan mau promosi ya, tapi saya emang harus mencantumkan sumbernya.
Sumber; Gege Mengejar Cinta – Adhitya Mulya.
Selasa, 13 Juli 2010
Tawamu Membuat Saya Senang (Cerpen)
Ole..!!
Akhirnya bs juga muncul kembali nih di dunia pertulis-tulisan. Hmm..tinggal di rumah ternyata lebih banyak godaannya! Dikit-dikit, Kak Yudi..main ini, main itu.. trus kak Yudi..beli ini, beli itu.. ahahaa..tp gapapa, semua itu sungguh menyenangkan dan sekarang, mulai dari senin kemarin semua itu resmi berakhir. Setidaknya dari pagi sampe jam 12 siang. Karena mereka, keponakan-keponakan ane itu udah pada balik ke sekolahnya masing-masing. Aheiy!!
Awalnya ane mw meneruskan hasil percobaan olahan kerangka cerita panjang ane tempo hari tapi ternyata pas udah nulis jadinya malah jadi keluar konten, ahahahaa..dari pada tanggung yawdah ane selesain buat jadi cerpen aj deh. Biar tidak ada kesalahpahaman jadi ane perlu menegaskan bahwa cerita ini adalah FIKSI ^_^. Langsung di-cek aja gan dan jangan lupa dikomentarin yak!! Wajib..!!
Tawamu Membuat Saya Senang

Seperti biasa sehabis bekerja saya mengajak pacar pulang bersama. Seperti biasa saya yang akan menjemputnya. Seperti biasa juga dia, si pacar saya, menunggu di depan kantornya. Tapi, tidak seperti biasa wajah cantik pacar saya berubah jadi kusut seperti itu ketika saya jemput.
“Pasti ada sesuatu”, curiga saya dalam hati.
Oleh karena kusutnya wajah cantik pacar saya, jadi saya harus tau situasi. Bahwa saat ini bukan saat yang tepat buat saya mengatakan, “saya mau menyetrika wajah kusut kamu biar lurus”. Karena bercanda di saat seperti ini, bisa saja menimbulkan tabrakan antar planet atau rusaknya rotasi planet-planet di galaksi Bima Sakti. Sensitifnya pasti masih tinggi.
“Neng beli cartridge dulu ya”, ujar saya kepadanya tapi si-nya masih kusut dan lesu. Dia hanya menjawab singkat dengan mengangguk, “iya”
Sungguh teman, ketika pacar lagi kusut seperti ini rasanya tidak enak. Ingin rasanya segera menyampaikannya ke rumah. Tapii..ah kena macet! Baiklah sepertinya menaikkan kecepatan motor ini adalah alasan yang cukup baik. “Neng pegangan”, ujar saya langsung kebut itu motor!
Saya salip itu semua mobil sepanjang jalan!
Ngesot di tikungan!!
Terabas lampu merah!!
Jemping di depan rumah sakit!!
Turun kek orang gila sepanjang gang!!
ampir nabrak becak di komplek!!
swiiinnggg… akhirnya nyampe juga di rumahnya.
“a, katanya mau beli cartridge?”
--Krik..krik..krik..--
Akhirnya dengan setengah mengulang rute tadi saya berhasil membeli itu cartridge dan kembali sampai di rumah pacar untuk kedua kalinya. Maklum terlalu bersemangat.
Si pacar sudah habis mandi ketika saya datang (lagi) ke rumahnya. Ah, beruntung rasa punya pacar seperti dia. Dikala mandi pun cantiknya tidak luntur oleh air. Bahkan karena mandi badannya malah jadi bersih dan segar. Tapi raut mukanya masih agak kusut jadi menurut saya itu tidak cantik.
Di rumahnya sedang tidak ada orang. Orang tuanya pergi menjenguk saudara yang sedang sakit. Jadi saya dipinta untuk menemaninya. Saya dipersilahkannya duduk di sofa ruang tamu. Dibuatkannya saya segelas orange juice dingin. Diserahkannya itu orange juice dingin ke saya dan dia duduk disamping saya sambil menyandarkan kepalanya dibahu saya. Segar rasanya itu orange juice saya minum. Tapi kurang indah karena yang membuatnya sedang kurang bergairah.
“kenapa?”, saya bertanya dengan hati-hati. Dia lalu cerita. Alaaahhh…nyatanya soal biasa. Masalah kantor yang bikin dia sedih. Bikin dia kesel. “oh, jangan kesel. Justru harusnya kamu harus senang, biar orang yang bikin kamu kesel jadi merasa tidak berhasil bikin kamu kesel. Jangan sedih juga, nanti kita yang rugi..”
“Rugi apa?”
“karena ketika kita lahir orang tua kita senangnya bukan main..” sumpah demi Tuhan, saya sendiri tidak sadar bias berbicara seperti ini.
“hehehe. Iya”, akhirnya dia tertawa.
Tidak lama kemudian hujan datang membawa komplotannya sehingga menjadi deras.
“Neng tau kenapa orang-orang takut kehujanan?”, demi Tuhan, sekali lagi ini keluar secara spontanitas.
“kenapa?”, dia jawab dengan pertanyaan.
“karena hujan datengnya keroyokan”
“hehehee..garing”, ujarnya tapi tetap saja.. meskipun garing dia tetap tertawa. Lanjut.
“Neng tau di dalem matahari itu dingin?”
“lho! Emang gtu?”, sebagai mantan penghuni kelas IPA dia patut keheranan dan beginilah ekspresi jika manusia sedang dilanda kesensitivan tingkat tinggi, mudah tertipu daya.
“khan ada AC-nya neng”
“huuu…garing-garing. Hehehee.”, lagi, meskipun garing tapi dia tetap tertawa. Mungkin tertawanya karena dia merasa ditipu daya kali yah.
“ganti singkatan a!”, nah sekarang dia mulai ikutan, “neng duluan!”, pintanya
“iya”
“Apakah kepanjangan? Singkatan IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS? Jawab a!”
Wah dia sungguh ingin mengetes kemampuan saya, “Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, Pertahanan dan Kemanan Nasional”, jawab saya bersemangat dan bergaya seperti orang pintar saja laga-nya.
“salaahhh..ahahahaa..”, dia tertawa geli sekali. “jawabannya iya betul kepanjangan, ahahahaa..”, dia tertawa lagi. Saya juga tertawa. Tertawa akibat malu. Tadi saya menipu dia, sekarang gantian saya yang kena tipu.
Tidak lama kemudian hujan pun reda. Orang tuanya pun tiba di rumah. Oleh sebab itu kini tugas saya menjaganya akan saya limpahkan kembali ke orang tuanya. Eh! Ini bukan karena saya lelaki yang tidak bertanggung jawab yah. Ini karena memang kami belum menikah. Jadi, masih tanggung jawab orang tua masing-masing.
Saya berpamitan kepada orang tuanya dan dia, si pacar mengantarkan saya ke gerbang rumah.
“lebih baikan khan?”, tanya saya padanya
“iya”, jawab si-nya dengan senyum termanisnya malam ini
“Terima kasih donk..”
“iya, terima kasih ya a”
“...kepada Tuhan”
“iya kepada Tuhan”
“...karena sudah memberikan pacar yang baik”
“hrrk..hrrkk..hrrkk..”, itu suara dia pura-pura ngorok sambil menyandarkan kepalanya dibahu saya.
Saya pamit dan saya pulang dengan senang.
***
Jangan lupa komennya yak!
Akhirnya bs juga muncul kembali nih di dunia pertulis-tulisan. Hmm..tinggal di rumah ternyata lebih banyak godaannya! Dikit-dikit, Kak Yudi..main ini, main itu.. trus kak Yudi..beli ini, beli itu.. ahahaa..tp gapapa, semua itu sungguh menyenangkan dan sekarang, mulai dari senin kemarin semua itu resmi berakhir. Setidaknya dari pagi sampe jam 12 siang. Karena mereka, keponakan-keponakan ane itu udah pada balik ke sekolahnya masing-masing. Aheiy!!
Awalnya ane mw meneruskan hasil percobaan olahan kerangka cerita panjang ane tempo hari tapi ternyata pas udah nulis jadinya malah jadi keluar konten, ahahahaa..dari pada tanggung yawdah ane selesain buat jadi cerpen aj deh. Biar tidak ada kesalahpahaman jadi ane perlu menegaskan bahwa cerita ini adalah FIKSI ^_^. Langsung di-cek aja gan dan jangan lupa dikomentarin yak!! Wajib..!!
Tawamu Membuat Saya Senang

Seperti biasa sehabis bekerja saya mengajak pacar pulang bersama. Seperti biasa saya yang akan menjemputnya. Seperti biasa juga dia, si pacar saya, menunggu di depan kantornya. Tapi, tidak seperti biasa wajah cantik pacar saya berubah jadi kusut seperti itu ketika saya jemput.
“Pasti ada sesuatu”, curiga saya dalam hati.
Oleh karena kusutnya wajah cantik pacar saya, jadi saya harus tau situasi. Bahwa saat ini bukan saat yang tepat buat saya mengatakan, “saya mau menyetrika wajah kusut kamu biar lurus”. Karena bercanda di saat seperti ini, bisa saja menimbulkan tabrakan antar planet atau rusaknya rotasi planet-planet di galaksi Bima Sakti. Sensitifnya pasti masih tinggi.
“Neng beli cartridge dulu ya”, ujar saya kepadanya tapi si-nya masih kusut dan lesu. Dia hanya menjawab singkat dengan mengangguk, “iya”
Sungguh teman, ketika pacar lagi kusut seperti ini rasanya tidak enak. Ingin rasanya segera menyampaikannya ke rumah. Tapii..ah kena macet! Baiklah sepertinya menaikkan kecepatan motor ini adalah alasan yang cukup baik. “Neng pegangan”, ujar saya langsung kebut itu motor!
Saya salip itu semua mobil sepanjang jalan!
Ngesot di tikungan!!
Terabas lampu merah!!
Jemping di depan rumah sakit!!
Turun kek orang gila sepanjang gang!!
ampir nabrak becak di komplek!!
swiiinnggg… akhirnya nyampe juga di rumahnya.
“a, katanya mau beli cartridge?”
--Krik..krik..krik..--
Akhirnya dengan setengah mengulang rute tadi saya berhasil membeli itu cartridge dan kembali sampai di rumah pacar untuk kedua kalinya. Maklum terlalu bersemangat.
Si pacar sudah habis mandi ketika saya datang (lagi) ke rumahnya. Ah, beruntung rasa punya pacar seperti dia. Dikala mandi pun cantiknya tidak luntur oleh air. Bahkan karena mandi badannya malah jadi bersih dan segar. Tapi raut mukanya masih agak kusut jadi menurut saya itu tidak cantik.
Di rumahnya sedang tidak ada orang. Orang tuanya pergi menjenguk saudara yang sedang sakit. Jadi saya dipinta untuk menemaninya. Saya dipersilahkannya duduk di sofa ruang tamu. Dibuatkannya saya segelas orange juice dingin. Diserahkannya itu orange juice dingin ke saya dan dia duduk disamping saya sambil menyandarkan kepalanya dibahu saya. Segar rasanya itu orange juice saya minum. Tapi kurang indah karena yang membuatnya sedang kurang bergairah.
“kenapa?”, saya bertanya dengan hati-hati. Dia lalu cerita. Alaaahhh…nyatanya soal biasa. Masalah kantor yang bikin dia sedih. Bikin dia kesel. “oh, jangan kesel. Justru harusnya kamu harus senang, biar orang yang bikin kamu kesel jadi merasa tidak berhasil bikin kamu kesel. Jangan sedih juga, nanti kita yang rugi..”
“Rugi apa?”
“karena ketika kita lahir orang tua kita senangnya bukan main..” sumpah demi Tuhan, saya sendiri tidak sadar bias berbicara seperti ini.
“hehehe. Iya”, akhirnya dia tertawa.
Tidak lama kemudian hujan datang membawa komplotannya sehingga menjadi deras.
“Neng tau kenapa orang-orang takut kehujanan?”, demi Tuhan, sekali lagi ini keluar secara spontanitas.
“kenapa?”, dia jawab dengan pertanyaan.
“karena hujan datengnya keroyokan”
“hehehee..garing”, ujarnya tapi tetap saja.. meskipun garing dia tetap tertawa. Lanjut.
“Neng tau di dalem matahari itu dingin?”
“lho! Emang gtu?”, sebagai mantan penghuni kelas IPA dia patut keheranan dan beginilah ekspresi jika manusia sedang dilanda kesensitivan tingkat tinggi, mudah tertipu daya.
“khan ada AC-nya neng”
“huuu…garing-garing. Hehehee.”, lagi, meskipun garing tapi dia tetap tertawa. Mungkin tertawanya karena dia merasa ditipu daya kali yah.
“ganti singkatan a!”, nah sekarang dia mulai ikutan, “neng duluan!”, pintanya
“iya”
“Apakah kepanjangan? Singkatan IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS? Jawab a!”
Wah dia sungguh ingin mengetes kemampuan saya, “Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, Pertahanan dan Kemanan Nasional”, jawab saya bersemangat dan bergaya seperti orang pintar saja laga-nya.
“salaahhh..ahahahaa..”, dia tertawa geli sekali. “jawabannya iya betul kepanjangan, ahahahaa..”, dia tertawa lagi. Saya juga tertawa. Tertawa akibat malu. Tadi saya menipu dia, sekarang gantian saya yang kena tipu.
Tidak lama kemudian hujan pun reda. Orang tuanya pun tiba di rumah. Oleh sebab itu kini tugas saya menjaganya akan saya limpahkan kembali ke orang tuanya. Eh! Ini bukan karena saya lelaki yang tidak bertanggung jawab yah. Ini karena memang kami belum menikah. Jadi, masih tanggung jawab orang tua masing-masing.
Saya berpamitan kepada orang tuanya dan dia, si pacar mengantarkan saya ke gerbang rumah.
“lebih baikan khan?”, tanya saya padanya
“iya”, jawab si-nya dengan senyum termanisnya malam ini
“Terima kasih donk..”
“iya, terima kasih ya a”
“...kepada Tuhan”
“iya kepada Tuhan”
“...karena sudah memberikan pacar yang baik”
“hrrk..hrrkk..hrrkk..”, itu suara dia pura-pura ngorok sambil menyandarkan kepalanya dibahu saya.
Saya pamit dan saya pulang dengan senang.
***
Jangan lupa komennya yak!
Sabtu, 26 Juni 2010
Survey Wanita Indonesia dan Celana Dalam
Sebelumnya mohon maaf bila ada sebagian manusia di muka bumi ini yang merasa tersinggung atas servey ini. So, langsung aja, check T-K-P..
Survey Wanita Indonesia dan Celana Dalam
Pada suatu waktu ada 2 orang penjual celana dalam yang bernama Paiman dan Paijo yang sedang meributkan daganganya.
Paiman: "Kamu percaya enggak kalo 99% wanita di Indonesia tidak memakai celana dalam?"
Paijo: "Ahhhhh… tidak mungkin."
Paiman: "Mau bukti?"

Sambil menawarkan dagangannya Paimen lalu membuktikan asumsinya dengan bertanya kepada setiap wanita yang lewat di depannya.
"Mbak, pakai celana dalam nggak mbak?", ujar Paiman sambil menunjukan CD berwarna pink.
Diluar dugaan sang wanita pertama menjawab seperti ini, "Ahhh… kemarin khan sudah!".
"Mbak, pakai celana dalam nggak mbak?", ujar Paiman sambil menunjukan CD berwarna Ungu
"Ahhh… enggak-enggak!", jawab wanita kedua.
"Mbak, pakai celana dalam nggak mbak?", ujar Paiman sambil mengangkat kedua tangannya yang memegang CD berwarna Pink dan Ungu.
"Enggak mas… lain kali saja!!", jawab wanita ketiga.
Benar apa yang dikatan Paiman. Ternyata 99% wanita Indonesia tidak memakai celana dalam bahkan wanitanya pun menolak ketika ditawarkan celana dalam baru. ^_^
Survey ini dibuat hanya untuk kepentingan hiburan semata. So, terhibur ga nih? ^_^
sumber; http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4513218
Survey Wanita Indonesia dan Celana Dalam
Pada suatu waktu ada 2 orang penjual celana dalam yang bernama Paiman dan Paijo yang sedang meributkan daganganya.
Paiman: "Kamu percaya enggak kalo 99% wanita di Indonesia tidak memakai celana dalam?"
Paijo: "Ahhhhh… tidak mungkin."
Paiman: "Mau bukti?"

Sambil menawarkan dagangannya Paimen lalu membuktikan asumsinya dengan bertanya kepada setiap wanita yang lewat di depannya.
"Mbak, pakai celana dalam nggak mbak?", ujar Paiman sambil menunjukan CD berwarna pink.
Diluar dugaan sang wanita pertama menjawab seperti ini, "Ahhh… kemarin khan sudah!".
"Mbak, pakai celana dalam nggak mbak?", ujar Paiman sambil menunjukan CD berwarna Ungu
"Ahhh… enggak-enggak!", jawab wanita kedua.
"Mbak, pakai celana dalam nggak mbak?", ujar Paiman sambil mengangkat kedua tangannya yang memegang CD berwarna Pink dan Ungu.
"Enggak mas… lain kali saja!!", jawab wanita ketiga.
Benar apa yang dikatan Paiman. Ternyata 99% wanita Indonesia tidak memakai celana dalam bahkan wanitanya pun menolak ketika ditawarkan celana dalam baru. ^_^
Survey ini dibuat hanya untuk kepentingan hiburan semata. So, terhibur ga nih? ^_^
sumber; http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4513218
Kamis, 03 Juni 2010
Yuk kita Share (Skripsi)
Salamlikuuumm..
Harus dijawab yak! Ga dijawab hukumnya langsung vonis “DOSA”, hahahahaa..
Apa kabar nih agan-agan? Baik-baikkah?? Atau malah lebih dari baik?? ^_^
Ane harap sii jawabannya hanya sekitar itu-itu aja yak! Ane ga mau deh denger kabar agan selain itu tapii kalopun memang keadaannya berbeda, ane doain semoga cepet-cepet baik gan!
Huh! Sebulanan nih ane ga posting-posting. Sungguh tidak produktif !!
Tadinya ane mau posting tentang Palestina dan Israel tapi ternyata buku ane yang History of Arab karangan Philip K. Hitti lagi ga ada di tempatnya.. Jadi aja susah nyari sumbernya. Hah!
Baiklah gan!
Nih sekarang ane juga punya sesuatu yang mau di-share ma kalian. Ini berkaitan sama tugas akhir ane selaku pemangku tahta civitas akademik strata satu, atau yang lebih simpelnya disebut dengan SKRIPSI. hehee.. Biarlah terdengar to much, yang penting kalian tau maksud saya.
Skripsi kalo disimak lebih jauh bisa memiliki tafsir yang berbeda-beda. Ada yang menganggap skripsi adalah sebuah kewajiban yang menyulitkan. Trus ada juga yang menganggap ni tugas akhir biasa aja layaknya tugas-tugas sebelumnya pas masa perkuliahan.
Btw, ane bukan mau bahas masalah tafsir-menafsir skripsi nihh.. Di mari justru ane mau share sedikit tips yang mungkin bisa membantu menghilangkan kejenuhan, stagnant idea, atau terlelap dalam kemalasan. Bagi yang udah pernah skripsian, yuk! Mari deh kita sharing-sharing di marii.. sapa tau bisa bantu-bantu yang lagi jalan skripsi.
Oke, ini share-an dari ane untuk mengurangi menghilangkan masalah kejenuhan, stagnant idea, dan rasa malas yang mendalam saat mengerjakan skripsi:
Pertama, skripsi memang tugas akhir perseorangan tapi bukan berarti tidak bisa dikerjakan bersama-sama. Waktu skripsian kemaren, ane sama beberapa temen ane yang sejurusan ngeluarin ide kaya gitu tuh. Skripsi masing-masing tapi dikerjainnya bareng-bareng.
Nih ane kasih tau kronologisnya. Jadi, ane sama temen-temen sering kumpul di satu tempat yang emang kita udah tentuin (untuk informasi; rata-rata tempat kumpul ane kemaren ga jauh dari yang namanya mall, hehee..). Trus pas kumpul itu kita-kita presentasi dah tentang progress report skripsi masing-masing. Abis itu kita diskusiin, setiap ada yang abis presentasi. Kira-kira progress report-nya gimana? Kalo ada yang perlu disaranin kita ga sungkan-sungkan tuh buat ngasih masukan. Tapi, namanya juga sederajat ya, sama-sama sedang skripsi/mahasiswa dan bukan dosen, jadi kadang kita suka tuh yang namanya debat mempertahankan dan mematahkan teori-teori.. biasalah, sama-sama ngerasa bener. Padahal mah pas bimbingan ke dosen belum tentu dibenerin jg. ^_^

Dari pertemuan-pertemuan itu ane dapet poin pentingnya gan! Gara-gara ngerjain bareng-bareng gtu ane kadang dapet banyak pencerahan tentang skripsi ane. Trus suka juga muncul ide-ide baru yang sebelumnya ga kepikiran dan paling penting gan, ini nih bisa mengurangi kesalahan sepele yang sebetulnya kita tau salah tapi ga sengaja kita lakuin juga –misalkan kaya salah ngetik atau salah nentuin redaksi kata (mungkin karena saking konsentrasi sama isinya kali ya jadi kadang otak sama tangan suka ga sinkron. Otak loncatnya kemana? Tangan ngetiknya kemana?). Jadi pas bimbingan sama dosen ga ada lagi dah tuh diomelin cuma gara-gara hal sepele, kalaupun masih ada yaa kuantitasnya ga begitu banyak.
Poin penting lainnya. Gara-gara suka debat mempertahankan dan mematahkan argumen ini-itu, ane cukup terbiasa tuh ngobrol sana-sini sama pembimbing, sampe ane dapet julukan si anak pembangkang dari pembimbing, hihii..bagusnya cuma satu dosen aja. Trus gara-gara sering presentasi, meskipun dihadapan temen-temen sendiri, ane jadi cukup terbiasa tuh ngomong di depan orang-orang. Lumayan banget gan buat latihan presentasi di hadapan penguji pas sidang nanti. Karena terbiasa, grogi lumayan berkuranglah. Ya ane tau grogi tuh hal paling haram kalo pas sidang tapi ya namanya juga manusia biasa gan, wajarlah grogi-grogi dikit, yang penting khan bisa mengatasinya.
Kedua, ini nih berkaitan sama yang namanya kegiatan yang kita suka versus ngerjain skripsi. Kalo saran ane mah, jangan ditinggalin deh tuh kegiatan yang disukai cuma gara-gara skripsi. Emang si gan, kita perlu waktu ekstra buat ngerjain nih tugas akhir, kita perlu ngubek-ngubek data, bolak balik perpus, nyari buku ini-itu. Gara-gara sibuk ini-itu malah kadang ada juga orang yang sampe berkomitmen ga ngelakuin lainnya sampe skripsinya beres.
Huah! Kalo menurut ane mah justru pas kita ninggalin kegiatan yang disukai itu tuh justru malah mengundang rasa jenuh datang gan.. emangnya otak kaga bakal jijik apa tuh ngadepin skripsi tiap hari? Ane mah ogah dah! Kalo pendapat ane si dua hal itu bisa jalan bareng-bareng, tinggal kitanya aja ngatur-ngaturnya gimana. *Kegiatan yang ane maksud bebas yak, bisa main, bisa organisasi atau apapunlah yang penting agan suka lakuin..
Kenapa si gan kegiatan itu jangan ditinggalin sepenuhnya? Gini gan, selain untuk mengurangi kejenuhan, Ini tuh dilakuin buat ngakalin psikologis agan-agan biar itu beban skripsi bisa lebih ringan dijalankan..
Kadang jenuh itu tuh lahir akibat kita mengeksklusifkan skripsi sebagai kegiatan utama kita gan.
Eh iya, ane dulu kumpul-kumpul kaya gini juga ga disengaja gan. Gagasan ini muncul akibat kita-kita yang dapet pembimbing super sibuk ngakalin gimana caranya biar pas bimbingan bisa efisien waktu dan hati. Hati gan.. kudu diperhatiin nih! Ga enak khan udah dapet pembimbing killer, waktu bimbingannya susah eh pas bimbingan dikasih omongan yang nusuk tepat di hati, hmm..pasti ga enak dah. Oleh karena itu dah muncul ide ini. O iya trus pas bimbingan kita juga suka ngerekam perkataan dosen pas bimbingan gan! Agar nanti kalo lupa bisa diputer lagi deh kata-kata pembimbing pas bimbingan apa aja. Ini juga buat ngakalin pembimbing yang suka ga konsisten, kemaren dia ngomong gini trus besok dia ngomong gtu. Nahh..karena ada rekamannya, kita jadi punya pertahanan bagus deh tuh..
Tapi perlu diinget juga ya gan, kita ini cuma manusia biasa yang kadang sering melakukan kesalahan. Punya pertahanan bagus, bukan berarti kita menutup mata dan telinga saran-saran bagus yang diberikan dosen pembimbing atau malah penguji kepada kita. Dengarkan baik-baik saran mereka gan trus dipikirkan apakah saran mereka itu cocok sama kajian skripsi kita dan yang paling penting pertimbangkan apa kita sanggup mengerjakan saran-saran itu. Kalo sarannya bagus trus cocok sama pembahasan dan sanggup dilakuin, ambil aja gan! Trus kalo ga sanggup, ga usah maksa ngerjain gan. Ntar malah berantakan lagi, resiko buruknya, bisa bikin jalan skripsi yang tersusun rapi jadi berubah arah. Repot lagi deh agannya..
O iya, mumpung masih inget. Ane punya kejadian unik nih. Jadi, pas seminggu sebelum sidang ane iseng-iseng main ke perpus trus liat-liat skripsi yang pembimbing utamanya itu penguji ane. Hasilnya secara ga sengaja ane jadi tau gan, bahwa setiap pembimbing itu punya ciri khas masing-masing ternyata. Ada skripsi yang dosen pembimbingnya itu lebih efektif/langsung menuju poin/tidak bertele-tele dan pas jadi penguji ya seperti itu juga gan. Ada juga yang sangat teliti soal pemakaian teori-teori dan pas jadi penguji juga dia teliti banget soal teori siapa yang kita gunain.
Trus ada lagi gan! Ane secara ga sengaja ketemu sama penguji ane beberapa hari sebelum sidang. Ane berani-beraniin tuh ngobrol-ngobrol sama dia, nanya ini-itu sama dia, dan hasilnya gan, ane diuji sama dia berasa ngobrol-ngobrol biasa aja. ihihihiii… syukur alhamdulillah itu gaaannn! dan lebih bersyukurnya lagi gan, ane sama temen-temen kumpulan itu lulusnya barengan.. so, wisudanya juga bareng.. ^_^

Nahh..dari ane cukup sekian deh.. Sisanya agan-agan dunk share di marii..
Buat agan-agan yang udah nyimak makasih yak!
Maaph rada panjang gan. Salam damai deh untuk kita semua.. ^_^
Harus dijawab yak! Ga dijawab hukumnya langsung vonis “DOSA”, hahahahaa..
Apa kabar nih agan-agan? Baik-baikkah?? Atau malah lebih dari baik?? ^_^
Ane harap sii jawabannya hanya sekitar itu-itu aja yak! Ane ga mau deh denger kabar agan selain itu tapii kalopun memang keadaannya berbeda, ane doain semoga cepet-cepet baik gan!
Huh! Sebulanan nih ane ga posting-posting. Sungguh tidak produktif !!
Tadinya ane mau posting tentang Palestina dan Israel tapi ternyata buku ane yang History of Arab karangan Philip K. Hitti lagi ga ada di tempatnya.. Jadi aja susah nyari sumbernya. Hah!
Baiklah gan!
Nih sekarang ane juga punya sesuatu yang mau di-share ma kalian. Ini berkaitan sama tugas akhir ane selaku pemangku tahta civitas akademik strata satu, atau yang lebih simpelnya disebut dengan SKRIPSI. hehee.. Biarlah terdengar to much, yang penting kalian tau maksud saya.
Skripsi kalo disimak lebih jauh bisa memiliki tafsir yang berbeda-beda. Ada yang menganggap skripsi adalah sebuah kewajiban yang menyulitkan. Trus ada juga yang menganggap ni tugas akhir biasa aja layaknya tugas-tugas sebelumnya pas masa perkuliahan.
Btw, ane bukan mau bahas masalah tafsir-menafsir skripsi nihh.. Di mari justru ane mau share sedikit tips yang mungkin bisa membantu menghilangkan kejenuhan, stagnant idea, atau terlelap dalam kemalasan. Bagi yang udah pernah skripsian, yuk! Mari deh kita sharing-sharing di marii.. sapa tau bisa bantu-bantu yang lagi jalan skripsi.
Oke, ini share-an dari ane untuk mengurangi menghilangkan masalah kejenuhan, stagnant idea, dan rasa malas yang mendalam saat mengerjakan skripsi:
Pertama, skripsi memang tugas akhir perseorangan tapi bukan berarti tidak bisa dikerjakan bersama-sama. Waktu skripsian kemaren, ane sama beberapa temen ane yang sejurusan ngeluarin ide kaya gitu tuh. Skripsi masing-masing tapi dikerjainnya bareng-bareng.
Nih ane kasih tau kronologisnya. Jadi, ane sama temen-temen sering kumpul di satu tempat yang emang kita udah tentuin (untuk informasi; rata-rata tempat kumpul ane kemaren ga jauh dari yang namanya mall, hehee..). Trus pas kumpul itu kita-kita presentasi dah tentang progress report skripsi masing-masing. Abis itu kita diskusiin, setiap ada yang abis presentasi. Kira-kira progress report-nya gimana? Kalo ada yang perlu disaranin kita ga sungkan-sungkan tuh buat ngasih masukan. Tapi, namanya juga sederajat ya, sama-sama sedang skripsi/mahasiswa dan bukan dosen, jadi kadang kita suka tuh yang namanya debat mempertahankan dan mematahkan teori-teori.. biasalah, sama-sama ngerasa bener. Padahal mah pas bimbingan ke dosen belum tentu dibenerin jg. ^_^

Dari pertemuan-pertemuan itu ane dapet poin pentingnya gan! Gara-gara ngerjain bareng-bareng gtu ane kadang dapet banyak pencerahan tentang skripsi ane. Trus suka juga muncul ide-ide baru yang sebelumnya ga kepikiran dan paling penting gan, ini nih bisa mengurangi kesalahan sepele yang sebetulnya kita tau salah tapi ga sengaja kita lakuin juga –misalkan kaya salah ngetik atau salah nentuin redaksi kata (mungkin karena saking konsentrasi sama isinya kali ya jadi kadang otak sama tangan suka ga sinkron. Otak loncatnya kemana? Tangan ngetiknya kemana?). Jadi pas bimbingan sama dosen ga ada lagi dah tuh diomelin cuma gara-gara hal sepele, kalaupun masih ada yaa kuantitasnya ga begitu banyak.
Poin penting lainnya. Gara-gara suka debat mempertahankan dan mematahkan argumen ini-itu, ane cukup terbiasa tuh ngobrol sana-sini sama pembimbing, sampe ane dapet julukan si anak pembangkang dari pembimbing, hihii..bagusnya cuma satu dosen aja. Trus gara-gara sering presentasi, meskipun dihadapan temen-temen sendiri, ane jadi cukup terbiasa tuh ngomong di depan orang-orang. Lumayan banget gan buat latihan presentasi di hadapan penguji pas sidang nanti. Karena terbiasa, grogi lumayan berkuranglah. Ya ane tau grogi tuh hal paling haram kalo pas sidang tapi ya namanya juga manusia biasa gan, wajarlah grogi-grogi dikit, yang penting khan bisa mengatasinya.
Kedua, ini nih berkaitan sama yang namanya kegiatan yang kita suka versus ngerjain skripsi. Kalo saran ane mah, jangan ditinggalin deh tuh kegiatan yang disukai cuma gara-gara skripsi. Emang si gan, kita perlu waktu ekstra buat ngerjain nih tugas akhir, kita perlu ngubek-ngubek data, bolak balik perpus, nyari buku ini-itu. Gara-gara sibuk ini-itu malah kadang ada juga orang yang sampe berkomitmen ga ngelakuin lainnya sampe skripsinya beres.
Huah! Kalo menurut ane mah justru pas kita ninggalin kegiatan yang disukai itu tuh justru malah mengundang rasa jenuh datang gan.. emangnya otak kaga bakal jijik apa tuh ngadepin skripsi tiap hari? Ane mah ogah dah! Kalo pendapat ane si dua hal itu bisa jalan bareng-bareng, tinggal kitanya aja ngatur-ngaturnya gimana. *Kegiatan yang ane maksud bebas yak, bisa main, bisa organisasi atau apapunlah yang penting agan suka lakuin..
Kenapa si gan kegiatan itu jangan ditinggalin sepenuhnya? Gini gan, selain untuk mengurangi kejenuhan, Ini tuh dilakuin buat ngakalin psikologis agan-agan biar itu beban skripsi bisa lebih ringan dijalankan..
Kadang jenuh itu tuh lahir akibat kita mengeksklusifkan skripsi sebagai kegiatan utama kita gan.
Eh iya, ane dulu kumpul-kumpul kaya gini juga ga disengaja gan. Gagasan ini muncul akibat kita-kita yang dapet pembimbing super sibuk ngakalin gimana caranya biar pas bimbingan bisa efisien waktu dan hati. Hati gan.. kudu diperhatiin nih! Ga enak khan udah dapet pembimbing killer, waktu bimbingannya susah eh pas bimbingan dikasih omongan yang nusuk tepat di hati, hmm..pasti ga enak dah. Oleh karena itu dah muncul ide ini. O iya trus pas bimbingan kita juga suka ngerekam perkataan dosen pas bimbingan gan! Agar nanti kalo lupa bisa diputer lagi deh kata-kata pembimbing pas bimbingan apa aja. Ini juga buat ngakalin pembimbing yang suka ga konsisten, kemaren dia ngomong gini trus besok dia ngomong gtu. Nahh..karena ada rekamannya, kita jadi punya pertahanan bagus deh tuh..
Tapi perlu diinget juga ya gan, kita ini cuma manusia biasa yang kadang sering melakukan kesalahan. Punya pertahanan bagus, bukan berarti kita menutup mata dan telinga saran-saran bagus yang diberikan dosen pembimbing atau malah penguji kepada kita. Dengarkan baik-baik saran mereka gan trus dipikirkan apakah saran mereka itu cocok sama kajian skripsi kita dan yang paling penting pertimbangkan apa kita sanggup mengerjakan saran-saran itu. Kalo sarannya bagus trus cocok sama pembahasan dan sanggup dilakuin, ambil aja gan! Trus kalo ga sanggup, ga usah maksa ngerjain gan. Ntar malah berantakan lagi, resiko buruknya, bisa bikin jalan skripsi yang tersusun rapi jadi berubah arah. Repot lagi deh agannya..
O iya, mumpung masih inget. Ane punya kejadian unik nih. Jadi, pas seminggu sebelum sidang ane iseng-iseng main ke perpus trus liat-liat skripsi yang pembimbing utamanya itu penguji ane. Hasilnya secara ga sengaja ane jadi tau gan, bahwa setiap pembimbing itu punya ciri khas masing-masing ternyata. Ada skripsi yang dosen pembimbingnya itu lebih efektif/langsung menuju poin/tidak bertele-tele dan pas jadi penguji ya seperti itu juga gan. Ada juga yang sangat teliti soal pemakaian teori-teori dan pas jadi penguji juga dia teliti banget soal teori siapa yang kita gunain.
Trus ada lagi gan! Ane secara ga sengaja ketemu sama penguji ane beberapa hari sebelum sidang. Ane berani-beraniin tuh ngobrol-ngobrol sama dia, nanya ini-itu sama dia, dan hasilnya gan, ane diuji sama dia berasa ngobrol-ngobrol biasa aja. ihihihiii… syukur alhamdulillah itu gaaannn! dan lebih bersyukurnya lagi gan, ane sama temen-temen kumpulan itu lulusnya barengan.. so, wisudanya juga bareng.. ^_^

Nahh..dari ane cukup sekian deh.. Sisanya agan-agan dunk share di marii..
Buat agan-agan yang udah nyimak makasih yak!
Maaph rada panjang gan. Salam damai deh untuk kita semua.. ^_^
Kamis, 22 April 2010
Surat ke-18 (Surat Cinta Terakhir)
Haii..saya Upin, dan ini adik saya Ipin.. lho-lho-lhoo..kenapa jadi itu? Aiihh.. sorry yak! Ehehehee.. Ok ok, langsung aja deh keintinya. Ini gan ane posting-in surat cinta lagi, tapi ni surat cinta beda dari edisi-edisi terdahulu. Kalo kemaren-kemarenkan rada komedian tuh! Nahh..kali ini tema kita ganti jadi metal (melankolis total), biar seimbang gan..
Oh iya, ini surat cinta bukan asli bikinan ane yak (sumber liat di akhir tulisan).
Oke deh! Langsung ke TKP aja gan! Eh tapi maaph juga yak! Rada panjang suratnya. Moga-moga aja betah bacanya yak ^_^
Surat ke-18 (Surat Cinta Terakhir)
Dear Cantik,
Ini adalah surat ke-18 yang aku kirim untukmu. Entahlah, apa kamu menghitungnya atau tidak? Namun, aku selalu berharap kamu membacanya, meskipun setelahnya, mungkin, surat-suratku itu kamu buang.
Tadi siang, aku melihat matamu sembab. Sinar matamu terlihat redup dan tidak lagi memancarkan gairah hidupmu yang membara. Senyummu pun tak banyak kau umbar. Senyum itu hanya muncul ketika kamu menatap wajah orang-orang yang menyapamu.
Aku sedih melihatmu seperti itu. Hatiku sakit. Otakku pun tak henti berpikir. Ada apa dengamu? Andai saja aku tahu masalahmu, aku pasti membantumu. Tidak peduli apa pun yang harus aku korbankan. Aku rela melakukannya. Namun itu semua sulit terjadi. Aku sama sekali tidak tahu masalah apa yang sedang kau hadapi kali ini. Kamu pun tak mungkin bercerita padaku, karena kamu tak tahu siapa aku sebenarnya.
Ya, kamu boleh sebut aku pengecut karena tak mau menampakkan batang hidungku dihadapanmu. Tapi, ada yang harus kamu ketahui. Aku seperti ini karena aku bukanlah laki-laki yang kau harapkan. Jika kita bertemu dan saling mengenal. Cepat atau lambat. Aku pasti akan mengecewakanmu. Aku juga tahu, surat-surat yang selalu aku kirim selama ini telah membuatmu mulai menyukaiku atau lebih tepatnya, menyukai tulisan dalam surat-suratku dan kamu mulai mencari tahu siapa aku.
Aku sangat mengenalmu, Cantik. Bahkan, aku lebih mengenalmu daripada aku mengenal diriku sendiri. Memang terdengar sedikit ekstrim, tapi itu semua benar karena aku begitu memujamu. Aku bukan hanya memujamu, melainkan juga menyayangimu. Menyayangimu melebihi aku menyayangi diriku sendiri. Karena itu, aku melakukan apa saja yang aku bisa lakukan untuk membantumu walau tanpa sepengetahuanmu.
Kamu memang tidak mengenalku meskipun aku sangat mengenalmu. Walaupun begitu, kita memiliki banyak kenangan yang mungkin tidak pernah dimiliki orang lain, selain kita berdua. Kamu ingat, ketika buku catatan berisi curahan hatimu yang sudah kamu isi sejak SMP terjatuh ke dalam selokan besar di belakang kampus? Saat itu, kamu hanya bisa menatap sedih dan berusaha menahan air mata yang hampir keluar dari matamu yang indah. Kamu langsung pulang ke rumah. Padahal masih ada satu mata kuliah yang harus kamu ikuti waktu itu.
Aku yang tidak tahan melihat kesedihan di wajahmu langsung membenamkan kakiku ke dalam selokan itu. Aku meraba-raba ke dalam dasarnya, berusaha mencari buku tebal berwarna hijau tua itu. Aku memang cukup lama berada di dalam selokan itu karena bukumu tak juga ditemukan. Beberapa orang yang melihatku mengira aku sedang depresi, tapi aku tidak peduli sama sekali. Kususuri selokan yang panjang itu tanpa menghiraukan pakaianku yang kotor karena air selokan yang bercampur dengan lumpur. Sampai akhirnya, dengan perjuangan yang cukup melelahkan, kutemukan buku kesayanganmu itu.
Di rumah, kukeringkan lembar demi lembar ratusan kertas bukumu menggunakan pengering rambut. Aku lakukan dengan hati-hati agar tidak robek. Butuh waktu berjam-jam untuk membuatnya benar-benar kering. Peluhku pun jatuh tak terelakan lagi, tapi aku benar-benar tulus melakukannya. Aku bahagia bisa melakukannya untukmu karena aku selalu ingin melakukan sesuatu yang berarti untukmu.
Keesokan harinya, tepat pukul enam lewat dua puluh menit, aku sudah sampai di depan rumahmu. Buku hijaumu kubungkus rapi dengan bungkus kado bercorak bunga Anggrek dan kurekatkan amplop kecil berisi kertas bertuliskan: “Untuk Reyna. Jangan ceroboh lagi!”.
Amplop itu kuletakkan di depan pintu rumahmu. Lalu, aku menekan bel rumahmu dan langsung berlari ke belakang pohon beringin yang ada di seberangnya. Beberapa detik kemudian, ibumu keluar dan mengambil bingkisan itu. Selang satu menit kemudian, aku mendengar sayup-sayup teriakan bahagiamu. Lega aku mendengarnya, hanya itu yang ingin kudengar darimu dan aku berhasil. Saat itu, aku terus mengucap syukur kepada Tuhan.
Cantik, seberapa besar masalahmu kali ini, tolong untuk selalu ingat pesanku yang pernah kutulis pada surat kesembilan: “Sempatkanlah untuk tertawa dalam satu hari meskipun cuma sedikit. Dengan demikian, energi positif akan mengalir dalam tubuhmu dan akan membuat jiwa dan pikiranmu lebih tenang. Kamu pun akan lebih siap mengatasi segala masalah dengan baik”. Aku masih ingat kejadian yang kau alami waktu itu. Dengan mata kepalamu sendiri, kamu melihat laki-laki yang sudah menjadi pacarmu selama satu setengah tahun merangkul mesra seorang wanita bertubuh tinggi, berhidung mancung. Saat itu, kamu menangis di pelukan sahabatmu. Aku pun berpikir, apa yang bisa aku lakukan untukmu?
Memperbaiki hubungan kalian yang sudah berantakan, jelas aku tidak bisa. Lagi pula, aku tidak rela kamu meneruskan hubungan dengan laki-laki berengsek seperti dia. Akhirnya, aku hanya fokus untuk menenangkan dirimu dulu, berusaha menghibur walau tidak secara langsung, agar kamu tidak terus larut dalam kesedihan. Kuputuskan untuk mengirimmu sepuluh buku kumpulan cerita lucu dari penulis dan penerbit yang berbeda, dengan ketebalan yang berbeda pula. Kukirimkan bersamaan dengan surat kesembilanku. Dan, aku berhasil lagi. Kulihat kamu membaca salah satu bukunya di sela-sela menunggu jam kuliah di kampus. Sesekali, kamu tertawa geli, bahkan tak jarang kamu pun sampai terpingkal-pingkal.
Berangsur-angsur, kesedihanmu pun hilang dan kamu berhasil melupakan laki-laki buaya itu. Oh ya! Selain itu, aku juga melakukan sesuatu yang aku sendiri tidak menduganya, tapi kamu jangan marah ya! Aku memberikan hadiah satu pukulan keras tepat di wajah laki-laki yang pernah kamu panggil “sayang” itu dan dia K.O dengan keadaan tulang hidung yang mungkin patah.
Di surat kedelapan belas ini, entah kenapa aku ingin menceritakan kenangan-kenangan lainnya yang mungkin tidak kamu sadari. Namun, aku tidak bisa menuliskan semuanya, karena aku sudah tidak seperti dulu. Tubuhku kini sudah lelah menopang segala keinginanku. Aku sakit. Beberapa organ tubuhku perlahan-lahan hancur digerogoti penyakit yang kuidap ini. Tadi siang, mungkin, adalah hari terakhir aku bisa menatap wajahmu –walau hanya dari balik jendela mobil yang kubuka setengah kacanya. Untung aku punya kakak perempuan yang baik, yang mau mengantarku melihat wajah cantikmu untuk kali terakhir.
Sekarang, kamu sedang membaca surat terakhirku yang diantar langsung oleh kakakku kepadamu. Kakakku pasti memberikan surat ini sambil menangis, kan? Ya, dia mirip seperti kamu, mudah mengeluarkan air mata. Cantik, terima kasih karena kamu mau mengikuti peraturannya untuk tidak membuka amplop berwarna merah muda sebelum kamu selesai membaca surat ini.
Kamu tidak mengenalku, tapi tenang saja, aku tidak akan setega itu membiarkanmu penasaran sepanjang hidupmu. Sekarang, silahkan kamu buka amplop warna merah jambu itu. Kamu akan tahu siapa aku, tapi kamu tidak akan bertemu dengan laki-laki di foto yang ada di dalam amplop itu. Kini, aku sudah pergi ke tempat di mana aku tidak akan pernah bisa mengirim surat cinta untukmu lagi. Di sana, aku hanya bisa melihatmu membaca surat ini dari alam yang tak terjamah.
Jangan menangis, Cantik! Aku tidak akan tenang melihatmu seperti ini. Yakinlah bahwa kelak kita akan bertemu walau hanya di alam keabadian dan saat itu kamu akan tersenyum untukku.
Your secret admirer.
Sekian gan! Makasih dah nyimak yak!
Sumber; Kepada Cinta: True Love Keeps No Secret (R. Intan Suci K, 2009: 143).
Oh iya, ini surat cinta bukan asli bikinan ane yak (sumber liat di akhir tulisan).
Oke deh! Langsung ke TKP aja gan! Eh tapi maaph juga yak! Rada panjang suratnya. Moga-moga aja betah bacanya yak ^_^
Surat ke-18 (Surat Cinta Terakhir)
Dear Cantik,
Ini adalah surat ke-18 yang aku kirim untukmu. Entahlah, apa kamu menghitungnya atau tidak? Namun, aku selalu berharap kamu membacanya, meskipun setelahnya, mungkin, surat-suratku itu kamu buang.
Tadi siang, aku melihat matamu sembab. Sinar matamu terlihat redup dan tidak lagi memancarkan gairah hidupmu yang membara. Senyummu pun tak banyak kau umbar. Senyum itu hanya muncul ketika kamu menatap wajah orang-orang yang menyapamu.
Aku sedih melihatmu seperti itu. Hatiku sakit. Otakku pun tak henti berpikir. Ada apa dengamu? Andai saja aku tahu masalahmu, aku pasti membantumu. Tidak peduli apa pun yang harus aku korbankan. Aku rela melakukannya. Namun itu semua sulit terjadi. Aku sama sekali tidak tahu masalah apa yang sedang kau hadapi kali ini. Kamu pun tak mungkin bercerita padaku, karena kamu tak tahu siapa aku sebenarnya.
Ya, kamu boleh sebut aku pengecut karena tak mau menampakkan batang hidungku dihadapanmu. Tapi, ada yang harus kamu ketahui. Aku seperti ini karena aku bukanlah laki-laki yang kau harapkan. Jika kita bertemu dan saling mengenal. Cepat atau lambat. Aku pasti akan mengecewakanmu. Aku juga tahu, surat-surat yang selalu aku kirim selama ini telah membuatmu mulai menyukaiku atau lebih tepatnya, menyukai tulisan dalam surat-suratku dan kamu mulai mencari tahu siapa aku.
Aku sangat mengenalmu, Cantik. Bahkan, aku lebih mengenalmu daripada aku mengenal diriku sendiri. Memang terdengar sedikit ekstrim, tapi itu semua benar karena aku begitu memujamu. Aku bukan hanya memujamu, melainkan juga menyayangimu. Menyayangimu melebihi aku menyayangi diriku sendiri. Karena itu, aku melakukan apa saja yang aku bisa lakukan untuk membantumu walau tanpa sepengetahuanmu.
Kamu memang tidak mengenalku meskipun aku sangat mengenalmu. Walaupun begitu, kita memiliki banyak kenangan yang mungkin tidak pernah dimiliki orang lain, selain kita berdua. Kamu ingat, ketika buku catatan berisi curahan hatimu yang sudah kamu isi sejak SMP terjatuh ke dalam selokan besar di belakang kampus? Saat itu, kamu hanya bisa menatap sedih dan berusaha menahan air mata yang hampir keluar dari matamu yang indah. Kamu langsung pulang ke rumah. Padahal masih ada satu mata kuliah yang harus kamu ikuti waktu itu.
Aku yang tidak tahan melihat kesedihan di wajahmu langsung membenamkan kakiku ke dalam selokan itu. Aku meraba-raba ke dalam dasarnya, berusaha mencari buku tebal berwarna hijau tua itu. Aku memang cukup lama berada di dalam selokan itu karena bukumu tak juga ditemukan. Beberapa orang yang melihatku mengira aku sedang depresi, tapi aku tidak peduli sama sekali. Kususuri selokan yang panjang itu tanpa menghiraukan pakaianku yang kotor karena air selokan yang bercampur dengan lumpur. Sampai akhirnya, dengan perjuangan yang cukup melelahkan, kutemukan buku kesayanganmu itu.
Di rumah, kukeringkan lembar demi lembar ratusan kertas bukumu menggunakan pengering rambut. Aku lakukan dengan hati-hati agar tidak robek. Butuh waktu berjam-jam untuk membuatnya benar-benar kering. Peluhku pun jatuh tak terelakan lagi, tapi aku benar-benar tulus melakukannya. Aku bahagia bisa melakukannya untukmu karena aku selalu ingin melakukan sesuatu yang berarti untukmu.
Keesokan harinya, tepat pukul enam lewat dua puluh menit, aku sudah sampai di depan rumahmu. Buku hijaumu kubungkus rapi dengan bungkus kado bercorak bunga Anggrek dan kurekatkan amplop kecil berisi kertas bertuliskan: “Untuk Reyna. Jangan ceroboh lagi!”.
Amplop itu kuletakkan di depan pintu rumahmu. Lalu, aku menekan bel rumahmu dan langsung berlari ke belakang pohon beringin yang ada di seberangnya. Beberapa detik kemudian, ibumu keluar dan mengambil bingkisan itu. Selang satu menit kemudian, aku mendengar sayup-sayup teriakan bahagiamu. Lega aku mendengarnya, hanya itu yang ingin kudengar darimu dan aku berhasil. Saat itu, aku terus mengucap syukur kepada Tuhan.
Cantik, seberapa besar masalahmu kali ini, tolong untuk selalu ingat pesanku yang pernah kutulis pada surat kesembilan: “Sempatkanlah untuk tertawa dalam satu hari meskipun cuma sedikit. Dengan demikian, energi positif akan mengalir dalam tubuhmu dan akan membuat jiwa dan pikiranmu lebih tenang. Kamu pun akan lebih siap mengatasi segala masalah dengan baik”. Aku masih ingat kejadian yang kau alami waktu itu. Dengan mata kepalamu sendiri, kamu melihat laki-laki yang sudah menjadi pacarmu selama satu setengah tahun merangkul mesra seorang wanita bertubuh tinggi, berhidung mancung. Saat itu, kamu menangis di pelukan sahabatmu. Aku pun berpikir, apa yang bisa aku lakukan untukmu?
Memperbaiki hubungan kalian yang sudah berantakan, jelas aku tidak bisa. Lagi pula, aku tidak rela kamu meneruskan hubungan dengan laki-laki berengsek seperti dia. Akhirnya, aku hanya fokus untuk menenangkan dirimu dulu, berusaha menghibur walau tidak secara langsung, agar kamu tidak terus larut dalam kesedihan. Kuputuskan untuk mengirimmu sepuluh buku kumpulan cerita lucu dari penulis dan penerbit yang berbeda, dengan ketebalan yang berbeda pula. Kukirimkan bersamaan dengan surat kesembilanku. Dan, aku berhasil lagi. Kulihat kamu membaca salah satu bukunya di sela-sela menunggu jam kuliah di kampus. Sesekali, kamu tertawa geli, bahkan tak jarang kamu pun sampai terpingkal-pingkal.
Berangsur-angsur, kesedihanmu pun hilang dan kamu berhasil melupakan laki-laki buaya itu. Oh ya! Selain itu, aku juga melakukan sesuatu yang aku sendiri tidak menduganya, tapi kamu jangan marah ya! Aku memberikan hadiah satu pukulan keras tepat di wajah laki-laki yang pernah kamu panggil “sayang” itu dan dia K.O dengan keadaan tulang hidung yang mungkin patah.
Di surat kedelapan belas ini, entah kenapa aku ingin menceritakan kenangan-kenangan lainnya yang mungkin tidak kamu sadari. Namun, aku tidak bisa menuliskan semuanya, karena aku sudah tidak seperti dulu. Tubuhku kini sudah lelah menopang segala keinginanku. Aku sakit. Beberapa organ tubuhku perlahan-lahan hancur digerogoti penyakit yang kuidap ini. Tadi siang, mungkin, adalah hari terakhir aku bisa menatap wajahmu –walau hanya dari balik jendela mobil yang kubuka setengah kacanya. Untung aku punya kakak perempuan yang baik, yang mau mengantarku melihat wajah cantikmu untuk kali terakhir.
Sekarang, kamu sedang membaca surat terakhirku yang diantar langsung oleh kakakku kepadamu. Kakakku pasti memberikan surat ini sambil menangis, kan? Ya, dia mirip seperti kamu, mudah mengeluarkan air mata. Cantik, terima kasih karena kamu mau mengikuti peraturannya untuk tidak membuka amplop berwarna merah muda sebelum kamu selesai membaca surat ini.
Kamu tidak mengenalku, tapi tenang saja, aku tidak akan setega itu membiarkanmu penasaran sepanjang hidupmu. Sekarang, silahkan kamu buka amplop warna merah jambu itu. Kamu akan tahu siapa aku, tapi kamu tidak akan bertemu dengan laki-laki di foto yang ada di dalam amplop itu. Kini, aku sudah pergi ke tempat di mana aku tidak akan pernah bisa mengirim surat cinta untukmu lagi. Di sana, aku hanya bisa melihatmu membaca surat ini dari alam yang tak terjamah.
Jangan menangis, Cantik! Aku tidak akan tenang melihatmu seperti ini. Yakinlah bahwa kelak kita akan bertemu walau hanya di alam keabadian dan saat itu kamu akan tersenyum untukku.
Your secret admirer.
Sekian gan! Makasih dah nyimak yak!
Sumber; Kepada Cinta: True Love Keeps No Secret (R. Intan Suci K, 2009: 143).
Langganan:
Postingan (Atom)