Senin, 04 Oktober 2010

Dimsum (Idola Sang Pacar)

Hai..!! akhirnya bisa posting-posting lagi..
Gimana kabar agan-agan di-seberang sana nih? Baik-baik sajalah yah. Kalo kabar ane? Uhm..*sambil keselek salak*, lagi rada kurang bersahabat sama yang namanya leye-leye. Di mana 5 dari 7 hari harus dilewatkan bergaul dengan buku-buku yang ga kalah tebel sama modulnya anak kedokteran. Dunia semakin mendekati kiamat karena ane harus hafal, setidaknya 90% dari isi buku-buku itu! FYI, Hafal-menghafal adalah perbuatan yang sulit ane lakukan. Ane masih suka ketinggalan dalam hal hafal-menghafal, bahkan untuk rata-rata kemampuan orang menghafal. Meskipun demikian ane tetep usahakan yang terbaik, so minta doanya agan-agan yak! ^_^

Lagi, belakangan ini ane kembali masuk dalam taraf panceklik postingan baru. So, main-mainlah ane ke folder-folder lama di kompi dan menemukan ada sesuatu yang bikin ane senyum-senyum sendiri di depan monitor. Langsung aja cekidot..!!

Dimsum
Hai. Nama gue Ule dan gue adalah pacar paling sial di dunia. Pacar gue yang bernama Guti…uhmm, let me re-phrase that. Pacar gue, yang bernama Guti, tergila-gila dengan seorang bintang film Indonesia bernama Dimas Sumitro. Seorang bintang muda Indonesia yang gemilang. Akting dalam semua film layar lebarnya memang sih gue akui, jago. I tell you, gak ada yang lebih bikin minder dari pada seorang pacar yang tergila-gila sama orang yang lebih terkenal, 160 kali lebih kaya dan kurang lebih, 2 juta kali lebih ganteng di umur yang sama dengan gue.

Gue dan Guti berusia 20 tahun dan yang membuat gue minder adalah bahwa Dimsum ini, begitu gue menyingkat dia, di-umur yang sama sudah membintangi 5 film layar lebar. Kebayang dong minder gue seperti apa. Untuk menambah kesengsaraan hidup, tega-teganya Cannes Film Festival menobatkan dia sebagai actor terbaik dalam kategori film asing 2003. Itu di saat dia berumur 19. If that’s not enough, santer isu yang beredar IPK-nya di Universitas Jakarta juga terancam 4. Gue? Terancam gak lulus-lulus. Uhm, … where was I? oh yes, he’s a star, I’m basically a toad. Satu-satunya konsolasi bagi gue adalah kenyataan bahwa dia medok.

Entah gue dosa apa, mungkin waktu kecil gue salah omong ke nenek atau apa, ada stasiun TV yang memutar film Tukang Siomay ini 5 malam berturut-turut. Guti ada dasarnya seperti diem di sofa menunggu semua film itu. Dia bahkan bersumpah untuk tidak kuliah satu minggu ini dengan alasan, “Kalo pulang kuliah dan macet, kelewatan dong Guti.”

Janjian ama gue aja, ngaretnya se-abad.

Malam pertama, gue ikut menyaksikan film pertama di rumah Guti. Ini Adalah film Dimsum pertama. Film ini berjudul “Malin Kundang”, sebuah film dari legenda minang yang sukses dibawakan Dimsum dengan medok yang anehnya, tidak ada yang kritik. Sebenarnya gak terlalu ikhlas juga sih menonton tapi di luar, hujan. So there I was stuck.. di samping Guti yang berdecak kagum “Gantengnyaaaa..” setiap -mungkin, 2 detik sekali.
Iklan! Hore! Gue sedikit lega.
Iklan itu produk pasta gigi.
Bintang wanitanya cantik.
Bintang prianya?
Dimsum
ARRRGGHHHH!!

“Kamu suka banget sama dia?” Tanya gue, dengan bodohnya.
“Biasa aja.” Gue ulek juga ni anak.
“Basi banget kamu.”
“Ya iya lah gua suka banget sama dia, gimana sih?” Lha, jadi gue yang salah?
“Aktingnya keren banget. Ngerti gitu bikin percaya penonton. Ganteng pula. Trus pinter, trus..” kalimat berikutnya gue cukup blur karena terlalu sibuk doa TV ini disambar petir.
*DZEEEEZZZZZ*
Ha! Petir! Makan tuh Siomay, sayangku.
“Yaaahh…. mampus banget. Aduh gue pengen banget nonton ini.”
“Kamu kan udah punya VCDnya.”
“Rusak. Baret. Gara-gara….” ada jeda lama di kalimat itu yang disertai lirikan dari matanya di sela poni panjang yang cantik “…. keseringan Guti tonton.”
“Ah..sakit jiwa cewek gue.”
“Eh Le….uhm, betulin antenanya dong sayaaang..”
“Rumah kamu ini udah 3 tingkat..” gue berusaha menjadi orang yang lebih sensible, menjelaskan.
“Makanya.. cepetan.” Et dah buset ni bocah.
“Guti mau Ule kesamber petir?”
“Ule mau Guti kesamber petir?”
“GKGKGKGKKIKKK” gue memberikan pantomime, ‘sini-lo-gue-cekek’ sambil mengalah beranjak ke lantai tiga.

Pas gue lagi basah-basah itulah gue mendapat ide brilyan. Kenapa gak gue cari alamat Dimsum, set-up satu kencan dengan Guti di hari Valentine? That’s brilyant! Okay, okay, that’s dumb utterly. But it’s so stupid that’s brilyant! Sekarang begini,
1. Gue pertemukan Guti dengan Malin Kundang ini.
2. Mereka makan malam sebentar, biarkan Guti bertanya apa saja langsung pada bintang favoritnya.
3. Guti akan puas mengenal Dimsum ini. Tidak akan ada lagi acara Guti penasaran.
4. Dimsum akan keluar dari semua system pendarahan Guti dan mengurangi resiko menjadikan Guti seorang psikopat. Seperti apa ya…uhm, memberikan es kirim ke arwah penasaran yang mengantui rumah karena mati ditabrak truk pas mau beli es krim.
5. Gue dan Guti dapat melanjutkan kehidupan dengan damai. Pacaran, nikah and have lots and lots and lots, of sex tanpa salah satu memfantasikan Dimsum. In my case, membayangkan memotong-motong Dimsum. See the logic now?

Gue pikir gak apa-apa Guti kencan dengan Dimsum. Gue sayang Guti. Bener-bener sayang sama Guti. Itu, dan gue akan masuk jurang jika gue denger sekali lagi Dimsum disebut. So, keesokan harinya gue bolos kuliah dan memutuskan untuk mencari teman-teman gue yang kira-kira tahu bagaimana cara mengontak Dimsum. Sebuah keputusan yang salah karena ternyata semua masuk kuliah !!

Fine, gue pergi dari rumah gue di Jakarta Selatan menuju kampus, di Depok, Selatan Jakarta hanya untuk menemukan bahwa semua sudah pulang. Tenang, tenang. Belum saatnya melempar belimbing ke orang jelek, begitu gue bilang ke diri gue.

Akhirnya gue ada ide cemerlang. Gue pergi ke tempat rental VCD dan mencari rumah produksi film-film dari Dimsum. Dari sana akan gue cari di yellow pages nomor kontak PH dan gue tanya nomor kontak Dimsum.

‘Klining, klining’
Kenapa sih ada sebagian orang di dunia ini yang mengira bahwa memasang lonceng di pintu itu sesuatu yang cerdas? Anway, fokus.
“Siang Mbak. Ada film-filmnya Dimas Sumitro?” Ternyata pertanyaan ini meniumbulkan efek mata penuh mimpi bagi gadis penjaga rental. “Mbak? Mbak? Hai?”
“Oh? Uhmm sori otak saya brenti. Saya gak ngeces kan tadi?”
Sabar. Sabaaaaaaar sabar. “Gak kok Mbak. Ada film-filmnya Dimas Sumitro?”
Kembali sang mbak dengan mata penuh mimpi.
“Would you STOP THAT?” gue hampir mencekik sang mbak.
“Mas anggota sini?”
“Nggak.”
“Maaf saya gak bisa layani.”
Akhirnya gue membayar keanggotaan dan mengisi lembar keanggotaan yang mana jauh lebih rumit dari mengantri imunisasi anak. Selesai.
“Ya udah. Nih. Saya mau minjem salah satu film Dimas Sumitro. Yang mana aja terserah.”
“Pada keluar Mas namanya juga bentar lagi valentine.” Ujar sang mbak dengan air muka ‘gimana-sih?’
“ARRRGGGHHHH GJGKJGKIGKGKJGKGHLJGKGKKK”

Gue keluar dari tempat VCD itu dan mendapatkan akal baru. Gue pergi ke TU kampus, mungkin mereka memiliki nomor telfon kantor TU kampus dari Dimsum. Gue cukup yakin ikatan antar TU kampus itu erat. Setiap tahun mungkin mereka saling berkumpul dalam KTUKI (Konferensi TU Kampus Indonesia) di mana pegawai TU kampus Dimsum akan dengan secara kasual minum teh, makan biscuit dan memulai percakapan dengan,

“Dek Dimas Sumitro ganteng sekali lo.” Yang dibalas dengan malas oleh yang lain dengan,
“Denger-denger secara kasat mata, jidatnya gak proporsional ya Bu?”

I’ sure of that. Regarding the conference.. and the jidat issue.

Anyway, where was I? oh yes, on the way to to my TU. Sampai di sana gue meminta agar gue dapat berbicara langsung dengan pegawai TU, maksud gue agar lebih sopan. Pegawai TU di seberang bernama Mbak Pipit, seorang wanita yang telah lewat masa mbak-mbaknya namun masih berstatus ‘mbak’.

“Siang Mbak Pipit. Nama saya Ule. Rulli Prasetya. Boleh saya tahu nomor telfon Dimas Sumitro?”
“Ada alasan khusus kenapa mas ingin tau nomor telfon mas-mas lain?”
“Oh sori. Jadi gini Mbak. Saya ingin mengatur sebuah kencan di hari valentine dengan Dimas Sumitro.”
“Uhmmm setahu saya dia bukan gay loh mas, maaf loh….”
“Oh bukan Mbak. Bukan dengan saya. Dengan pacar saya.”
“SAKIT!”
-Klik-

“Loh? Loh? LOHH!!” Akhirnya gue coba telfon lagi dan berusaha menjelaskan kepada Mbak Pipit sebaik mungkin. Mbak Pipit akhirnya kembali tenang.
“Tapi saya gak tau mas nomor HP-nya, Kalo pun tau, ngapain saya ngasih tau Mas?”
“Hhh…..Tapi dia ada di sana? Kuliah gak?”
“Kuliah Mas. Saya yakin. Soalnya tadi dia baru saja masuk ke dalam kantor ini dengan rambut coklatnya. Dia menatap saya dengan tatapan dingin gagah yang memperlihatkan bahu bidang dibalut kemeja John Curtis biru. Tato di lengan kokohnya terlihat ketika dia menyerahkan buku absen dosen sambil berkata penuh chemistry pada saya ‘Ini mbak….’ Hhh hhh hhh..”
“SAKIT!”
-Klik-

Gue menghormati kenyataan bahwa tukang Siomay ini pasti sibuk. Jadi gue memutuskan untuk melakukan perjalanan lintas kota di panasnya Jakarta dari selatan ke utara, sebuah perjalanan yang dapat mentransformasi pria baik-baik perlente rapih seperti gua sampai di tujuan terlihat seperti yang baru saja melakukan kesalahan dan di-arak massa.

Dalam bus pertama Gue dengan sukses menduduki kursi yang ternyata baru saja di-ompoli anak kecil penduduk sebelumnya.

Dalam bus kedua, gue ikut mendorongnya.

Dalam mikrolet sesudahnya, gue dipalak anak STM yang meski 3 tahun lebih muda, 30 kali lebih banyak.

Di bus ketiga ada nenek-nenek muntah di atas pangkuan.

Di mikrolet kedua gue bertemu lagi dengan para anak STM itu. Gue berusaha menginisiasi percakapan dengan mengatakan bahwa Jakarta itu sangat panas namun percakapan ini tidak ditanggapi dengan baik.

Di bus keempat gue terpaksa memberikan jam tangan gue kepada supir yang tidak percaya bahwa gue baru saja ditodong dua kali oleh anak STM yang sama.

Bus kelima, diserang anak STM itu.

Sekali lagi bertemu mereka, sumpah deh gue bakal bikin milis.

Setelah 6 jam, di pukul 17:00, gua sampai di kampus si Joko Tingkir eh maaf, Malin Kundang itu. Sekarang gue memakai sandal hasil barter palak. Tapi tak apa. Yang penting sampai, pikir gue sambil masuk gerbang.

“Maaf Dek. Masuk kampus ini gak boleh make sandal.”

Meninggal aja gue sekalian! Tepat di saat itu, sebuah mobil Jaguar keluar perlahan dari gerbang. Ha! Dimsum!

“STOP!”

Alhamdulillah akhirnya bertemu juga dengan dia. Dia membuka kaca. Ada konvensi di alam sosial Jakarta bahwa semakin mahal mobil, semakin lambat power window terbuka untuk menimbulkan kesan lebih dramatis dan angkuh. It works like hell. Ini saatnya. Gue harus baik-baik untuk membujuk dia ikut dengan rencana gue.
“Siomaynya satu Dim.” DAMN!
“Sori?”
“Uhmmm sori Dim..” Gue kemudian mengutarakan rencana gue. Meminta satu malam kesediaan dia untuk makan malam di restoran yang dia pilih dan semua biaya gue yang bayar. Wajar karena dia artis dan dia pasti lebih tahu restoran mana yang membuat wanita klepek-klepek. Gue ceritakan juga bahwa pacar gue adlaah fans terberat dia dan dia akan sangat menghargai acara ini. Gue sempat kehilangan fokus presentasi ketika gue sadar di dalamnya penuh dengan artis lain. Semua wanita. Lucky bastard!

“..jadi gimana?”
“Sori. Gue gak nge-date sama orang yang gue gak kenal.” Jawabnya, tanpa menimbang bahkan ½ detik dan berlalu. Lengkap dengan kaca angkuhnya.

Gue speechless.

Jam yang gue serahkan pada kondektur adalah pemberian Guti untuk valentine 2002. Sepatu favorit yang gue pakai setiap hari, yang dipalak oleh anak-anak STM itu, pemberianya di valentine 2001.

“Gila ya, kamu.” Begitu reaksi pertama Guti dengan mata nanar. Tidak mempercayai kebodohan pacarnya mungkin. Gue hanya dapat mengangkat bahu.
“Ule cuman pengen Guti seneng. Ule tau Guti gak akan ngapa-ngapain. Ule tau Guti sayang sama Ule. Bagi Ule, Siomay gila itu gak lebih dari sekeping VCD rental yang dipinjam semalam. Bedanya VCD ini bisa makan bareng kamu. Kamu kan fans berat. Ya kenalan lah. Kaya temu selebriti gitu.”
“Idih ngapain banget? Guti juga suka George Clooney tapi kan bukan berarti mesti ketemu. Masak kamu gak tau sih betapa sombongnya dia? Infotainment berantakan gitu di mana-mana.”
“Lain kali tergila-gila sama orang, jelek-jeleknya juga kasih tau dong!”
“Iya iya.”
“Ya sud. Kamu valentine mau apa? Ule gak kepikiran lagi apaan. But you deserve something special.”
“Ya saya cuma pengen kamu aja coz you’re my something special.” (end)

Maaph kepanjangan gan! Dan makasih udah mau nyimak.. ^_^

sumber: suamigila.com

Sabtu, 02 Oktober 2010

Kenapa Orang Tua Melarang Anaknya Pacaran?

Akhirnyaaaa.. bisa juga menjamah ini blog/notes lagi.
Apa kabar agan-agan semua? Baik-baik saja khan?
Alhamdulillah gan, kabar ane juga baik-baik aja. Yaa paling cuma lagi rada pusing dikit aja tapi biasalah..kayanya semua orang yang udah kerja juga pasti ngerasain hal yang sama yak.

Ok.. langsung ke topik yang pengen di-share..

Kenapa orang tua melarang anaknya pacaran?
Ini adalah satu pertanyaan berikut pemberontakkan yang dilakukan anak-anak sekolah di masa ABG dan remaja. Tapi, perlu diakui juga tidak sedikit ada orang tua yang mengizinkannya. Orang tua yang mengizinkannya pun memiliki aturan-aturan tersendiri yang harus dipatuhi anaknya. Nah, yang menjadi persoalan adalah bagaimana anak yang dilarang orang tuanya berpacaran? So pasti akan ada dua jawaban. Ada yang patuh dan mendengar perkataan orang tuanya dan ada kubu yang di mana mereka memanfaatkan baik-baik anugerah Tuhan yang disebut akal (mengakali). ^_^

Tapi..ane bukan mau ngajak share akal-akalannya yak! Hehee.. agan-agan pasti udah pada tau sendiri dah caranya gimana-gimana..lagian sekarang khan rata-rata agan-agan yang mampir ke blog/notes ane minimal udah/lagi kuliah, pasti sedikit banyak pernah ngalamin dahh.. ^_^

Nah itu tuh gan! Kebanyakan dari kita sayangnya memandang hal tersebut sebagai “pengekangan hak-hak dasar ABG/remaja yang (katanya) sedang mencari jati diri, termasuk dalam hal cinta”. Padahal kalo dipikirkan secara positif, hal tersebut adalah salah satu bentuk kasih sayang orang tua. Namun sayangnya kadang orang tua kita tidak pandai memilih kata-kata yang tepat untuk menyampaikannya. Sehingga kita kebanyakan pun menyebutnya sebagai pengekangan.

Berikut adalah hasil ane searching sana-sini, kenapa orang tua melarang anaknya pacaran?

Takut hamil
Ini adalah alasan yang paling banyak ditemukan. Mereka, orang tua, takut anaknya hamil/menghamili di luar nikah, sehingga akan bikin malu keluarga dan yang paling ditakutkan orang tua, hamil itu akan menghancurkan masa depan si anak. Si anak akan menjadi bapak/ibu mendadak yang bahkan dia sendiri tidak inginkan sebelumnya.

Terjerumus ke dalam pergaulan bebas dan narkoba
Para orang tua sekarang sadar betul, keterkaitan antara pacaran, pergaulan bebas dan narkoba. Menurut mereka pacaran adalah sebuah jembatan yang bisa menghubungkan anaknya dengan pergaulan bebas. Karena alasan itulah mereka melarang anaknya pacaran.

Belum cukup umur
Faktor umur menjadi pertimbangan lain bagi orang tua untuk melarang anaknya pacaran. Semua ada masanya. Kalau sudah dewasa, toh! orang tua juga tidak akan melarang-larang lagi anaknya untuk pacaran. Bahkan, mereka justru akan menganjurkan anaknya untuk cepat mencari pasangan dan menikah.

Mengganggu waktu belajar
Yang dikhawatirkan orang tua ketika anaknya pacaran adalah keasyikan berpacaran. Sehingga akan mengganggu jadwal dan konsentrasi belajar si anak. Sebagai seorang pelajar, tugas utamanya tentu belajar dan orang tua menganggap pacaran akan memecah konsentrasi anaknya dalam belajar.

Takut anaknya salah pilih
Orang tua takut anaknya salah pilih dalam menentukan pasangan buat dirinya. Setiap orang tua menginginkan yang terbaik buat anaknya. Seharusnya, pada usianya sekarang seorang anak punya banyak pilihan untuk bergaul dan mengenal lebih banyak karakter orang. Menurut orang tua pacaran justru hanya akan membuat ruang gerak si anak terbatas, karena merasa terikat oleh pacarnya. Bagus kalau pacarnya itu bisa memberikan pengaruh yang baik dan positif. Bagaimana kalau justru memberikan pengaruh yang buruk..?

Takut kehilangan
Pada diri orang tua terkadang ada rasa cemburu ketika melihat anaknya dekat dengan orang lain selain mereka. Ada perasaan takut kehilangan. Buah hati mereka yang dulu masih ingusan ternyata sekarang sudah mulai menapaki fase kedewasaan. Satu bentuk lain dari kasih sayang orang tua terhadap anaknya.

Nah segitu deh gan hasil searching-searching ane. Kalo ada yang mau nambahin yuk ah di-share di mari..

Sekali lagi ya gan.. Alasan orang tua melarang pacaran itu bukan suatu bentuk pengekangan dan pemasungan kebebasan anak. Tapi itulah salah satu bentuk kasih sayang orang tua yang kadang salah kita menafsirkan.

Makasih gan udah mau nyimak ^_^
Semoga bermanfaat untuk kita, adik, sepupu, saudara, teman dan anak-anak kita di masa yang akan datang, Insya Allah.

Rabu, 25 Agustus 2010

Ketika Perempuan Memberikan Pilihan & Pepotoan

Salamlekuumm...
Musti dijawab yah! Soalnya kalo tidak pasti dosa hukumnya. Ahahahaa.. seperti biasa nii..ane lagi lumayan pengen sering nge-post cerpen. Sebenernya bukan cerpen juga sii..ini bagian dari cerita panjang yang lagi ane cobain. Cuma ane bikinnya emang per-part per-part gtu, jadi kalo diposting ya kaya posting cerpen aja. Trus selain posting itu ane juga mau posting pepotoan ane pas masih di Nangor. Ane lagi lumayan teringat sama kondisi yang ane poto nih. Eh! tapi pepotoannya cuma pake camdig, jadi mungkin hasilnya mah biasa-biasa aja. Yawdah langsung ke TKP aj ye..

Ketika Wanita Memberikan Pilihan
Sabtu malam ini gue sama si pacar bakal menghadiri pesta salah satu teman kantornya.
Dasar wanita yah! Kalo dandan pasti suka kalap waktu. Ini aja kurang lebih udah hampir 40 menitan gue nunggu di ruang tamu rumahnya.

Pucuk datang ulam pun tiba. Akhirnya perempuan yang gue tunggu-tunggu, perlahan tapi pasti mulai memunculkan sosoknya. Dituruninya anak tangga satu per satu. Hmm..okeh! Kayanya gue harus memaklumi kenapa perempuan membutuhkan waktu lebih untuk bersolek. Hasilnya memuaskan! Cantik.

Dari anak tangga itu, gue juga melihat sosok perempuan itu tampil cantik dengan gaun hitam yang dikenakannya. Mungkin akan terlalu berlebihan kalo gue membandingkannya dengan putri raja tapi apapun yang ditampilkannya malam ini, gue patut bersyukur karena udah diizinkan Tuhan menjadi pacarnya saat ini.

Kalo boleh gue ilustrasikan, tampilan gaunnya akan seperti gambar dibawah ini. Harap maklum yah, gue kurang begitu bisa mendeskripsikan tampilan secara mendetail. Jadi gue gunain ilustrasi gambar langsung aja yah.

Selepas anak tangga terakhir dia berjalan ke arah tempat gue menunggu, di sofa ruang tengah.
“Hon(honey.red), mana yang cocok aku kenakan untuk gaun ini?”, ujarnya sambil menunjukkan dua buah sepatu berwarna merah marun dan hitam yang disembunyikan dibelakang pinggulnya.

Ah! Pertanyaan pilihan itu jadi mengingatkan gue sama kejadian beberapa tahun yang lalu nih. Saat Toni, sang pakar cinta dan wanita kita mengeluarkan salah satu petuahnya.
‘kalo cewek ngasih pertanyaan pilihan jangan sekali-kali lo secara spontan memilih satu diantaranya. Kalo itu terjadi dan yang lo pilih itu ternyata salah! lo pasti akan mendapat pertanyaan susulan yang ngga kalah ngebingunginnya. For Your Information, sebetulnya para kaum hawa ini udah punya pilihan sendiri sebelum pilihannya itu ditanyakan. Nah, jadi untuk menanggulangi hal yang bukan masalah tapi bisa menjadi awal kiamat ini, kita harus selidiki kemauan si perempuan. Seperti yang tadi gue bilang mereka udah punya pilihan jadi kita perhatiin aja dari gerak-geriknya, tatapan matanya, liat gerakan tangannya atau tanda-tanda lain yang bisa diartikan sebagai pilihannya ketika mengajukan pilihan ke kita. Kalo perlu bolehlah kita mengajukan pertanyaan balik tentang pilihan mereka tadi’, gue, Laras dan Fajar untuk kesekian kalinya merasa takjub dengan teori yang dijabarkan Toni.

‘kenapa bisa gitu Ton?’, Laras penuh antusias

‘Karena sesungguhnya kaum hawa ketika memberikan pilhan tidak dengan sungguh-sungguh meminta solusi kaum adam. Mereka hanya butuh dukungan dan pengakuan kuat kaum adam atas pilihan yang sudah mereka tetapkan sebelumnya. Betul saudari Laras?’

‘bet-tul. Hehehee..’, jawab Laras dengan senyum. Standing Applause to Toni..

“Honey?!”
“Oh!” spontan gue kaget disadarkan si pacar.
“ih. kamu malah ngelamun lagi. Hayo! honey menurut kamu lebih cocok yang mana?”, si pacar kini berada tepat sejajar sama gue yang lagi duduk di sofa. Posisi dia setengah berjongkok sambil mengangkat dua pasang sepatu beda warna itu di tangan kanan dan kirinya sebatas tinggi mata.
Gue cuma senyum dan bilang, “Kalo menurut kamu sendiri pilih yang mana?”
“lhoo.. aku khan tanya kamu honeeyyy... Kok malah ditanya balik?”
“Iya, karena diantara kita berdua, kamulah orang yang paling tau tentang menyesuaikan penampilan. Tentu dalam hal ini pun kamu tidak akan kehilangan kemampuan itu”, gue ngga nyangka bisa ngeluarin kata-kata barusan; yang ngga gue sadar, itulah fakta yang selama ini terjadi kalo kita akan menghadiri suatu pesta.
Si pacar pun tersenyum, dengan mata berbinar dia mantapkan pilihan , “aku pilih yang merah”.
“Perfect!!”
“Gaunku berwarna hitam, sepatu berwarna merah marun pasti akan cocok!”
“Betul. Khan undangannya pun ke pesta pernikahan yah bukan pesta pemakaman yang serba hitam”
“hahahaa.. ih, kamu bisa aja!”
Dia lalu berdiri, diusap rambutku sebentar dan beranjak kembali ke kamarnya untuk mengambil tas dan menaruh sepatu yang satunya lagi. Kalo boleh gue ilustrasikan tampilan sepatunya akan tampak seperti gambar dibawah ini.

Sebelum menuju mobil dan berangkat kami berpamitan dengan ibunya. Lalu dia gandeng tangan kiri gue sambil berjalan menuju mobil, sedikit berbisik gue bilang, “Pilihannya cocok hon. Cantik!”
“aduh, aduh”, bukannya dapet ucapan terima kasih karena gue puji. Eh, gue malah dapet cubitan dipinggang. Tapi tak apa, malam ini pasti mengagumkan. Tuhan, sampaikan terima kasihku kepada Toni. (end).


Pepotoan!!
Iseng-iseng main sama si camdig di pagi hari di Jatinangor, jadi hasilnya kaya gini nih:
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

Makasih udah mau nyimak yak!
Buat agan Kevin, makasih yak gara-gara main ke blog ente, ane jadi gatel pengen posting hasil camdig, hahahahaa..

Selasa, 17 Agustus 2010

Mengapa Pria Tidak Lebih Peka Dari Wanita?

Well, posting-an ini bisa dibilang ane buat secara kebetulan. Secara kebetulan ane lagi baca buku, trus secara kebetulan juga liat status di facebook yang bunyinya seperti ini nih, “Facebook must be a woman. A man would never ask, ‘What’s on your mind?’”. Untuk keamanan dan kenyaman ane ngga usah cantumin siapa pemilik status itu yak? ^_^.

Entahlah ada atau tidak adanya hubungan antara status itu sama buku yang lagi ane baca, yang penting ane cuma pengen posting, ehehehee.. langsung aj deh ke TKP..

Mengapa Pria Tidak Lebih Peka Dari Wanita?

Mengapa pria tidak lebih peka dari wanita?
Itu bukan karena wanita memiliki indera yang lebih hebat. Hanya saja, indera pria lebih tumpul jika dibandingkan dengan indera wanita. Dalam dunia wanita yang sangat peka, mereka mengharapkan pria mampu membaca lisan, suara dan tanda-tanda bahasa tubuh mereka.

Untuk alasan revolusionerlah, maka hal itu didiskusikan –meski bukan itu masalahnya. Wanita secara diam-diam menduga bahwa seorang pria akan tahu apa yang diinginkannya atau dibutuhkannya; dan ketika para pria itu tidak mengerti tanda-tanda yang diberikan, wanita itu akan menuduhnya sebagai “tidak peka”. Sedangkan pria di manapun akan membela diri, “apakah aku harus bisa membaca pikiran mereka?”.

Lyn dan Chris sedang mengendarai mobil pulang dari sebuah pesta. Chris mengemudi, Lyn menunjukkan arah. Mereka rupanya baru saja bertengkar karena Lyn mengatakan untuk berbelok ke kiri, padahal sesungguhnya yang dimaksudkan adalah berbelok ke kanan. Sembilan menit berlalu dalam kebisuan, sehingga Chris menduga ada yang tidak beres. “Sayang.. kamu tidak apa-apa?” tanya Chris. “Ya. Aku tidak apa-apa!” sahut Lyn.

Penekanan pada kata “tidak apa-apa!” berarti bahwa segalanya jauh dari ‘tidak apa-apa’. Chris mengingat kembali pesta yang baru saja mereka hadiri. “Aku melakukan kesalahan malam ini?” tanya Chris. “Aku tidak mau membicarakannya!” bentak Lyn.

Ini artinya Lyn sangat marah dan betul-betul ingin membicarakannya. Sementara Chris, ia betul-betul kebingungan mengingat-ingat kesalahan apa yang telah dilakukannya sehingga membuat marah Lyn. “Katakan padaku, sayang. Apa yang aku lakukan di pesta?” ia memohon. “Aku betul-betul tidak tahu apa yang telah kulakukan tadi!”

Dalam percakapan seperti ini, biasanya si pria memang mengatakan yang sebenarnya – dia betul-betul tidak mengerti masalahnya.

“Baiklah,” kata Lyn. “Aku akan katakan masalahnya, walau kamu pura-pura bodoh!” –tetapi Chris tidak berpura-pura bodoh. Ia benar-benar tidak mengerti mengapa Lyn marah. Lyn menarik nafas panjang. “Wanita centil murahan itu, selalu berada di dekatmu sepanjang malam dan mengirim tanda-tanda ajakan padamu. Sementara kamu tidak menghindarinya –kamu bahkan membuatnya semakin berani!”

Sekarang Chris benar-benar bingung. Wanita centil murahan yang mana? Tanda-tanda ajakan apa? ia tidak melihat apa-apa.

Berikut adalah yang terjadi di pesta: Ketika ‘wanita centil murahan itu’ berbicara pada Chris (ini adalah istilah yang digunakan wanita untuk wanita semacam itu. Sementara pria akan menyebut wanita seperti itu sebagai ‘ wanita menawan’). Ia tidak melihat bahwa wanita itu mengangkat pinggulnya ke arah Chris, menyibakkan rambutnya, mengusap-usap pahanya sendiri, menatap Chris lebih lama dari yang bisa disebut tatapan sopan, dan mengelus-elus tangkai gelas minumannya serta berbicara dengan nada manja seperti seorang gadis sekolahan.

Yah, Chris adalah ‘seorang pemburu’(hakikat seorang pria pada umumnya). Ia mampu melihat seekor Rusa diujung cakrawala dan mengatakan seberapa cepat hewan itu bergerak. Namun ia tidak memiliki kemampuan untuk mengerti tanda-tanda bahasa tubuh, arti suara dan tatapan yang ditujukan padanya.

Semua wanita dalam pesta itu akan melihat ‘wanita centil murahan itu’ tanpa harus memalingkan kepalanya untuk benar-benar menyaksikannya. Lalu sebuah naluri jarak jauh ‘waspada akan wanita nakal’ terkirim dan diterima oleh semua wanita dalam pesta itu. Sementara kebanyakan pria di sana, tidak mengerti sama sekali akan hal itu.

Maka ketika seorang pria mengaku bahwa ia memang mengatakan yang sebenarnya –tentang apa yang dituduhkan padanya– ia mungkin saja memang mengatakan yang sesungguhnya. Hal ini bisa terjadi karena otak pria tidak dilengkapi dengan bagian untuk mendengar atau melihat lebih rinci dibandingkan wanita. Oleh karena itu para pria selalu membutuhkan bantuan wanita untuk mengetahui ketidakpekaannya tersebut.

Sebuah penelitian membuktikan bahwa pria merupakan pembaca pikiran yang payah. Tapi kabar baiknya adalah pada umumnya mereka dapat dilatih untuk meningkatkan kewaspadaan mereka akan pesan-pesan tak terucap dan nada suara. (end)

Btw, sampel yang disajikan tadi itu hanyalah satu sampel dari sekian banyak sampel yang ada di dunia ini. Jadi, untuk penerapannya tinggal disesuaikan dengan kondisi terkini yang terjadi yak!

Makasih buat yang udah mau nyimak dan mau meninggalkan komentarnya di-postingan ini ^_^

Sumber: Why Men Don’t Listen and Woman Can’t Read Maps – Allan + Barbara Pease.

Kamis, 05 Agustus 2010

Cinta-cinta.. SUNGGUH ANEH !! (Fiksi saya lagi)

Halloo..brader-sister..
Saya posting karya fiksi lagi nihh.. ^_^ ini sebetulnya satu bagian dari beberapa bagian yang belum tau kapan selesainya, ehehee.. mohon saran dan kritiknya aja ah! Wajib..!!

Bab 1
Cinta-cinta.. SUNGGUH ANEH !!


Cinta itu kadang suka aneh yah?

Salah satu keanehannya itu terjadi ketika Laras, sahabat gue cerita tentang Fajar, pacarnya yang marah banget ketika dia udah ngga lagi mengingatkannya akan pentingnya bahaya merokok. Padahal sebelum-sebelumnya pas diingatkan pun Fajar selalu enggan untuk berhenti dari kebiasaannya itu. Menurut Laras, alasan dia berhenti mengingatkan Fajar, ya karena dia sudah pada taraf mengerti akan kekurangan Fajar. Tapi, kenapa respon dari Fajar sangat bertolak belakang?

Haduhh.. apakah urusan cinta itu terlalu sensitif?
Bahkan untuk hal-hal yang mungkin, bisa dikatakan sepele.

Akibat rokok tadi, mereka sempat bertengkar hebat. Bahkan hal-hal yang ngga ada sangkut-pautnya sama rokok pun jadi topik pertengkaran. Ni rokok udah kaya bensin kesamber api. Kena satu langsung nyamber kesemua. Sesensitif itukah urusan rokok-merokok? Atau lagi-lagi, sesentif itu-kah urusan cinta?? Kalo versi gue mah, ANEH..

Semakin aneh lagi nih sama alasannya si Fajar. Dia bilang Laras udah ngga perhatian lagi gara-gara hal rokok tadi. -???-

Sebagai sahabat dari mereka berdua, gue coba deh cari-cari akar masalahnya di mana. Gue coba lihat masalahnya dari sisi logika dan emosional. Bukan gimana-gimana yak! Menurut gue cinta bukan hanya permainan emosi. Cinta juga perlu logika, agar cinta itu bisa berjalan dengan baik dan normal.

Secara logika gue ngga nemuin adanya indikasi kerugian di kubu Fajar. Bahkan kalau pikirannya normal, harusnya si Fajar itu merasa senang! Dia bisa melanjutkan kegiatan rokok-merokoknya tanpa adanya rongrongan dari Laras. Tapi, nyatanya Fajar malah marah. Aneh..

Secara emosional, gue melihat adanya indikasi Fajar selalu ingin diingatkan. Selalu diperhatikan. Meskipun dia suka melanggar aturan-aturan yang dibuat Laras, tapi dia selalu ingat apa yang dilakukan Laras untuknya, dan dia tidak mau kehilangan hal itu.

Nahh..tinggal gue dah yang bingung sendiri. Tapi kenapa gue yang bingung yak? Lhaa..yang pacaran mereka bedua. Lha trus gue? Iyak-lahh..gue khan sahabat mereka berdua. Repotnya mereka hampir selalu curhat(curahan hati) ke gue kalo lagi ada urusan sama yang namanya berantem gara-gara cinta. Aduehh..mau gue kasih saran apa nih bocah bedua. Sulit..!!

Akhirnya dari pada bingung sendiri, mending gue temuin aja deh mereka berdua. Jadi wasit lagi deh gue! Mudah-mudahan di tempat ketemuannya nanti ga ada yang namanya benda-benda tajam yang bisa dilempar atau bisa dipake buat nusuk!

Nah! Lagi-lagi nih, gue keheranan sama yang namanya cinta. Gue temuin tuh mereka berdua. Ehh..gue sama sekali ngga ngeliat mereka marahan dah! Mereka malah udah saling senyum, sayang-sayangan, bahkan udah manja-manjaan di depan gue. Seolah sudah saling memaafkan dan sudah saling melupakan kejadian yang lalu. Makin ga ngerti aja, gue sama yang namanya cinta!

Beres menjadi mediator (yang harusnya tidak perlu!). Gue pergi ke kampus. Ada tugas yang harus gue kumpulin siang ini. Cukup panas Jatinangor hari ini. Sekedar informasi bahwa hari-hari sebelumnya di Jatinangor juga panas. Jadi, sebetulnya informasi ini sungguh tidak penting, hehehee..just to the intermezzo. Kembali lagi, meskipun terik matahari mengganas, itu bukan satu halangan yang berarti buat gue melangkahkan kaki ke kampus. Tentu saja! Gue ga rela-lah bakal dapet nilai jelek gara-gara cuma telat ngumpulin tugas.

Trus terang aja nih. gue juga rada ga rela sama cewe yang barusan nyenggol tas gue dari belakang tanpa minta maaf.. “Buru-buru mau ke mana si mbak? Tenang,, kampus ga akan pergi ke mana-mana.”, gumam gue dalam hati. Tapi, buru-buru juga deh gue hapus itu hujatan jelek. Gue perhatikan langkahnya, ni cewe sepertinya emang lagi buru-buru. Gue perhatiin lagi, dia cukup cantik! Hmm..oke oke dia cewe yang CANTIK tanpa ada kata “cukup” di depannya.

Entah siapa namanya, ni cewe udah jelas-jelas meruntuhkan teori gue tentang perilaku sombong cewe-cewe cantik di kampus ini. Menurut pengamatan gue selama hampir setahun ke belakang ini, banyak sekali ditemukan sampel-sampel adanya keengganan cewe-cewe cantik di kampus dalam hal menggunakan kakinya berjalan dari gerbang kampus ke gedung kuliah.

Tentu saja, semua asumsi ini sudah ditambahkan dengan cewe cantik yang sudah punya pacar, yang kebetulan pacarnya memiliki kendaraan untuk antar-jemput. Serta, keberuntungan cewe-cewe cantik yang kebetulan jomblo, yang kebetulan juga sedang didekati senior yang sudah paham betapa memiliki kendaraan itu begitu penting, terutama dalam hal urusan PDKT. Atau, kelihaian cewe-cewe cantik yang memanja dan meng-iba kepada temen sekelas yang punya kendaraan untuk mengantarkannya ke sana-sini dengan senang hati. Asumsi ini ditambah fakta terjadi keyakinan dikalangan pria-pria di kampus bahwa memboncengi cewe cantik jelas akan mempengaruhi prestise-nya di kampus.

Dan, sesungguhnya asumsi-asumsi itu tidak hanya berlaku terhadap cewe-cewe cantik saja, cewe yang biasa pun bisa melakukannya. Jadi lagi-lagi, ini sungguh informasi yang NGGA PENTING !!

Terkait urusan antar-mengantar, salah satu teman gue, sebut saja namanya Toni. Mahasiswa tingkat dua yang berstatus pacar Intan, mahasiswi tingkat satu. Dengan segala hormat dan tidak adanya niat untuk menjatuhkan kredibilitas Intan sebagai mahasiswi yang ber-IPK 4 kurang nol koma nol empat.

Gue merasa sangat heran sama sikapnya yang lebih meminta dijemput dan diantar Toni ke gerbang kampus hanya untuk memfotokopi bahan kuliah. Padahal di dalam kampus juga banyak kios-kios fotokopi. Karena itu, otomatis deh, Toni yang lagi ngerjain tugas kelompok, yang 30 menit lagi bakal dikumpulin, langsung pamit dan segera menuju TKP (Tempat Kejadian Perkara.red).

“Demi cinta”, ujarnya sebelum bergegas pergi.

Nah di sini baru deh gue mempertanyakan kredibilitas Intan sebagai mahasiswi yang ber-IPK hampir 4. Dia ga mungkin, ga tau jarak antara gedung tempat kuliah di kampus dengan gerbangnya akan menempuh perjalanan hampir 2 kilometer. Tidak mungkin, tidak tau bahwa di dalam kampus pun tidak hanya ada satu kios fotokopi. Dan, ga mungkin, ga tau jika harus ke kampus Toni harus menempuh jarak memutar mengelilingi kampus belakang yang memakan waktu 20 menit perjalanan sebelum sampai ke gedung tempatnya kuliah.

Apakah Intan telah memikirkannya pula?
Gue rasa ngga, tapi yang jelas, “demi cinta” menurut definisi Toni, SUNGGUH ANEH !!

Gue udah hampir sampe gedung fakultas dan ternyata si cewe cantik yang barusan juga satu fakultas! Aheiy..nanti deh dicari infonya tapi, ah! Kecewa. Itu ada cowo yang nemuinnya disimpang jalan depan gedung fakultas. Kayanya mah cowonya.. Baru ketemu udah langsung pegang tangan sih. Wah-wah.. keliatannya mereka lagi ada cek-cok tuh. Keliatan kaya lagi berantem-berantem gitu. Alaahh..paling juga masalah sepele kaya si Laras sama si Fajar atau kaya si Toni sama si Intan.

What-The-Fuck !!
Itu cowo ngegampar itu cewe cantik!
Cowo laknat dari mana dia? Pengecut, GA-PUNYA-ETIKA!!
Jelas-jelas itu cewe baru nyampe, udah main gampar-gampar aja! BEJAT!!

Gue udah siap nolongin tapi baru aja gue masuk langkah pertama, itu cewe cantik udah keburu dibawanya ke tepi jalan dan terus menuju kantin. Pengen diomongin baik-baik kayanya dan semoga aja deh itu cewe cantik baik-baik aja di sana. Kalaupun tidak, semoga ada orang lain yang menolongnya. Gue sangat ingin menolongnya tapi situasi lagi ngga memungkinkan. Gue lagi harus cepet-cepet ke kampus dan menyerahkan ni tugas akhir. Dosen yang satu ini udah paling terkenal tepat waktunya. Kalau ngga sekarang gue kumpulin. Bisa dipastiin nilai gue pasti jatoh. Gue harus cepet-cepet ketemu dia karena sebentar lagi dia akan berangkat keluar kota dan baru akan kembali ke Jatinangor dua minggu kemudian. Itu artinya kalau gue ngga ngumpulin tugas sekarang otomatis gue baru bisa ngumpulin lagi 2 minggu berikutnya dan itu udah pasti melewati batas akhir pengumpulan, hari ini.

Gue emang ngga mau berspekulasi terlibat langsung sama urusan kedua manusia tadi. Tapi gue paling ngga suka sama sikap pengecut tuh cowo. Rasanya gue udah gatel dan pengen ngeberi satu pukulan tepat dihidungnya!

Besoknya di kampus, gue ngga sengaja ketemu mereka lagi. Dari informasi salah satu teman kampus, gue udah tau mereka berpacaran. Aneh! Mereka sama halnya Laras dan Fajar. Sekarang mereka udah (seolah) melupakan kejadian kemarin. Sekarang gue liat mereka lagi mesra-mesraan. Peluk-pelukan. Manja-manjaan.

Lagi-lagi gue keheranan sama yang namanya cinta !!

***

Kalo bisa nebak, silahkan ditebak nanti endingnya seperti apa? Ehehee..
Kerangkanya udah beres, jadi ane udah tau endingnya seperti apa, tapi kalo saran dari kalian bisa lebih bagus kenapa ngga ane terima. Makasih nihh..udah mau nyimak..

Sabtu, 24 Juli 2010

Golongan Pria dan Wanita dalam Kehidupannya

Alhamdulillah bisa ketemu lagii.. Secara tidak disengaja beberapa waktu ini ada satu obrolan yang masih jauh dipikiran dan rencana saya, yaitu obrolan persiapan meningkatkan status, dari taraf berpacaran menjadi hubungan yang dicatat Kantor Urusan Agama a.k.a pernikahan. Satu hal yang belum terpikirkan sebelumnya bagi saya. Hmm..masih ada hal yang ingin saya capai terlebih dahulu sebelum kearah sana. Tapi, tentu bukan hal yang salah juga kalo kita iseng-iseng mendiskusikannya saat ini. Mungkin dari obrolan-obrolan ringan ini bisa diambil banyak pelajaran untuk ke depannya.

Terkait hal tersebut saya jadi mau menambahkan satu posting di blog/notes ini nih, ehehee.. Tadinya saya ingin menulis langsung dari isi kepala saya sendiri, tapi ketika mulai menulisnya saya malah keingetan sama beberapa bagian di salah satu novel. So, saya buka kembali aja bagian-bagian di novel itu dan hampir sama persis dengan apa yang akan saya tulis. Daripada nanti malah menjiplak mending saya tulis ulang aja bagian novel itu. Langsung aja yak! Cek-dis-ot..!!

Golongan Pria dan Wanita dalam Kehidupannya

*Bagian percakapan Gege dengan teman-temannya di saat makan siang*
.....
“Cowok itu pada dasarnya dibagi jadi dua..”
“ah ah, aku tau lah ini. Mereka yang sepanjang lontong dan sependek tahu?” Eman dengan penuh aspirasi bertanya.
“Hhh! Hina!” Tia memandang dengan jijik.
“Pertama adalah mereka yang percaya adanya seorang wanita dalam kehidupan mereka, akan membuat mereka lebih bersemangat meraih cita-cita. Kata mereka,
‘Malu dong sama pacar kalo nganggur.’
‘Malu dong sama dia kalo ga ranking.’
Bagi mereka, kalo nggak pacaran malah kurang motivasi idup. Mereka butuh orang di samping untuk proses kedewasaan mereka.
Mereka ini butuh dihargai dulu sebelum mereka PD menghadapi hidup.
Mereka bilang
‘Liat deh, gue pengen jadi orang yang lebih dewasa karena elo.’

Kedua adalah mereka yang terkesan jomblo seumur idup. Mereka nggak berani pacaran sebelum tua. Mereka bilang,
‘Takut IP-nya ditanya sama orangtua pacar.’
Gua belum punya apa-apa yang bisa dibanggain.’
Mereka memotivasi diri.
Sebenarnya mereka menempa diri mencari penghargaan dalam hidup agar suatu saat bisa PD menghadapi seorang perempuan.Agar suatu saat bisa bilang,
‘ini loh, gua udah mendewasakan diri. Gua yakin kok gua bisa ngebahagiain elo.’

*Bagian percakapan Gege dan Caca*
.....
Gege menghela nafas panjang. Saatnya dia menjelaskan pada wanita yang dia cintai, apa yang selama ini dia lakukan. Gege kemudian menjelaskan dengan panjang lebar teori yang dulu dia pernah kemukakan di makan siang bersama teman-teman.
“menarik”
“wajar ya Ca.. Gege kan udah 27. Mikirnya kalo pacaran, ya untuk nikah,” kali ini Gege memang bertutur terus terang, tentang bagaimana dia memandang perjodohan.
“Pria itu pemimpin keluarga. Tugasnya melindungi, membina, dan mencukupi. Mereka bangga kalo mereka bisa mencukupi istri dan anak.”
“...”
“Contoh paling gampang. Masalah pria dan harta. Kita lihat banyak pria yang bela-belain nikah tua. Mereka itu pengen maksain kalo mereka punya cukup bekal untuk nikah.”
“Tapi kan nggak semua wanita itu matre Ge. Jangan digener...”
“Bukannya kita memandang bahwa wanita itu matre...” Gege segera meneruskan argumennya.
“...tapi justru kita yang menuntut diri kita untuk mampu membiayai hidup anak istri. Sedablek-dableknya pria, nggak ada suami yang pengen ngeliat istri susah kan?”

“...”
“Itu dari materi. Sekarang dari mental. Banyak juga pria yang nggak mau nikah dulu karena mereka mikir, ngurus diri sendiri aja masih nggak disiplin, susah. Gimana mau ngurusin sebuah keluarga coba? Pria kan imam keluarga. Gimana berani jadi imam, kalo sholat juga masih bolong-bolong?”
“...”
“Di saat semua itu sudah siap, baru kita mencari pasangan. Semua pria dalam kadar yang berbeda mencari tempaan ya Ca. Pria itu membutuhkan pencapaian.”
“untuk?”
“Supaya mereka bisa yakin sama diri sendiri. Dan bisa ngeyakinin wanita bahwa dia layak dicintai.
‘Nih liat gue bisa cari duit.’
‘Nih liat, gue dewasa.’
‘Nih liat, gue bisa mimpin keluarga.”

Mereka saling menyandarkan badan. Mereka melihat gelas masing-masing dan saling tenggelam berusaha meresap apa yang baru Gege katakan.
***

Nah! Kalo menurut kalian gimana nih? Atau mau pilih yang mana?? ^_^
Ini saya bukan mau promosi ya, tapi saya emang harus mencantumkan sumbernya.
Sumber; Gege Mengejar Cinta – Adhitya Mulya.

Selasa, 13 Juli 2010

Tawamu Membuat Saya Senang (Cerpen)

Ole..!!
Akhirnya bs juga muncul kembali nih di dunia pertulis-tulisan. Hmm..tinggal di rumah ternyata lebih banyak godaannya! Dikit-dikit, Kak Yudi..main ini, main itu.. trus kak Yudi..beli ini, beli itu.. ahahaa..tp gapapa, semua itu sungguh menyenangkan dan sekarang, mulai dari senin kemarin semua itu resmi berakhir. Setidaknya dari pagi sampe jam 12 siang. Karena mereka, keponakan-keponakan ane itu udah pada balik ke sekolahnya masing-masing. Aheiy!!

Awalnya ane mw meneruskan hasil percobaan olahan kerangka cerita panjang ane tempo hari tapi ternyata pas udah nulis jadinya malah jadi keluar konten, ahahahaa..dari pada tanggung yawdah ane selesain buat jadi cerpen aj deh. Biar tidak ada kesalahpahaman jadi ane perlu menegaskan bahwa cerita ini adalah FIKSI ^_^. Langsung di-cek aja gan dan jangan lupa dikomentarin yak!! Wajib..!!


Tawamu Membuat Saya Senang

Seperti biasa sehabis bekerja saya mengajak pacar pulang bersama. Seperti biasa saya yang akan menjemputnya. Seperti biasa juga dia, si pacar saya, menunggu di depan kantornya. Tapi, tidak seperti biasa wajah cantik pacar saya berubah jadi kusut seperti itu ketika saya jemput.

“Pasti ada sesuatu”, curiga saya dalam hati.

Oleh karena kusutnya wajah cantik pacar saya, jadi saya harus tau situasi. Bahwa saat ini bukan saat yang tepat buat saya mengatakan, “saya mau menyetrika wajah kusut kamu biar lurus”. Karena bercanda di saat seperti ini, bisa saja menimbulkan tabrakan antar planet atau rusaknya rotasi planet-planet di galaksi Bima Sakti. Sensitifnya pasti masih tinggi.

“Neng beli cartridge dulu ya”, ujar saya kepadanya tapi si-nya masih kusut dan lesu. Dia hanya menjawab singkat dengan mengangguk, “iya”

Sungguh teman, ketika pacar lagi kusut seperti ini rasanya tidak enak. Ingin rasanya segera menyampaikannya ke rumah. Tapii..ah kena macet! Baiklah sepertinya menaikkan kecepatan motor ini adalah alasan yang cukup baik. “Neng pegangan”, ujar saya langsung kebut itu motor!

Saya salip itu semua mobil sepanjang jalan!
Ngesot di tikungan!!
Terabas lampu merah!!
Jemping di depan rumah sakit!!
Turun kek orang gila sepanjang gang!!
ampir nabrak becak di komplek!!
swiiinnggg… akhirnya nyampe juga di rumahnya.

“a, katanya mau beli cartridge?”
--Krik..krik..krik..--

Akhirnya dengan setengah mengulang rute tadi saya berhasil membeli itu cartridge dan kembali sampai di rumah pacar untuk kedua kalinya. Maklum terlalu bersemangat.

Si pacar sudah habis mandi ketika saya datang (lagi) ke rumahnya. Ah, beruntung rasa punya pacar seperti dia. Dikala mandi pun cantiknya tidak luntur oleh air. Bahkan karena mandi badannya malah jadi bersih dan segar. Tapi raut mukanya masih agak kusut jadi menurut saya itu tidak cantik.

Di rumahnya sedang tidak ada orang. Orang tuanya pergi menjenguk saudara yang sedang sakit. Jadi saya dipinta untuk menemaninya. Saya dipersilahkannya duduk di sofa ruang tamu. Dibuatkannya saya segelas orange juice dingin. Diserahkannya itu orange juice dingin ke saya dan dia duduk disamping saya sambil menyandarkan kepalanya dibahu saya. Segar rasanya itu orange juice saya minum. Tapi kurang indah karena yang membuatnya sedang kurang bergairah.

“kenapa?”, saya bertanya dengan hati-hati. Dia lalu cerita. Alaaahhh…nyatanya soal biasa. Masalah kantor yang bikin dia sedih. Bikin dia kesel. “oh, jangan kesel. Justru harusnya kamu harus senang, biar orang yang bikin kamu kesel jadi merasa tidak berhasil bikin kamu kesel. Jangan sedih juga, nanti kita yang rugi..”
“Rugi apa?”
“karena ketika kita lahir orang tua kita senangnya bukan main..” sumpah demi Tuhan, saya sendiri tidak sadar bias berbicara seperti ini.
“hehehe. Iya”, akhirnya dia tertawa.

Tidak lama kemudian hujan datang membawa komplotannya sehingga menjadi deras.
“Neng tau kenapa orang-orang takut kehujanan?”, demi Tuhan, sekali lagi ini keluar secara spontanitas.
“kenapa?”, dia jawab dengan pertanyaan.
“karena hujan datengnya keroyokan”
“hehehee..garing”, ujarnya tapi tetap saja.. meskipun garing dia tetap tertawa. Lanjut.

“Neng tau di dalem matahari itu dingin?”
“lho! Emang gtu?”, sebagai mantan penghuni kelas IPA dia patut keheranan dan beginilah ekspresi jika manusia sedang dilanda kesensitivan tingkat tinggi, mudah tertipu daya.
“khan ada AC-nya neng”
“huuu…garing-garing. Hehehee.”, lagi, meskipun garing tapi dia tetap tertawa. Mungkin tertawanya karena dia merasa ditipu daya kali yah.

“ganti singkatan a!”, nah sekarang dia mulai ikutan, “neng duluan!”, pintanya
“iya”
“Apakah kepanjangan? Singkatan IPOLEKSOSBUDHANKAMNAS? Jawab a!”
Wah dia sungguh ingin mengetes kemampuan saya, “Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, Pertahanan dan Kemanan Nasional”, jawab saya bersemangat dan bergaya seperti orang pintar saja laga-nya.

“salaahhh..ahahahaa..”, dia tertawa geli sekali. “jawabannya iya betul kepanjangan, ahahahaa..”, dia tertawa lagi. Saya juga tertawa. Tertawa akibat malu. Tadi saya menipu dia, sekarang gantian saya yang kena tipu.

Tidak lama kemudian hujan pun reda. Orang tuanya pun tiba di rumah. Oleh sebab itu kini tugas saya menjaganya akan saya limpahkan kembali ke orang tuanya. Eh! Ini bukan karena saya lelaki yang tidak bertanggung jawab yah. Ini karena memang kami belum menikah. Jadi, masih tanggung jawab orang tua masing-masing.

Saya berpamitan kepada orang tuanya dan dia, si pacar mengantarkan saya ke gerbang rumah.
“lebih baikan khan?”, tanya saya padanya
“iya”, jawab si-nya dengan senyum termanisnya malam ini
“Terima kasih donk..”
“iya, terima kasih ya a”
“...kepada Tuhan”
“iya kepada Tuhan”
“...karena sudah memberikan pacar yang baik”
“hrrk..hrrkk..hrrkk..”, itu suara dia pura-pura ngorok sambil menyandarkan kepalanya dibahu saya.

Saya pamit dan saya pulang dengan senang.
***

Jangan lupa komennya yak!