Lama ga nyentuh ini blog, jadi agak bingung juga mau mulai nulis dari mana.
Ah, sudahlah biar tanpa judul saja. Mungkin ini juga hanya ceracas-cerocos gue aja yang mungkin ga penting untuk kalian. Ehmm.. skedar mengingatkan kalian sedang berada di yudibastian.blogspot.com, so, apapun yang ada di blog ini (tanpa bermaksud offensive) terserah saya yah.
Terakhir gue nulis di blog ini, gue sedikit nyerempetin tentang gue yang baru aja diterima di perusahan multinasional yang berasal dari Negri Paman Sam. Selama gue kerja di sana, gue ga sentuh-sentuh ini blog. Sibuk? Tidak juga. Malas? Yah, lebih tepat seperti itu.
Bekerja di dunia retail yang jam operasionalnya 24 jam, membuat gue ketika libur, lebih memilih untuk stay di rumah dan punya waktu tidur lebih, dibanding melakukan hal-hal lainnya. Ini adalah strategi gue agar badan gue ga cepet drop. Sebab kalo tidak seperti itu, gue jamin, badan gue ga akan kuat dan akan lebih mudah sakit. Karena itu pula, gue kadang harus bisa menahan diri untuk sekedar bercengkrama dengan teman dan sahabat-sahabat gue. Gue juga harus sedikit melupakan sesuatu yang udah gue mulai sejak bangku kuliah, menulis.
Apapun yang terjadi itulah konsekuensi dari sebuah pekerjaan yang gue pilih. Ada pengorbanan? Yak, tentu saja. Gue rasa, setiap pekerjaan apapun pasti ada sisi-sisi lain yang harus dikorbankan.
Berjalannya waktu. Gue sangat berterima kasih bisa dikasih kesempatan bekerja di sana. Pengalaman luar biasa, yang mungkin ga akan gue dapat dua kali. Bekerja dengan tim-tim yang hebat dengan berbagai latar belakang yang berbeda, di manapun gue pernah di tempatkan.
Sampai akhirnya gue berada pada klimaks titik jemu.
Ada sesuatu yang bertolak belakang dengan apa yang gue pelajari dengan kenyataan yang gue hadapi. Sorry gue ga akan share lebih tentang hal yang satu ini. Cukup gue sendiri aja yang tau.
Saat titik jemu itu datang. Kesempatan lainnya datang secara tak terduga.
Perjudian besar. Ya, bisa dibilang seperti itu. Perusahaan yang dulu adalah perusahaan yang sudah memiliki nama besar dan punya pangsa pasar yang besar. Sedangkan yang sekarang adalah perusahaan yang baru saja melebarkan sayap-sayap investasinya di Indonesia. Tantangan terbesarnya adalah mengenalkannya kepada masyarakat Indonesia. Bukan sesuatu hal yang mudah tentunya. Tapi, apapun yang terjadi ke depannya, inilah jalan hidup yang gue pilih. Konsekuensi adalah hal yang wajar dalam setiap keputusan. Memulai sesuatunya dari nol lagi bukanlah suatu kesalahan.
Tuhan hanya memberikan jalan. Kita sendirilah yang menentukan di mana kaki ini harus melangkah. Tq
Sabtu, 29 Oktober 2011
Rabu, 26 Januari 2011
Arab vs Cina (Potongan Proyek Kecil-Kecilan Saya)
Aihh… sudah lama sekali saya tidak menyapa kalian. Merindu uy!
Apa kabar agan-agan di sana? Baik-baik saja yah..
Hemm.. langsung aja gan! ini ada potongan cerita yang rencananya akan ada diproyek kecil-kecilan ane, yang sayangnya belum tau selesainya kapan. Wajib dikomentarin yah! :)
Cekidot.. !!
***
“ARAAAAAAPPPP….!!!”, ada suara cewek cempreng manggil gue dari ujung pintu ruang tv. Gue tau siapa pemilik suara cempreng itu.
“Oy Cin.”, jawab gue datar, tanpa antusias.
“Najis lo Rap!”, katanya begitu liat gue rada malas membalas sapaannya yang kelewat antusias. Dia lalu masuk, bergabung dengan kita duduk-duduk di sofa.
Cewek itu adalah Cina. Kenapa Cina? Ya karena dia emang cina. Orang Cina. You know-lah.. mata sipit dan berkulit kuning menuju putih.
Kalo orang yang tidak tau akar mulanya. Pasti gue udah dikira rasis!
Perlu kalian tahu, faktanya tidaklah begitu. Kami cinta damai. Tidak ingin menyulut api permusuhan antar etnis. Itu hanya keisengan gue dan si Cina itu.
Oh, tapi kenapa harus marah juga yah kalo ada orang lain memanggil kita dengan identitas genetik?
Kenapa juga yah harus risih kalo kita dipanggil arab, cina, jawa, sunda, atau negro??
Toh mau marah-semarahnya pun, tidak akan merubah keadaan. Memang begitulah fakta yang ada di tubuh kita.
Bukankah kalian tahu bahwa, Tuhan memang sengaja menciptakan kita berbeda-beda agar kita saling mengenal satu sama lain. Tuhan ingin mengenalkan kita, ini lho yang namanya orang melayu.. ini lho yang namanya orang jawa.. ini lho yang namanya orang cina.. ini lho yang namanya orang arab dan lain sebagainya.
Begitu pula antara pola pikir gue dan kalian. Inilah pemikiran gue tentang perbedaan dan jika kalian berbeda dengan apa yang gue pikirkan, itu adalah pilihan kalian. Kita memang hidup diantara banyaknya perbedaan dan semua tinggal bagaimana kita memandang perbedaan itu sebagai jurang permusuhan atau sebagai fasilitas yang membuat kita saling mengisi kekurangan.
Kisah gue dan si Cina bermula tempo hari saat gue ketemu dia di kelas. Hari itu dia pake baju yang bertuliskan “Jangan Panggil Aku Cina”. Gue langsung kepikiran, gue mau pake baju yang tulisannya “Jangan Panggil Aku Arab”. Trus gue berimajinasi si Janu pake “Jangan Panggil Aku Sunda”. Trus si Jhoni juga “Jangan Panggil Aku Jawa”. Seru juga kayanya.
Eh! tapi kalo semua orang begitu, gue jadi bingung. Mereka tuh serasa tidak bangga yah dengan suku bangsanya masing-masing.
“Terus gue musti manggil lo apa donk?!”, ujar gue begitu baca tulisan dibajunya ‘Jangan Panggil Aku Cina’. Orang yang identitas genetiknya Cina tapi tidak mau dipanggil Cina.
“Ya panggil nama gua donk!”, ujarnya sambil merapikan catetan kuliah hari itu.
“ohh.. ok ok.”, gue mengiyakan tapi tak lama kemudian gue sadar sesuatu,
“lhaaa.. nama lo khan Liu Nio. Itu khan kecina-cinaan juga”
Dia berhenti merapikan catetan, melihat tajam ke arah gue yang persis duduk di bangku di depannya,
“Terserah elo dah Rap!”, ujarnya jutek, lalu pergi tanpa pamit. Ngambek.
Wah! Kalo dia marah, harusnya gue juga boleh marah nih. Kalo diurutkan ceritanya lebih awal, dialah orang yang pertama kali manggil gue dengan “arab”. Padahal khan gue juga punya nama, Bona Al-Saidi, dan kearab-araban juga.
Karena manusia diciptakan berbeda-beda agar saling mengenal satu sama lain. Gue jadi ngerti bahwa tidak semua orang menerima dipanggil identik dengan tubuhnya. Gue adalah orang yang terbuka. Maksudnya gue bisa menerima dan tidak memaksakan kehendak jika berbuat salah.
Besoknya di kantin kampus, gue langsung ngajaknya makan bareng. Mau sekalian minta maaf. Sebelumnya, gue sms dia dulu, isinya kaya gini:
“Lili cantik. Nanti siang makan di kantin yuk! Arab bayarin. Lagi dapet gusuran minyak di Abu Dhabi”, sms dikirim. Kalo cuma sekedar bayarin ketoprak, soto atau bubur ayam mah gue masih sanggup dah.
“ok”,
Cuma itu sms balesan dari dia. Singkat padat dan penuh makna. Sekedar informasi, Lili itu adalah panggilan dari anak-anak cewek dan sebagian cowok lainnya di kampus.
“Kenapa si Rap? Kok diem aja”, ujarnya pas makan soto di kantin.
Gimana gue ga diem yak! Nah pas itu khan gue udah kaya tersangka utama. Penyulut api jika sampai terjadi peperangan antar etnis, terutama yang berkaitan dengan kecina-cinaan dan kearab-araban.
“Ngga napa-napa..”, ujar gue sambil pura-pura menikmati soto yang padahal mah siang itu kuahnya lagi keasinan.
“Rap maaphin Lili ya. Kemaren Arab Lili jutekin seharian”
“Iya Li maafin Arab juga. Kemaren udah salah. Bawa-bawa cina-cinaan”
Ini obrolan udah kaya pacar yang lagi marah-marahan dah.
“bhahahahaa…”
Gue bingung si Lili ketawa
“ohh.. jadi elo ngira gua marah gara-gara itu?”, todongnya tanpa basa-basi lagi
“iya”
“Murah banget gua, ngambek cuma disogok pake soto semangkok!”
“lhaa..trus lo marah kenapa?”
“kaga Arabb.. gua kaga marah gara-gara ituu..”
“trus?”, makin penasaran aja gue!
“Biasa Rapp.. penyakit cewek kalo lagi PMS. Bawaannya sensitip, pengennya marah-marah mulu”
“!@#$%^&* !!!” (ngga tau artinya? Sama, gue juga ga tau itu apa artinya :) lanjuutt..)
Ya Tuhan.. wanita adalah misterimu yang sangat menakjubkan!
Gila, itu emosi naik-turunnya drastis kalo lagi/mau dapet tamu bulanan.
Gue udah khawatir-khawatirnya. Dia cuma bilang itu akibat PMS!!
Besok-besok mungkin dia bakal nabrak gue pake mobil dan di rumah sakit pas gue udah lagi sekarat-karatnya, sambil senyum-senyum dia cuma bilang, “Biasa Rap.. lagi PMS”
SAKIT JIWA !!
Dari sanalah bermulai, tiada dusta diantara kita (dangdut kalii..). Kita tidak memunafikan diri. Kalo gue dipanggil arab ya emang begitulah identitas genetik gue. Kalo si Lili gue panggil cina, ya memang begitu faktanya. Kalo gue panggil si Janu sunda ya memang dia orang sunda. Kalo si Jhoni gue panggil jawa gila. Itu emang pantes!
Tapi tentu, semua panggilan itu juga masih tergantung kondisi. Gue ngga mungkin jugalah manggil si Lili dengan Cina di depan orang tuanya. Karena bisa saja orang tuanya salah menangkap arti sapaan gue itu. Sapaan yang sebetulnya untuk mengakrabkan akan terdengar penghinaan jika lain kondisi dan suasana.
***
Thanks udah mau nyimak gan..
Mohon responnya gan.. ^_^
Apa kabar agan-agan di sana? Baik-baik saja yah..
Hemm.. langsung aja gan! ini ada potongan cerita yang rencananya akan ada diproyek kecil-kecilan ane, yang sayangnya belum tau selesainya kapan. Wajib dikomentarin yah! :)
Cekidot.. !!
***
“ARAAAAAAPPPP….!!!”, ada suara cewek cempreng manggil gue dari ujung pintu ruang tv. Gue tau siapa pemilik suara cempreng itu.
“Oy Cin.”, jawab gue datar, tanpa antusias.
“Najis lo Rap!”, katanya begitu liat gue rada malas membalas sapaannya yang kelewat antusias. Dia lalu masuk, bergabung dengan kita duduk-duduk di sofa.
Cewek itu adalah Cina. Kenapa Cina? Ya karena dia emang cina. Orang Cina. You know-lah.. mata sipit dan berkulit kuning menuju putih.
Kalo orang yang tidak tau akar mulanya. Pasti gue udah dikira rasis!
Perlu kalian tahu, faktanya tidaklah begitu. Kami cinta damai. Tidak ingin menyulut api permusuhan antar etnis. Itu hanya keisengan gue dan si Cina itu.
Oh, tapi kenapa harus marah juga yah kalo ada orang lain memanggil kita dengan identitas genetik?
Kenapa juga yah harus risih kalo kita dipanggil arab, cina, jawa, sunda, atau negro??
Toh mau marah-semarahnya pun, tidak akan merubah keadaan. Memang begitulah fakta yang ada di tubuh kita.
Bukankah kalian tahu bahwa, Tuhan memang sengaja menciptakan kita berbeda-beda agar kita saling mengenal satu sama lain. Tuhan ingin mengenalkan kita, ini lho yang namanya orang melayu.. ini lho yang namanya orang jawa.. ini lho yang namanya orang cina.. ini lho yang namanya orang arab dan lain sebagainya.
Begitu pula antara pola pikir gue dan kalian. Inilah pemikiran gue tentang perbedaan dan jika kalian berbeda dengan apa yang gue pikirkan, itu adalah pilihan kalian. Kita memang hidup diantara banyaknya perbedaan dan semua tinggal bagaimana kita memandang perbedaan itu sebagai jurang permusuhan atau sebagai fasilitas yang membuat kita saling mengisi kekurangan.
Kisah gue dan si Cina bermula tempo hari saat gue ketemu dia di kelas. Hari itu dia pake baju yang bertuliskan “Jangan Panggil Aku Cina”. Gue langsung kepikiran, gue mau pake baju yang tulisannya “Jangan Panggil Aku Arab”. Trus gue berimajinasi si Janu pake “Jangan Panggil Aku Sunda”. Trus si Jhoni juga “Jangan Panggil Aku Jawa”. Seru juga kayanya.
Eh! tapi kalo semua orang begitu, gue jadi bingung. Mereka tuh serasa tidak bangga yah dengan suku bangsanya masing-masing.
“Terus gue musti manggil lo apa donk?!”, ujar gue begitu baca tulisan dibajunya ‘Jangan Panggil Aku Cina’. Orang yang identitas genetiknya Cina tapi tidak mau dipanggil Cina.
“Ya panggil nama gua donk!”, ujarnya sambil merapikan catetan kuliah hari itu.
“ohh.. ok ok.”, gue mengiyakan tapi tak lama kemudian gue sadar sesuatu,
“lhaaa.. nama lo khan Liu Nio. Itu khan kecina-cinaan juga”
Dia berhenti merapikan catetan, melihat tajam ke arah gue yang persis duduk di bangku di depannya,
“Terserah elo dah Rap!”, ujarnya jutek, lalu pergi tanpa pamit. Ngambek.
Wah! Kalo dia marah, harusnya gue juga boleh marah nih. Kalo diurutkan ceritanya lebih awal, dialah orang yang pertama kali manggil gue dengan “arab”. Padahal khan gue juga punya nama, Bona Al-Saidi, dan kearab-araban juga.
Karena manusia diciptakan berbeda-beda agar saling mengenal satu sama lain. Gue jadi ngerti bahwa tidak semua orang menerima dipanggil identik dengan tubuhnya. Gue adalah orang yang terbuka. Maksudnya gue bisa menerima dan tidak memaksakan kehendak jika berbuat salah.
Besoknya di kantin kampus, gue langsung ngajaknya makan bareng. Mau sekalian minta maaf. Sebelumnya, gue sms dia dulu, isinya kaya gini:
“Lili cantik. Nanti siang makan di kantin yuk! Arab bayarin. Lagi dapet gusuran minyak di Abu Dhabi”, sms dikirim. Kalo cuma sekedar bayarin ketoprak, soto atau bubur ayam mah gue masih sanggup dah.
“ok”,
Cuma itu sms balesan dari dia. Singkat padat dan penuh makna. Sekedar informasi, Lili itu adalah panggilan dari anak-anak cewek dan sebagian cowok lainnya di kampus.
“Kenapa si Rap? Kok diem aja”, ujarnya pas makan soto di kantin.
Gimana gue ga diem yak! Nah pas itu khan gue udah kaya tersangka utama. Penyulut api jika sampai terjadi peperangan antar etnis, terutama yang berkaitan dengan kecina-cinaan dan kearab-araban.
“Ngga napa-napa..”, ujar gue sambil pura-pura menikmati soto yang padahal mah siang itu kuahnya lagi keasinan.
“Rap maaphin Lili ya. Kemaren Arab Lili jutekin seharian”
“Iya Li maafin Arab juga. Kemaren udah salah. Bawa-bawa cina-cinaan”
Ini obrolan udah kaya pacar yang lagi marah-marahan dah.
“bhahahahaa…”
Gue bingung si Lili ketawa
“ohh.. jadi elo ngira gua marah gara-gara itu?”, todongnya tanpa basa-basi lagi
“iya”
“Murah banget gua, ngambek cuma disogok pake soto semangkok!”
“lhaa..trus lo marah kenapa?”
“kaga Arabb.. gua kaga marah gara-gara ituu..”
“trus?”, makin penasaran aja gue!
“Biasa Rapp.. penyakit cewek kalo lagi PMS. Bawaannya sensitip, pengennya marah-marah mulu”
“!@#$%^&* !!!” (ngga tau artinya? Sama, gue juga ga tau itu apa artinya :) lanjuutt..)
Ya Tuhan.. wanita adalah misterimu yang sangat menakjubkan!
Gila, itu emosi naik-turunnya drastis kalo lagi/mau dapet tamu bulanan.
Gue udah khawatir-khawatirnya. Dia cuma bilang itu akibat PMS!!
Besok-besok mungkin dia bakal nabrak gue pake mobil dan di rumah sakit pas gue udah lagi sekarat-karatnya, sambil senyum-senyum dia cuma bilang, “Biasa Rap.. lagi PMS”
SAKIT JIWA !!
Dari sanalah bermulai, tiada dusta diantara kita (dangdut kalii..). Kita tidak memunafikan diri. Kalo gue dipanggil arab ya emang begitulah identitas genetik gue. Kalo si Lili gue panggil cina, ya memang begitu faktanya. Kalo gue panggil si Janu sunda ya memang dia orang sunda. Kalo si Jhoni gue panggil jawa gila. Itu emang pantes!
Tapi tentu, semua panggilan itu juga masih tergantung kondisi. Gue ngga mungkin jugalah manggil si Lili dengan Cina di depan orang tuanya. Karena bisa saja orang tuanya salah menangkap arti sapaan gue itu. Sapaan yang sebetulnya untuk mengakrabkan akan terdengar penghinaan jika lain kondisi dan suasana.
***
Thanks udah mau nyimak gan..
Mohon responnya gan.. ^_^
Selasa, 07 Desember 2010
Untukmu Wanita
Senang rasanya bisa kembali menyapa kalian. Langsung saja, satu lagi persembahan dari ane ^_^
Untukmu Wanita
Ketika Tuhan menciptakan wanita , Dia lembur pada hari ke-6. Malaikat datang dan bertanya, "Mengapa begitu lama Tuhan?"
Tuhan menjawab, "Sudahkah engkau lihat semua detail yang Aku buat untuk menciptakan mereka? 2 tangan ini harus bisa dibersihkan, tetapi bahannya bukan dari plastik. Setidaknya terdiri dari 200 bagian, yang bisa digerakkan dan berfungsi baik untuk segala jenis makanan. Mampu menjaga anak-anak, memiliki pelukan yang dapat menenangkan hati dari keterpurukan. Semua dilakukannya dengan 2 tangan ini."
Malaikat itu takjub, "Hanya dengan 2 tangan?"
Tuhan menjawab, "Ya dan Aku akan menyelesaikannya, karena ini adalah ciptaan favoritku. Dia juga akan mampu menyembuhkan dirinya sendiri"
Malaikat mendekat dan mengamati bentuk ciptaan Tuhan itu.
"Tapi Engkau membuatnya begitu lembut Tuhan?"
"Ya, Aku membuatnya begitu lembut, tapi engkau belum bisa membayangkan kekuatan yang Aku berikan agar mereka dapat mengatasi banyak hal yang luar biasa?"
"Dia bisa berpikir?", tanya malaikat.
Tuhan menjawab, " Tak hanya berpikir, dia mampu bernegoisasi."
Malaikat itu menyentuh dagunya.
"Tuhan Engkau buat ciptaan ini kelihatanya lelah dan rapuh, seolah terlalu banyak beban baginya."
"Itu bukan lelah atau rapuh. Itu AIR MATA"
"Untuk apa?", tanya malaikat
Tuhan melanjutkan, " AIR MATA adalah salah satu cara dia mengekspresikan kebahagiaan dan penderitaannya"
"ENGKAU memikirkan segala sesuatunya. Ciptaan-Mu ini sungguh menakjubkan! "
"Ya. Wanita ini akan mempunyai kekuatan bagi laki-laki.
Dia dapat mengatasi bebannya sendiri dan bahkan mengatasi beban laki-laki.
Dia mampu menyimpan kebahagian dan pendapatnya sendiri.
Dia mampu tersenyum bahkan saat hatinya menjerit.
Dia berkorban demi orang yang dicintainya.
Dia menerjunkan diri untuk keluarga.
Dia begitu bahagia mendengar kelahiran.
Dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang.
Hatinya akan begitu sedih ketika mendengar berita sakit dan kematian. Akan tetapi dia selalu punya kekuatan untuk mengatasi hidup, dia tahu bahwa sebuah pelukan dapat menyembuhkan luka.
Hanya 1 Kekurangan dari Wanita itu,
DIA LUPA BETAPA BERHARGANYA DIA
Makasih udah mau nyimak gan ^_^
Untukmu Wanita
Ketika Tuhan menciptakan wanita , Dia lembur pada hari ke-6. Malaikat datang dan bertanya, "Mengapa begitu lama Tuhan?"
Tuhan menjawab, "Sudahkah engkau lihat semua detail yang Aku buat untuk menciptakan mereka? 2 tangan ini harus bisa dibersihkan, tetapi bahannya bukan dari plastik. Setidaknya terdiri dari 200 bagian, yang bisa digerakkan dan berfungsi baik untuk segala jenis makanan. Mampu menjaga anak-anak, memiliki pelukan yang dapat menenangkan hati dari keterpurukan. Semua dilakukannya dengan 2 tangan ini."
Malaikat itu takjub, "Hanya dengan 2 tangan?"
Tuhan menjawab, "Ya dan Aku akan menyelesaikannya, karena ini adalah ciptaan favoritku. Dia juga akan mampu menyembuhkan dirinya sendiri"
Malaikat mendekat dan mengamati bentuk ciptaan Tuhan itu.
"Tapi Engkau membuatnya begitu lembut Tuhan?"
"Ya, Aku membuatnya begitu lembut, tapi engkau belum bisa membayangkan kekuatan yang Aku berikan agar mereka dapat mengatasi banyak hal yang luar biasa?"
"Dia bisa berpikir?", tanya malaikat.
Tuhan menjawab, " Tak hanya berpikir, dia mampu bernegoisasi."
Malaikat itu menyentuh dagunya.
"Tuhan Engkau buat ciptaan ini kelihatanya lelah dan rapuh, seolah terlalu banyak beban baginya."
"Itu bukan lelah atau rapuh. Itu AIR MATA"
"Untuk apa?", tanya malaikat
Tuhan melanjutkan, " AIR MATA adalah salah satu cara dia mengekspresikan kebahagiaan dan penderitaannya"
"ENGKAU memikirkan segala sesuatunya. Ciptaan-Mu ini sungguh menakjubkan! "
"Ya. Wanita ini akan mempunyai kekuatan bagi laki-laki.
Dia dapat mengatasi bebannya sendiri dan bahkan mengatasi beban laki-laki.
Dia mampu menyimpan kebahagian dan pendapatnya sendiri.
Dia mampu tersenyum bahkan saat hatinya menjerit.
Dia berkorban demi orang yang dicintainya.
Dia menerjunkan diri untuk keluarga.
Dia begitu bahagia mendengar kelahiran.
Dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang.
Hatinya akan begitu sedih ketika mendengar berita sakit dan kematian. Akan tetapi dia selalu punya kekuatan untuk mengatasi hidup, dia tahu bahwa sebuah pelukan dapat menyembuhkan luka.
Hanya 1 Kekurangan dari Wanita itu,
DIA LUPA BETAPA BERHARGANYA DIA
Makasih udah mau nyimak gan ^_^
Senin, 04 Oktober 2010
Dimsum (Idola Sang Pacar)
Hai..!! akhirnya bisa posting-posting lagi..
Gimana kabar agan-agan di-seberang sana nih? Baik-baik sajalah yah. Kalo kabar ane? Uhm..*sambil keselek salak*, lagi rada kurang bersahabat sama yang namanya leye-leye. Di mana 5 dari 7 hari harus dilewatkan bergaul dengan buku-buku yang ga kalah tebel sama modulnya anak kedokteran. Dunia semakin mendekati kiamat karena ane harus hafal, setidaknya 90% dari isi buku-buku itu! FYI, Hafal-menghafal adalah perbuatan yang sulit ane lakukan. Ane masih suka ketinggalan dalam hal hafal-menghafal, bahkan untuk rata-rata kemampuan orang menghafal. Meskipun demikian ane tetep usahakan yang terbaik, so minta doanya agan-agan yak! ^_^
Lagi, belakangan ini ane kembali masuk dalam taraf panceklik postingan baru. So, main-mainlah ane ke folder-folder lama di kompi dan menemukan ada sesuatu yang bikin ane senyum-senyum sendiri di depan monitor. Langsung aja cekidot..!!
Dimsum
Hai. Nama gue Ule dan gue adalah pacar paling sial di dunia. Pacar gue yang bernama Guti…uhmm, let me re-phrase that. Pacar gue, yang bernama Guti, tergila-gila dengan seorang bintang film Indonesia bernama Dimas Sumitro. Seorang bintang muda Indonesia yang gemilang. Akting dalam semua film layar lebarnya memang sih gue akui, jago. I tell you, gak ada yang lebih bikin minder dari pada seorang pacar yang tergila-gila sama orang yang lebih terkenal, 160 kali lebih kaya dan kurang lebih, 2 juta kali lebih ganteng di umur yang sama dengan gue.
Gue dan Guti berusia 20 tahun dan yang membuat gue minder adalah bahwa Dimsum ini, begitu gue menyingkat dia, di-umur yang sama sudah membintangi 5 film layar lebar. Kebayang dong minder gue seperti apa. Untuk menambah kesengsaraan hidup, tega-teganya Cannes Film Festival menobatkan dia sebagai actor terbaik dalam kategori film asing 2003. Itu di saat dia berumur 19. If that’s not enough, santer isu yang beredar IPK-nya di Universitas Jakarta juga terancam 4. Gue? Terancam gak lulus-lulus. Uhm, … where was I? oh yes, he’s a star, I’m basically a toad. Satu-satunya konsolasi bagi gue adalah kenyataan bahwa dia medok.
Entah gue dosa apa, mungkin waktu kecil gue salah omong ke nenek atau apa, ada stasiun TV yang memutar film Tukang Siomay ini 5 malam berturut-turut. Guti ada dasarnya seperti diem di sofa menunggu semua film itu. Dia bahkan bersumpah untuk tidak kuliah satu minggu ini dengan alasan, “Kalo pulang kuliah dan macet, kelewatan dong Guti.”
Janjian ama gue aja, ngaretnya se-abad.
Malam pertama, gue ikut menyaksikan film pertama di rumah Guti. Ini Adalah film Dimsum pertama. Film ini berjudul “Malin Kundang”, sebuah film dari legenda minang yang sukses dibawakan Dimsum dengan medok yang anehnya, tidak ada yang kritik. Sebenarnya gak terlalu ikhlas juga sih menonton tapi di luar, hujan. So there I was stuck.. di samping Guti yang berdecak kagum “Gantengnyaaaa..” setiap -mungkin, 2 detik sekali.
Iklan! Hore! Gue sedikit lega.
Iklan itu produk pasta gigi.
Bintang wanitanya cantik.
Bintang prianya?
Dimsum
ARRRGGHHHH!!
“Kamu suka banget sama dia?” Tanya gue, dengan bodohnya.
“Biasa aja.” Gue ulek juga ni anak.
“Basi banget kamu.”
“Ya iya lah gua suka banget sama dia, gimana sih?” Lha, jadi gue yang salah?
“Aktingnya keren banget. Ngerti gitu bikin percaya penonton. Ganteng pula. Trus pinter, trus..” kalimat berikutnya gue cukup blur karena terlalu sibuk doa TV ini disambar petir.
*DZEEEEZZZZZ*
Ha! Petir! Makan tuh Siomay, sayangku.
“Yaaahh…. mampus banget. Aduh gue pengen banget nonton ini.”
“Kamu kan udah punya VCDnya.”
“Rusak. Baret. Gara-gara….” ada jeda lama di kalimat itu yang disertai lirikan dari matanya di sela poni panjang yang cantik “…. keseringan Guti tonton.”
“Ah..sakit jiwa cewek gue.”
“Eh Le….uhm, betulin antenanya dong sayaaang..”
“Rumah kamu ini udah 3 tingkat..” gue berusaha menjadi orang yang lebih sensible, menjelaskan.
“Makanya.. cepetan.” Et dah buset ni bocah.
“Guti mau Ule kesamber petir?”
“Ule mau Guti kesamber petir?”
“GKGKGKGKKIKKK” gue memberikan pantomime, ‘sini-lo-gue-cekek’ sambil mengalah beranjak ke lantai tiga.
Pas gue lagi basah-basah itulah gue mendapat ide brilyan. Kenapa gak gue cari alamat Dimsum, set-up satu kencan dengan Guti di hari Valentine? That’s brilyant! Okay, okay, that’s dumb utterly. But it’s so stupid that’s brilyant! Sekarang begini,
1. Gue pertemukan Guti dengan Malin Kundang ini.
2. Mereka makan malam sebentar, biarkan Guti bertanya apa saja langsung pada bintang favoritnya.
3. Guti akan puas mengenal Dimsum ini. Tidak akan ada lagi acara Guti penasaran.
4. Dimsum akan keluar dari semua system pendarahan Guti dan mengurangi resiko menjadikan Guti seorang psikopat. Seperti apa ya…uhm, memberikan es kirim ke arwah penasaran yang mengantui rumah karena mati ditabrak truk pas mau beli es krim.
5. Gue dan Guti dapat melanjutkan kehidupan dengan damai. Pacaran, nikah and have lots and lots and lots, of sex tanpa salah satu memfantasikan Dimsum. In my case, membayangkan memotong-motong Dimsum. See the logic now?
Gue pikir gak apa-apa Guti kencan dengan Dimsum. Gue sayang Guti. Bener-bener sayang sama Guti. Itu, dan gue akan masuk jurang jika gue denger sekali lagi Dimsum disebut. So, keesokan harinya gue bolos kuliah dan memutuskan untuk mencari teman-teman gue yang kira-kira tahu bagaimana cara mengontak Dimsum. Sebuah keputusan yang salah karena ternyata semua masuk kuliah !!
Fine, gue pergi dari rumah gue di Jakarta Selatan menuju kampus, di Depok, Selatan Jakarta hanya untuk menemukan bahwa semua sudah pulang. Tenang, tenang. Belum saatnya melempar belimbing ke orang jelek, begitu gue bilang ke diri gue.
Akhirnya gue ada ide cemerlang. Gue pergi ke tempat rental VCD dan mencari rumah produksi film-film dari Dimsum. Dari sana akan gue cari di yellow pages nomor kontak PH dan gue tanya nomor kontak Dimsum.
‘Klining, klining’
Kenapa sih ada sebagian orang di dunia ini yang mengira bahwa memasang lonceng di pintu itu sesuatu yang cerdas? Anway, fokus.
“Siang Mbak. Ada film-filmnya Dimas Sumitro?” Ternyata pertanyaan ini meniumbulkan efek mata penuh mimpi bagi gadis penjaga rental. “Mbak? Mbak? Hai?”
“Oh? Uhmm sori otak saya brenti. Saya gak ngeces kan tadi?”
Sabar. Sabaaaaaaar sabar. “Gak kok Mbak. Ada film-filmnya Dimas Sumitro?”
Kembali sang mbak dengan mata penuh mimpi.
“Would you STOP THAT?” gue hampir mencekik sang mbak.
“Mas anggota sini?”
“Nggak.”
“Maaf saya gak bisa layani.”
Akhirnya gue membayar keanggotaan dan mengisi lembar keanggotaan yang mana jauh lebih rumit dari mengantri imunisasi anak. Selesai.
“Ya udah. Nih. Saya mau minjem salah satu film Dimas Sumitro. Yang mana aja terserah.”
“Pada keluar Mas namanya juga bentar lagi valentine.” Ujar sang mbak dengan air muka ‘gimana-sih?’
“ARRRGGGHHHH GJGKJGKIGKGKJGKGHLJGKGKKK”
Gue keluar dari tempat VCD itu dan mendapatkan akal baru. Gue pergi ke TU kampus, mungkin mereka memiliki nomor telfon kantor TU kampus dari Dimsum. Gue cukup yakin ikatan antar TU kampus itu erat. Setiap tahun mungkin mereka saling berkumpul dalam KTUKI (Konferensi TU Kampus Indonesia) di mana pegawai TU kampus Dimsum akan dengan secara kasual minum teh, makan biscuit dan memulai percakapan dengan,
“Dek Dimas Sumitro ganteng sekali lo.” Yang dibalas dengan malas oleh yang lain dengan,
“Denger-denger secara kasat mata, jidatnya gak proporsional ya Bu?”
I’ sure of that. Regarding the conference.. and the jidat issue.
Anyway, where was I? oh yes, on the way to to my TU. Sampai di sana gue meminta agar gue dapat berbicara langsung dengan pegawai TU, maksud gue agar lebih sopan. Pegawai TU di seberang bernama Mbak Pipit, seorang wanita yang telah lewat masa mbak-mbaknya namun masih berstatus ‘mbak’.
“Siang Mbak Pipit. Nama saya Ule. Rulli Prasetya. Boleh saya tahu nomor telfon Dimas Sumitro?”
“Ada alasan khusus kenapa mas ingin tau nomor telfon mas-mas lain?”
“Oh sori. Jadi gini Mbak. Saya ingin mengatur sebuah kencan di hari valentine dengan Dimas Sumitro.”
“Uhmmm setahu saya dia bukan gay loh mas, maaf loh….”
“Oh bukan Mbak. Bukan dengan saya. Dengan pacar saya.”
“SAKIT!”
-Klik-
“Loh? Loh? LOHH!!” Akhirnya gue coba telfon lagi dan berusaha menjelaskan kepada Mbak Pipit sebaik mungkin. Mbak Pipit akhirnya kembali tenang.
“Tapi saya gak tau mas nomor HP-nya, Kalo pun tau, ngapain saya ngasih tau Mas?”
“Hhh…..Tapi dia ada di sana? Kuliah gak?”
“Kuliah Mas. Saya yakin. Soalnya tadi dia baru saja masuk ke dalam kantor ini dengan rambut coklatnya. Dia menatap saya dengan tatapan dingin gagah yang memperlihatkan bahu bidang dibalut kemeja John Curtis biru. Tato di lengan kokohnya terlihat ketika dia menyerahkan buku absen dosen sambil berkata penuh chemistry pada saya ‘Ini mbak….’ Hhh hhh hhh..”
“SAKIT!”
-Klik-
Gue menghormati kenyataan bahwa tukang Siomay ini pasti sibuk. Jadi gue memutuskan untuk melakukan perjalanan lintas kota di panasnya Jakarta dari selatan ke utara, sebuah perjalanan yang dapat mentransformasi pria baik-baik perlente rapih seperti gua sampai di tujuan terlihat seperti yang baru saja melakukan kesalahan dan di-arak massa.
Dalam bus pertama Gue dengan sukses menduduki kursi yang ternyata baru saja di-ompoli anak kecil penduduk sebelumnya.
Dalam bus kedua, gue ikut mendorongnya.
Dalam mikrolet sesudahnya, gue dipalak anak STM yang meski 3 tahun lebih muda, 30 kali lebih banyak.
Di bus ketiga ada nenek-nenek muntah di atas pangkuan.
Di mikrolet kedua gue bertemu lagi dengan para anak STM itu. Gue berusaha menginisiasi percakapan dengan mengatakan bahwa Jakarta itu sangat panas namun percakapan ini tidak ditanggapi dengan baik.
Di bus keempat gue terpaksa memberikan jam tangan gue kepada supir yang tidak percaya bahwa gue baru saja ditodong dua kali oleh anak STM yang sama.
Bus kelima, diserang anak STM itu.
Sekali lagi bertemu mereka, sumpah deh gue bakal bikin milis.
Setelah 6 jam, di pukul 17:00, gua sampai di kampus si Joko Tingkir eh maaf, Malin Kundang itu. Sekarang gue memakai sandal hasil barter palak. Tapi tak apa. Yang penting sampai, pikir gue sambil masuk gerbang.
“Maaf Dek. Masuk kampus ini gak boleh make sandal.”
Meninggal aja gue sekalian! Tepat di saat itu, sebuah mobil Jaguar keluar perlahan dari gerbang. Ha! Dimsum!
“STOP!”
Alhamdulillah akhirnya bertemu juga dengan dia. Dia membuka kaca. Ada konvensi di alam sosial Jakarta bahwa semakin mahal mobil, semakin lambat power window terbuka untuk menimbulkan kesan lebih dramatis dan angkuh. It works like hell. Ini saatnya. Gue harus baik-baik untuk membujuk dia ikut dengan rencana gue.
“Siomaynya satu Dim.” DAMN!
“Sori?”
“Uhmmm sori Dim..” Gue kemudian mengutarakan rencana gue. Meminta satu malam kesediaan dia untuk makan malam di restoran yang dia pilih dan semua biaya gue yang bayar. Wajar karena dia artis dan dia pasti lebih tahu restoran mana yang membuat wanita klepek-klepek. Gue ceritakan juga bahwa pacar gue adlaah fans terberat dia dan dia akan sangat menghargai acara ini. Gue sempat kehilangan fokus presentasi ketika gue sadar di dalamnya penuh dengan artis lain. Semua wanita. Lucky bastard!
“..jadi gimana?”
“Sori. Gue gak nge-date sama orang yang gue gak kenal.” Jawabnya, tanpa menimbang bahkan ½ detik dan berlalu. Lengkap dengan kaca angkuhnya.
Gue speechless.
Jam yang gue serahkan pada kondektur adalah pemberian Guti untuk valentine 2002. Sepatu favorit yang gue pakai setiap hari, yang dipalak oleh anak-anak STM itu, pemberianya di valentine 2001.
“Gila ya, kamu.” Begitu reaksi pertama Guti dengan mata nanar. Tidak mempercayai kebodohan pacarnya mungkin. Gue hanya dapat mengangkat bahu.
“Ule cuman pengen Guti seneng. Ule tau Guti gak akan ngapa-ngapain. Ule tau Guti sayang sama Ule. Bagi Ule, Siomay gila itu gak lebih dari sekeping VCD rental yang dipinjam semalam. Bedanya VCD ini bisa makan bareng kamu. Kamu kan fans berat. Ya kenalan lah. Kaya temu selebriti gitu.”
“Idih ngapain banget? Guti juga suka George Clooney tapi kan bukan berarti mesti ketemu. Masak kamu gak tau sih betapa sombongnya dia? Infotainment berantakan gitu di mana-mana.”
“Lain kali tergila-gila sama orang, jelek-jeleknya juga kasih tau dong!”
“Iya iya.”
“Ya sud. Kamu valentine mau apa? Ule gak kepikiran lagi apaan. But you deserve something special.”
“Ya saya cuma pengen kamu aja coz you’re my something special.” (end)
Maaph kepanjangan gan! Dan makasih udah mau nyimak.. ^_^
sumber: suamigila.com
Gimana kabar agan-agan di-seberang sana nih? Baik-baik sajalah yah. Kalo kabar ane? Uhm..*sambil keselek salak*, lagi rada kurang bersahabat sama yang namanya leye-leye. Di mana 5 dari 7 hari harus dilewatkan bergaul dengan buku-buku yang ga kalah tebel sama modulnya anak kedokteran. Dunia semakin mendekati kiamat karena ane harus hafal, setidaknya 90% dari isi buku-buku itu! FYI, Hafal-menghafal adalah perbuatan yang sulit ane lakukan. Ane masih suka ketinggalan dalam hal hafal-menghafal, bahkan untuk rata-rata kemampuan orang menghafal. Meskipun demikian ane tetep usahakan yang terbaik, so minta doanya agan-agan yak! ^_^
Lagi, belakangan ini ane kembali masuk dalam taraf panceklik postingan baru. So, main-mainlah ane ke folder-folder lama di kompi dan menemukan ada sesuatu yang bikin ane senyum-senyum sendiri di depan monitor. Langsung aja cekidot..!!
Dimsum
Hai. Nama gue Ule dan gue adalah pacar paling sial di dunia. Pacar gue yang bernama Guti…uhmm, let me re-phrase that. Pacar gue, yang bernama Guti, tergila-gila dengan seorang bintang film Indonesia bernama Dimas Sumitro. Seorang bintang muda Indonesia yang gemilang. Akting dalam semua film layar lebarnya memang sih gue akui, jago. I tell you, gak ada yang lebih bikin minder dari pada seorang pacar yang tergila-gila sama orang yang lebih terkenal, 160 kali lebih kaya dan kurang lebih, 2 juta kali lebih ganteng di umur yang sama dengan gue.
Gue dan Guti berusia 20 tahun dan yang membuat gue minder adalah bahwa Dimsum ini, begitu gue menyingkat dia, di-umur yang sama sudah membintangi 5 film layar lebar. Kebayang dong minder gue seperti apa. Untuk menambah kesengsaraan hidup, tega-teganya Cannes Film Festival menobatkan dia sebagai actor terbaik dalam kategori film asing 2003. Itu di saat dia berumur 19. If that’s not enough, santer isu yang beredar IPK-nya di Universitas Jakarta juga terancam 4. Gue? Terancam gak lulus-lulus. Uhm, … where was I? oh yes, he’s a star, I’m basically a toad. Satu-satunya konsolasi bagi gue adalah kenyataan bahwa dia medok.
Entah gue dosa apa, mungkin waktu kecil gue salah omong ke nenek atau apa, ada stasiun TV yang memutar film Tukang Siomay ini 5 malam berturut-turut. Guti ada dasarnya seperti diem di sofa menunggu semua film itu. Dia bahkan bersumpah untuk tidak kuliah satu minggu ini dengan alasan, “Kalo pulang kuliah dan macet, kelewatan dong Guti.”
Janjian ama gue aja, ngaretnya se-abad.
Malam pertama, gue ikut menyaksikan film pertama di rumah Guti. Ini Adalah film Dimsum pertama. Film ini berjudul “Malin Kundang”, sebuah film dari legenda minang yang sukses dibawakan Dimsum dengan medok yang anehnya, tidak ada yang kritik. Sebenarnya gak terlalu ikhlas juga sih menonton tapi di luar, hujan. So there I was stuck.. di samping Guti yang berdecak kagum “Gantengnyaaaa..” setiap -mungkin, 2 detik sekali.
Iklan! Hore! Gue sedikit lega.
Iklan itu produk pasta gigi.
Bintang wanitanya cantik.
Bintang prianya?
Dimsum
ARRRGGHHHH!!
“Kamu suka banget sama dia?” Tanya gue, dengan bodohnya.
“Biasa aja.” Gue ulek juga ni anak.
“Basi banget kamu.”
“Ya iya lah gua suka banget sama dia, gimana sih?” Lha, jadi gue yang salah?
“Aktingnya keren banget. Ngerti gitu bikin percaya penonton. Ganteng pula. Trus pinter, trus..” kalimat berikutnya gue cukup blur karena terlalu sibuk doa TV ini disambar petir.
*DZEEEEZZZZZ*
Ha! Petir! Makan tuh Siomay, sayangku.
“Yaaahh…. mampus banget. Aduh gue pengen banget nonton ini.”
“Kamu kan udah punya VCDnya.”
“Rusak. Baret. Gara-gara….” ada jeda lama di kalimat itu yang disertai lirikan dari matanya di sela poni panjang yang cantik “…. keseringan Guti tonton.”
“Ah..sakit jiwa cewek gue.”
“Eh Le….uhm, betulin antenanya dong sayaaang..”
“Rumah kamu ini udah 3 tingkat..” gue berusaha menjadi orang yang lebih sensible, menjelaskan.
“Makanya.. cepetan.” Et dah buset ni bocah.
“Guti mau Ule kesamber petir?”
“Ule mau Guti kesamber petir?”
“GKGKGKGKKIKKK” gue memberikan pantomime, ‘sini-lo-gue-cekek’ sambil mengalah beranjak ke lantai tiga.
Pas gue lagi basah-basah itulah gue mendapat ide brilyan. Kenapa gak gue cari alamat Dimsum, set-up satu kencan dengan Guti di hari Valentine? That’s brilyant! Okay, okay, that’s dumb utterly. But it’s so stupid that’s brilyant! Sekarang begini,
1. Gue pertemukan Guti dengan Malin Kundang ini.
2. Mereka makan malam sebentar, biarkan Guti bertanya apa saja langsung pada bintang favoritnya.
3. Guti akan puas mengenal Dimsum ini. Tidak akan ada lagi acara Guti penasaran.
4. Dimsum akan keluar dari semua system pendarahan Guti dan mengurangi resiko menjadikan Guti seorang psikopat. Seperti apa ya…uhm, memberikan es kirim ke arwah penasaran yang mengantui rumah karena mati ditabrak truk pas mau beli es krim.
5. Gue dan Guti dapat melanjutkan kehidupan dengan damai. Pacaran, nikah and have lots and lots and lots, of sex tanpa salah satu memfantasikan Dimsum. In my case, membayangkan memotong-motong Dimsum. See the logic now?
Gue pikir gak apa-apa Guti kencan dengan Dimsum. Gue sayang Guti. Bener-bener sayang sama Guti. Itu, dan gue akan masuk jurang jika gue denger sekali lagi Dimsum disebut. So, keesokan harinya gue bolos kuliah dan memutuskan untuk mencari teman-teman gue yang kira-kira tahu bagaimana cara mengontak Dimsum. Sebuah keputusan yang salah karena ternyata semua masuk kuliah !!
Fine, gue pergi dari rumah gue di Jakarta Selatan menuju kampus, di Depok, Selatan Jakarta hanya untuk menemukan bahwa semua sudah pulang. Tenang, tenang. Belum saatnya melempar belimbing ke orang jelek, begitu gue bilang ke diri gue.
Akhirnya gue ada ide cemerlang. Gue pergi ke tempat rental VCD dan mencari rumah produksi film-film dari Dimsum. Dari sana akan gue cari di yellow pages nomor kontak PH dan gue tanya nomor kontak Dimsum.
‘Klining, klining’
Kenapa sih ada sebagian orang di dunia ini yang mengira bahwa memasang lonceng di pintu itu sesuatu yang cerdas? Anway, fokus.
“Siang Mbak. Ada film-filmnya Dimas Sumitro?” Ternyata pertanyaan ini meniumbulkan efek mata penuh mimpi bagi gadis penjaga rental. “Mbak? Mbak? Hai?”
“Oh? Uhmm sori otak saya brenti. Saya gak ngeces kan tadi?”
Sabar. Sabaaaaaaar sabar. “Gak kok Mbak. Ada film-filmnya Dimas Sumitro?”
Kembali sang mbak dengan mata penuh mimpi.
“Would you STOP THAT?” gue hampir mencekik sang mbak.
“Mas anggota sini?”
“Nggak.”
“Maaf saya gak bisa layani.”
Akhirnya gue membayar keanggotaan dan mengisi lembar keanggotaan yang mana jauh lebih rumit dari mengantri imunisasi anak. Selesai.
“Ya udah. Nih. Saya mau minjem salah satu film Dimas Sumitro. Yang mana aja terserah.”
“Pada keluar Mas namanya juga bentar lagi valentine.” Ujar sang mbak dengan air muka ‘gimana-sih?’
“ARRRGGGHHHH GJGKJGKIGKGKJGKGHLJGKGKKK”
Gue keluar dari tempat VCD itu dan mendapatkan akal baru. Gue pergi ke TU kampus, mungkin mereka memiliki nomor telfon kantor TU kampus dari Dimsum. Gue cukup yakin ikatan antar TU kampus itu erat. Setiap tahun mungkin mereka saling berkumpul dalam KTUKI (Konferensi TU Kampus Indonesia) di mana pegawai TU kampus Dimsum akan dengan secara kasual minum teh, makan biscuit dan memulai percakapan dengan,
“Dek Dimas Sumitro ganteng sekali lo.” Yang dibalas dengan malas oleh yang lain dengan,
“Denger-denger secara kasat mata, jidatnya gak proporsional ya Bu?”
I’ sure of that. Regarding the conference.. and the jidat issue.
Anyway, where was I? oh yes, on the way to to my TU. Sampai di sana gue meminta agar gue dapat berbicara langsung dengan pegawai TU, maksud gue agar lebih sopan. Pegawai TU di seberang bernama Mbak Pipit, seorang wanita yang telah lewat masa mbak-mbaknya namun masih berstatus ‘mbak’.
“Siang Mbak Pipit. Nama saya Ule. Rulli Prasetya. Boleh saya tahu nomor telfon Dimas Sumitro?”
“Ada alasan khusus kenapa mas ingin tau nomor telfon mas-mas lain?”
“Oh sori. Jadi gini Mbak. Saya ingin mengatur sebuah kencan di hari valentine dengan Dimas Sumitro.”
“Uhmmm setahu saya dia bukan gay loh mas, maaf loh….”
“Oh bukan Mbak. Bukan dengan saya. Dengan pacar saya.”
“SAKIT!”
-Klik-
“Loh? Loh? LOHH!!” Akhirnya gue coba telfon lagi dan berusaha menjelaskan kepada Mbak Pipit sebaik mungkin. Mbak Pipit akhirnya kembali tenang.
“Tapi saya gak tau mas nomor HP-nya, Kalo pun tau, ngapain saya ngasih tau Mas?”
“Hhh…..Tapi dia ada di sana? Kuliah gak?”
“Kuliah Mas. Saya yakin. Soalnya tadi dia baru saja masuk ke dalam kantor ini dengan rambut coklatnya. Dia menatap saya dengan tatapan dingin gagah yang memperlihatkan bahu bidang dibalut kemeja John Curtis biru. Tato di lengan kokohnya terlihat ketika dia menyerahkan buku absen dosen sambil berkata penuh chemistry pada saya ‘Ini mbak….’ Hhh hhh hhh..”
“SAKIT!”
-Klik-
Gue menghormati kenyataan bahwa tukang Siomay ini pasti sibuk. Jadi gue memutuskan untuk melakukan perjalanan lintas kota di panasnya Jakarta dari selatan ke utara, sebuah perjalanan yang dapat mentransformasi pria baik-baik perlente rapih seperti gua sampai di tujuan terlihat seperti yang baru saja melakukan kesalahan dan di-arak massa.
Dalam bus pertama Gue dengan sukses menduduki kursi yang ternyata baru saja di-ompoli anak kecil penduduk sebelumnya.
Dalam bus kedua, gue ikut mendorongnya.
Dalam mikrolet sesudahnya, gue dipalak anak STM yang meski 3 tahun lebih muda, 30 kali lebih banyak.
Di bus ketiga ada nenek-nenek muntah di atas pangkuan.
Di mikrolet kedua gue bertemu lagi dengan para anak STM itu. Gue berusaha menginisiasi percakapan dengan mengatakan bahwa Jakarta itu sangat panas namun percakapan ini tidak ditanggapi dengan baik.
Di bus keempat gue terpaksa memberikan jam tangan gue kepada supir yang tidak percaya bahwa gue baru saja ditodong dua kali oleh anak STM yang sama.
Bus kelima, diserang anak STM itu.
Sekali lagi bertemu mereka, sumpah deh gue bakal bikin milis.
Setelah 6 jam, di pukul 17:00, gua sampai di kampus si Joko Tingkir eh maaf, Malin Kundang itu. Sekarang gue memakai sandal hasil barter palak. Tapi tak apa. Yang penting sampai, pikir gue sambil masuk gerbang.
“Maaf Dek. Masuk kampus ini gak boleh make sandal.”
Meninggal aja gue sekalian! Tepat di saat itu, sebuah mobil Jaguar keluar perlahan dari gerbang. Ha! Dimsum!
“STOP!”
Alhamdulillah akhirnya bertemu juga dengan dia. Dia membuka kaca. Ada konvensi di alam sosial Jakarta bahwa semakin mahal mobil, semakin lambat power window terbuka untuk menimbulkan kesan lebih dramatis dan angkuh. It works like hell. Ini saatnya. Gue harus baik-baik untuk membujuk dia ikut dengan rencana gue.
“Siomaynya satu Dim.” DAMN!
“Sori?”
“Uhmmm sori Dim..” Gue kemudian mengutarakan rencana gue. Meminta satu malam kesediaan dia untuk makan malam di restoran yang dia pilih dan semua biaya gue yang bayar. Wajar karena dia artis dan dia pasti lebih tahu restoran mana yang membuat wanita klepek-klepek. Gue ceritakan juga bahwa pacar gue adlaah fans terberat dia dan dia akan sangat menghargai acara ini. Gue sempat kehilangan fokus presentasi ketika gue sadar di dalamnya penuh dengan artis lain. Semua wanita. Lucky bastard!
“..jadi gimana?”
“Sori. Gue gak nge-date sama orang yang gue gak kenal.” Jawabnya, tanpa menimbang bahkan ½ detik dan berlalu. Lengkap dengan kaca angkuhnya.
Gue speechless.
Jam yang gue serahkan pada kondektur adalah pemberian Guti untuk valentine 2002. Sepatu favorit yang gue pakai setiap hari, yang dipalak oleh anak-anak STM itu, pemberianya di valentine 2001.
“Gila ya, kamu.” Begitu reaksi pertama Guti dengan mata nanar. Tidak mempercayai kebodohan pacarnya mungkin. Gue hanya dapat mengangkat bahu.
“Ule cuman pengen Guti seneng. Ule tau Guti gak akan ngapa-ngapain. Ule tau Guti sayang sama Ule. Bagi Ule, Siomay gila itu gak lebih dari sekeping VCD rental yang dipinjam semalam. Bedanya VCD ini bisa makan bareng kamu. Kamu kan fans berat. Ya kenalan lah. Kaya temu selebriti gitu.”
“Idih ngapain banget? Guti juga suka George Clooney tapi kan bukan berarti mesti ketemu. Masak kamu gak tau sih betapa sombongnya dia? Infotainment berantakan gitu di mana-mana.”
“Lain kali tergila-gila sama orang, jelek-jeleknya juga kasih tau dong!”
“Iya iya.”
“Ya sud. Kamu valentine mau apa? Ule gak kepikiran lagi apaan. But you deserve something special.”
“Ya saya cuma pengen kamu aja coz you’re my something special.” (end)
Maaph kepanjangan gan! Dan makasih udah mau nyimak.. ^_^
sumber: suamigila.com
Sabtu, 02 Oktober 2010
Kenapa Orang Tua Melarang Anaknya Pacaran?
Akhirnyaaaa.. bisa juga menjamah ini blog/notes lagi.
Apa kabar agan-agan semua? Baik-baik saja khan?
Alhamdulillah gan, kabar ane juga baik-baik aja. Yaa paling cuma lagi rada pusing dikit aja tapi biasalah..kayanya semua orang yang udah kerja juga pasti ngerasain hal yang sama yak.
Ok.. langsung ke topik yang pengen di-share..

Kenapa orang tua melarang anaknya pacaran?
Ini adalah satu pertanyaan berikut pemberontakkan yang dilakukan anak-anak sekolah di masa ABG dan remaja. Tapi, perlu diakui juga tidak sedikit ada orang tua yang mengizinkannya. Orang tua yang mengizinkannya pun memiliki aturan-aturan tersendiri yang harus dipatuhi anaknya. Nah, yang menjadi persoalan adalah bagaimana anak yang dilarang orang tuanya berpacaran? So pasti akan ada dua jawaban. Ada yang patuh dan mendengar perkataan orang tuanya dan ada kubu yang di mana mereka memanfaatkan baik-baik anugerah Tuhan yang disebut akal (mengakali). ^_^
Tapi..ane bukan mau ngajak share akal-akalannya yak! Hehee.. agan-agan pasti udah pada tau sendiri dah caranya gimana-gimana..lagian sekarang khan rata-rata agan-agan yang mampir ke blog/notes ane minimal udah/lagi kuliah, pasti sedikit banyak pernah ngalamin dahh.. ^_^
Nah itu tuh gan! Kebanyakan dari kita sayangnya memandang hal tersebut sebagai “pengekangan hak-hak dasar ABG/remaja yang (katanya) sedang mencari jati diri, termasuk dalam hal cinta”. Padahal kalo dipikirkan secara positif, hal tersebut adalah salah satu bentuk kasih sayang orang tua. Namun sayangnya kadang orang tua kita tidak pandai memilih kata-kata yang tepat untuk menyampaikannya. Sehingga kita kebanyakan pun menyebutnya sebagai pengekangan.
Berikut adalah hasil ane searching sana-sini, kenapa orang tua melarang anaknya pacaran?
Takut hamil
Ini adalah alasan yang paling banyak ditemukan. Mereka, orang tua, takut anaknya hamil/menghamili di luar nikah, sehingga akan bikin malu keluarga dan yang paling ditakutkan orang tua, hamil itu akan menghancurkan masa depan si anak. Si anak akan menjadi bapak/ibu mendadak yang bahkan dia sendiri tidak inginkan sebelumnya.
Terjerumus ke dalam pergaulan bebas dan narkoba
Para orang tua sekarang sadar betul, keterkaitan antara pacaran, pergaulan bebas dan narkoba. Menurut mereka pacaran adalah sebuah jembatan yang bisa menghubungkan anaknya dengan pergaulan bebas. Karena alasan itulah mereka melarang anaknya pacaran.
Belum cukup umur
Faktor umur menjadi pertimbangan lain bagi orang tua untuk melarang anaknya pacaran. Semua ada masanya. Kalau sudah dewasa, toh! orang tua juga tidak akan melarang-larang lagi anaknya untuk pacaran. Bahkan, mereka justru akan menganjurkan anaknya untuk cepat mencari pasangan dan menikah.
Mengganggu waktu belajar
Yang dikhawatirkan orang tua ketika anaknya pacaran adalah keasyikan berpacaran. Sehingga akan mengganggu jadwal dan konsentrasi belajar si anak. Sebagai seorang pelajar, tugas utamanya tentu belajar dan orang tua menganggap pacaran akan memecah konsentrasi anaknya dalam belajar.
Takut anaknya salah pilih
Orang tua takut anaknya salah pilih dalam menentukan pasangan buat dirinya. Setiap orang tua menginginkan yang terbaik buat anaknya. Seharusnya, pada usianya sekarang seorang anak punya banyak pilihan untuk bergaul dan mengenal lebih banyak karakter orang. Menurut orang tua pacaran justru hanya akan membuat ruang gerak si anak terbatas, karena merasa terikat oleh pacarnya. Bagus kalau pacarnya itu bisa memberikan pengaruh yang baik dan positif. Bagaimana kalau justru memberikan pengaruh yang buruk..?
Takut kehilangan
Pada diri orang tua terkadang ada rasa cemburu ketika melihat anaknya dekat dengan orang lain selain mereka. Ada perasaan takut kehilangan. Buah hati mereka yang dulu masih ingusan ternyata sekarang sudah mulai menapaki fase kedewasaan. Satu bentuk lain dari kasih sayang orang tua terhadap anaknya.
Nah segitu deh gan hasil searching-searching ane. Kalo ada yang mau nambahin yuk ah di-share di mari..
Sekali lagi ya gan.. Alasan orang tua melarang pacaran itu bukan suatu bentuk pengekangan dan pemasungan kebebasan anak. Tapi itulah salah satu bentuk kasih sayang orang tua yang kadang salah kita menafsirkan.
Makasih gan udah mau nyimak ^_^
Semoga bermanfaat untuk kita, adik, sepupu, saudara, teman dan anak-anak kita di masa yang akan datang, Insya Allah.
Apa kabar agan-agan semua? Baik-baik saja khan?
Alhamdulillah gan, kabar ane juga baik-baik aja. Yaa paling cuma lagi rada pusing dikit aja tapi biasalah..kayanya semua orang yang udah kerja juga pasti ngerasain hal yang sama yak.
Ok.. langsung ke topik yang pengen di-share..

Kenapa orang tua melarang anaknya pacaran?
Ini adalah satu pertanyaan berikut pemberontakkan yang dilakukan anak-anak sekolah di masa ABG dan remaja. Tapi, perlu diakui juga tidak sedikit ada orang tua yang mengizinkannya. Orang tua yang mengizinkannya pun memiliki aturan-aturan tersendiri yang harus dipatuhi anaknya. Nah, yang menjadi persoalan adalah bagaimana anak yang dilarang orang tuanya berpacaran? So pasti akan ada dua jawaban. Ada yang patuh dan mendengar perkataan orang tuanya dan ada kubu yang di mana mereka memanfaatkan baik-baik anugerah Tuhan yang disebut akal (mengakali). ^_^
Tapi..ane bukan mau ngajak share akal-akalannya yak! Hehee.. agan-agan pasti udah pada tau sendiri dah caranya gimana-gimana..lagian sekarang khan rata-rata agan-agan yang mampir ke blog/notes ane minimal udah/lagi kuliah, pasti sedikit banyak pernah ngalamin dahh.. ^_^
Nah itu tuh gan! Kebanyakan dari kita sayangnya memandang hal tersebut sebagai “pengekangan hak-hak dasar ABG/remaja yang (katanya) sedang mencari jati diri, termasuk dalam hal cinta”. Padahal kalo dipikirkan secara positif, hal tersebut adalah salah satu bentuk kasih sayang orang tua. Namun sayangnya kadang orang tua kita tidak pandai memilih kata-kata yang tepat untuk menyampaikannya. Sehingga kita kebanyakan pun menyebutnya sebagai pengekangan.
Berikut adalah hasil ane searching sana-sini, kenapa orang tua melarang anaknya pacaran?
Takut hamil
Ini adalah alasan yang paling banyak ditemukan. Mereka, orang tua, takut anaknya hamil/menghamili di luar nikah, sehingga akan bikin malu keluarga dan yang paling ditakutkan orang tua, hamil itu akan menghancurkan masa depan si anak. Si anak akan menjadi bapak/ibu mendadak yang bahkan dia sendiri tidak inginkan sebelumnya.
Terjerumus ke dalam pergaulan bebas dan narkoba
Para orang tua sekarang sadar betul, keterkaitan antara pacaran, pergaulan bebas dan narkoba. Menurut mereka pacaran adalah sebuah jembatan yang bisa menghubungkan anaknya dengan pergaulan bebas. Karena alasan itulah mereka melarang anaknya pacaran.
Belum cukup umur
Faktor umur menjadi pertimbangan lain bagi orang tua untuk melarang anaknya pacaran. Semua ada masanya. Kalau sudah dewasa, toh! orang tua juga tidak akan melarang-larang lagi anaknya untuk pacaran. Bahkan, mereka justru akan menganjurkan anaknya untuk cepat mencari pasangan dan menikah.
Mengganggu waktu belajar
Yang dikhawatirkan orang tua ketika anaknya pacaran adalah keasyikan berpacaran. Sehingga akan mengganggu jadwal dan konsentrasi belajar si anak. Sebagai seorang pelajar, tugas utamanya tentu belajar dan orang tua menganggap pacaran akan memecah konsentrasi anaknya dalam belajar.
Takut anaknya salah pilih
Orang tua takut anaknya salah pilih dalam menentukan pasangan buat dirinya. Setiap orang tua menginginkan yang terbaik buat anaknya. Seharusnya, pada usianya sekarang seorang anak punya banyak pilihan untuk bergaul dan mengenal lebih banyak karakter orang. Menurut orang tua pacaran justru hanya akan membuat ruang gerak si anak terbatas, karena merasa terikat oleh pacarnya. Bagus kalau pacarnya itu bisa memberikan pengaruh yang baik dan positif. Bagaimana kalau justru memberikan pengaruh yang buruk..?
Takut kehilangan
Pada diri orang tua terkadang ada rasa cemburu ketika melihat anaknya dekat dengan orang lain selain mereka. Ada perasaan takut kehilangan. Buah hati mereka yang dulu masih ingusan ternyata sekarang sudah mulai menapaki fase kedewasaan. Satu bentuk lain dari kasih sayang orang tua terhadap anaknya.
Nah segitu deh gan hasil searching-searching ane. Kalo ada yang mau nambahin yuk ah di-share di mari..
Sekali lagi ya gan.. Alasan orang tua melarang pacaran itu bukan suatu bentuk pengekangan dan pemasungan kebebasan anak. Tapi itulah salah satu bentuk kasih sayang orang tua yang kadang salah kita menafsirkan.
Makasih gan udah mau nyimak ^_^
Semoga bermanfaat untuk kita, adik, sepupu, saudara, teman dan anak-anak kita di masa yang akan datang, Insya Allah.
Rabu, 25 Agustus 2010
Ketika Perempuan Memberikan Pilihan & Pepotoan
Salamlekuumm...
Musti dijawab yah! Soalnya kalo tidak pasti dosa hukumnya. Ahahahaa.. seperti biasa nii..ane lagi lumayan pengen sering nge-post cerpen. Sebenernya bukan cerpen juga sii..ini bagian dari cerita panjang yang lagi ane cobain. Cuma ane bikinnya emang per-part per-part gtu, jadi kalo diposting ya kaya posting cerpen aja. Trus selain posting itu ane juga mau posting pepotoan ane pas masih di Nangor. Ane lagi lumayan teringat sama kondisi yang ane poto nih. Eh! tapi pepotoannya cuma pake camdig, jadi mungkin hasilnya mah biasa-biasa aja. Yawdah langsung ke TKP aj ye..
Ketika Wanita Memberikan Pilihan
Sabtu malam ini gue sama si pacar bakal menghadiri pesta salah satu teman kantornya.
Dasar wanita yah! Kalo dandan pasti suka kalap waktu. Ini aja kurang lebih udah hampir 40 menitan gue nunggu di ruang tamu rumahnya.
Pucuk datang ulam pun tiba. Akhirnya perempuan yang gue tunggu-tunggu, perlahan tapi pasti mulai memunculkan sosoknya. Dituruninya anak tangga satu per satu. Hmm..okeh! Kayanya gue harus memaklumi kenapa perempuan membutuhkan waktu lebih untuk bersolek. Hasilnya memuaskan! Cantik.
Dari anak tangga itu, gue juga melihat sosok perempuan itu tampil cantik dengan gaun hitam yang dikenakannya. Mungkin akan terlalu berlebihan kalo gue membandingkannya dengan putri raja tapi apapun yang ditampilkannya malam ini, gue patut bersyukur karena udah diizinkan Tuhan menjadi pacarnya saat ini.
Kalo boleh gue ilustrasikan, tampilan gaunnya akan seperti gambar dibawah ini. Harap maklum yah, gue kurang begitu bisa mendeskripsikan tampilan secara mendetail. Jadi gue gunain ilustrasi gambar langsung aja yah.

Selepas anak tangga terakhir dia berjalan ke arah tempat gue menunggu, di sofa ruang tengah.
“Hon(honey.red), mana yang cocok aku kenakan untuk gaun ini?”, ujarnya sambil menunjukkan dua buah sepatu berwarna merah marun dan hitam yang disembunyikan dibelakang pinggulnya.
Ah! Pertanyaan pilihan itu jadi mengingatkan gue sama kejadian beberapa tahun yang lalu nih. Saat Toni, sang pakar cinta dan wanita kita mengeluarkan salah satu petuahnya.
‘kalo cewek ngasih pertanyaan pilihan jangan sekali-kali lo secara spontan memilih satu diantaranya. Kalo itu terjadi dan yang lo pilih itu ternyata salah! lo pasti akan mendapat pertanyaan susulan yang ngga kalah ngebingunginnya. For Your Information, sebetulnya para kaum hawa ini udah punya pilihan sendiri sebelum pilihannya itu ditanyakan. Nah, jadi untuk menanggulangi hal yang bukan masalah tapi bisa menjadi awal kiamat ini, kita harus selidiki kemauan si perempuan. Seperti yang tadi gue bilang mereka udah punya pilihan jadi kita perhatiin aja dari gerak-geriknya, tatapan matanya, liat gerakan tangannya atau tanda-tanda lain yang bisa diartikan sebagai pilihannya ketika mengajukan pilihan ke kita. Kalo perlu bolehlah kita mengajukan pertanyaan balik tentang pilihan mereka tadi’, gue, Laras dan Fajar untuk kesekian kalinya merasa takjub dengan teori yang dijabarkan Toni.
‘kenapa bisa gitu Ton?’, Laras penuh antusias
‘Karena sesungguhnya kaum hawa ketika memberikan pilhan tidak dengan sungguh-sungguh meminta solusi kaum adam. Mereka hanya butuh dukungan dan pengakuan kuat kaum adam atas pilihan yang sudah mereka tetapkan sebelumnya. Betul saudari Laras?’
‘bet-tul. Hehehee..’, jawab Laras dengan senyum. Standing Applause to Toni..
“Honey?!”
“Oh!” spontan gue kaget disadarkan si pacar.
“ih. kamu malah ngelamun lagi. Hayo! honey menurut kamu lebih cocok yang mana?”, si pacar kini berada tepat sejajar sama gue yang lagi duduk di sofa. Posisi dia setengah berjongkok sambil mengangkat dua pasang sepatu beda warna itu di tangan kanan dan kirinya sebatas tinggi mata.
Gue cuma senyum dan bilang, “Kalo menurut kamu sendiri pilih yang mana?”
“lhoo.. aku khan tanya kamu honeeyyy... Kok malah ditanya balik?”
“Iya, karena diantara kita berdua, kamulah orang yang paling tau tentang menyesuaikan penampilan. Tentu dalam hal ini pun kamu tidak akan kehilangan kemampuan itu”, gue ngga nyangka bisa ngeluarin kata-kata barusan; yang ngga gue sadar, itulah fakta yang selama ini terjadi kalo kita akan menghadiri suatu pesta.
Si pacar pun tersenyum, dengan mata berbinar dia mantapkan pilihan , “aku pilih yang merah”.
“Perfect!!”
“Gaunku berwarna hitam, sepatu berwarna merah marun pasti akan cocok!”
“Betul. Khan undangannya pun ke pesta pernikahan yah bukan pesta pemakaman yang serba hitam”
“hahahaa.. ih, kamu bisa aja!”
Dia lalu berdiri, diusap rambutku sebentar dan beranjak kembali ke kamarnya untuk mengambil tas dan menaruh sepatu yang satunya lagi. Kalo boleh gue ilustrasikan tampilan sepatunya akan tampak seperti gambar dibawah ini.

Sebelum menuju mobil dan berangkat kami berpamitan dengan ibunya. Lalu dia gandeng tangan kiri gue sambil berjalan menuju mobil, sedikit berbisik gue bilang, “Pilihannya cocok hon. Cantik!”
“aduh, aduh”, bukannya dapet ucapan terima kasih karena gue puji. Eh, gue malah dapet cubitan dipinggang. Tapi tak apa, malam ini pasti mengagumkan. Tuhan, sampaikan terima kasihku kepada Toni. (end).
Pepotoan!!
Iseng-iseng main sama si camdig di pagi hari di Jatinangor, jadi hasilnya kaya gini nih:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Makasih udah mau nyimak yak!
Buat agan Kevin, makasih yak gara-gara main ke blog ente, ane jadi gatel pengen posting hasil camdig, hahahahaa..
Musti dijawab yah! Soalnya kalo tidak pasti dosa hukumnya. Ahahahaa.. seperti biasa nii..ane lagi lumayan pengen sering nge-post cerpen. Sebenernya bukan cerpen juga sii..ini bagian dari cerita panjang yang lagi ane cobain. Cuma ane bikinnya emang per-part per-part gtu, jadi kalo diposting ya kaya posting cerpen aja. Trus selain posting itu ane juga mau posting pepotoan ane pas masih di Nangor. Ane lagi lumayan teringat sama kondisi yang ane poto nih. Eh! tapi pepotoannya cuma pake camdig, jadi mungkin hasilnya mah biasa-biasa aja. Yawdah langsung ke TKP aj ye..
Ketika Wanita Memberikan Pilihan
Sabtu malam ini gue sama si pacar bakal menghadiri pesta salah satu teman kantornya.
Dasar wanita yah! Kalo dandan pasti suka kalap waktu. Ini aja kurang lebih udah hampir 40 menitan gue nunggu di ruang tamu rumahnya.
Pucuk datang ulam pun tiba. Akhirnya perempuan yang gue tunggu-tunggu, perlahan tapi pasti mulai memunculkan sosoknya. Dituruninya anak tangga satu per satu. Hmm..okeh! Kayanya gue harus memaklumi kenapa perempuan membutuhkan waktu lebih untuk bersolek. Hasilnya memuaskan! Cantik.
Dari anak tangga itu, gue juga melihat sosok perempuan itu tampil cantik dengan gaun hitam yang dikenakannya. Mungkin akan terlalu berlebihan kalo gue membandingkannya dengan putri raja tapi apapun yang ditampilkannya malam ini, gue patut bersyukur karena udah diizinkan Tuhan menjadi pacarnya saat ini.
Kalo boleh gue ilustrasikan, tampilan gaunnya akan seperti gambar dibawah ini. Harap maklum yah, gue kurang begitu bisa mendeskripsikan tampilan secara mendetail. Jadi gue gunain ilustrasi gambar langsung aja yah.

Selepas anak tangga terakhir dia berjalan ke arah tempat gue menunggu, di sofa ruang tengah.
“Hon(honey.red), mana yang cocok aku kenakan untuk gaun ini?”, ujarnya sambil menunjukkan dua buah sepatu berwarna merah marun dan hitam yang disembunyikan dibelakang pinggulnya.
Ah! Pertanyaan pilihan itu jadi mengingatkan gue sama kejadian beberapa tahun yang lalu nih. Saat Toni, sang pakar cinta dan wanita kita mengeluarkan salah satu petuahnya.
‘kalo cewek ngasih pertanyaan pilihan jangan sekali-kali lo secara spontan memilih satu diantaranya. Kalo itu terjadi dan yang lo pilih itu ternyata salah! lo pasti akan mendapat pertanyaan susulan yang ngga kalah ngebingunginnya. For Your Information, sebetulnya para kaum hawa ini udah punya pilihan sendiri sebelum pilihannya itu ditanyakan. Nah, jadi untuk menanggulangi hal yang bukan masalah tapi bisa menjadi awal kiamat ini, kita harus selidiki kemauan si perempuan. Seperti yang tadi gue bilang mereka udah punya pilihan jadi kita perhatiin aja dari gerak-geriknya, tatapan matanya, liat gerakan tangannya atau tanda-tanda lain yang bisa diartikan sebagai pilihannya ketika mengajukan pilihan ke kita. Kalo perlu bolehlah kita mengajukan pertanyaan balik tentang pilihan mereka tadi’, gue, Laras dan Fajar untuk kesekian kalinya merasa takjub dengan teori yang dijabarkan Toni.
‘kenapa bisa gitu Ton?’, Laras penuh antusias
‘Karena sesungguhnya kaum hawa ketika memberikan pilhan tidak dengan sungguh-sungguh meminta solusi kaum adam. Mereka hanya butuh dukungan dan pengakuan kuat kaum adam atas pilihan yang sudah mereka tetapkan sebelumnya. Betul saudari Laras?’
‘bet-tul. Hehehee..’, jawab Laras dengan senyum. Standing Applause to Toni..
“Honey?!”
“Oh!” spontan gue kaget disadarkan si pacar.
“ih. kamu malah ngelamun lagi. Hayo! honey menurut kamu lebih cocok yang mana?”, si pacar kini berada tepat sejajar sama gue yang lagi duduk di sofa. Posisi dia setengah berjongkok sambil mengangkat dua pasang sepatu beda warna itu di tangan kanan dan kirinya sebatas tinggi mata.
Gue cuma senyum dan bilang, “Kalo menurut kamu sendiri pilih yang mana?”
“lhoo.. aku khan tanya kamu honeeyyy... Kok malah ditanya balik?”
“Iya, karena diantara kita berdua, kamulah orang yang paling tau tentang menyesuaikan penampilan. Tentu dalam hal ini pun kamu tidak akan kehilangan kemampuan itu”, gue ngga nyangka bisa ngeluarin kata-kata barusan; yang ngga gue sadar, itulah fakta yang selama ini terjadi kalo kita akan menghadiri suatu pesta.
Si pacar pun tersenyum, dengan mata berbinar dia mantapkan pilihan , “aku pilih yang merah”.
“Perfect!!”
“Gaunku berwarna hitam, sepatu berwarna merah marun pasti akan cocok!”
“Betul. Khan undangannya pun ke pesta pernikahan yah bukan pesta pemakaman yang serba hitam”
“hahahaa.. ih, kamu bisa aja!”
Dia lalu berdiri, diusap rambutku sebentar dan beranjak kembali ke kamarnya untuk mengambil tas dan menaruh sepatu yang satunya lagi. Kalo boleh gue ilustrasikan tampilan sepatunya akan tampak seperti gambar dibawah ini.
Sebelum menuju mobil dan berangkat kami berpamitan dengan ibunya. Lalu dia gandeng tangan kiri gue sambil berjalan menuju mobil, sedikit berbisik gue bilang, “Pilihannya cocok hon. Cantik!”
“aduh, aduh”, bukannya dapet ucapan terima kasih karena gue puji. Eh, gue malah dapet cubitan dipinggang. Tapi tak apa, malam ini pasti mengagumkan. Tuhan, sampaikan terima kasihku kepada Toni. (end).
Pepotoan!!
Iseng-iseng main sama si camdig di pagi hari di Jatinangor, jadi hasilnya kaya gini nih:
1.
2.
3.

4.
5.
6.
7.

Makasih udah mau nyimak yak!
Buat agan Kevin, makasih yak gara-gara main ke blog ente, ane jadi gatel pengen posting hasil camdig, hahahahaa..
Selasa, 17 Agustus 2010
Mengapa Pria Tidak Lebih Peka Dari Wanita?
Well, posting-an ini bisa dibilang ane buat secara kebetulan. Secara kebetulan ane lagi baca buku, trus secara kebetulan juga liat status di facebook yang bunyinya seperti ini nih, “Facebook must be a woman. A man would never ask, ‘What’s on your mind?’”. Untuk keamanan dan kenyaman ane ngga usah cantumin siapa pemilik status itu yak? ^_^.
Entahlah ada atau tidak adanya hubungan antara status itu sama buku yang lagi ane baca, yang penting ane cuma pengen posting, ehehehee.. langsung aj deh ke TKP..
Mengapa Pria Tidak Lebih Peka Dari Wanita?
Mengapa pria tidak lebih peka dari wanita?
Itu bukan karena wanita memiliki indera yang lebih hebat. Hanya saja, indera pria lebih tumpul jika dibandingkan dengan indera wanita. Dalam dunia wanita yang sangat peka, mereka mengharapkan pria mampu membaca lisan, suara dan tanda-tanda bahasa tubuh mereka.
Untuk alasan revolusionerlah, maka hal itu didiskusikan –meski bukan itu masalahnya. Wanita secara diam-diam menduga bahwa seorang pria akan tahu apa yang diinginkannya atau dibutuhkannya; dan ketika para pria itu tidak mengerti tanda-tanda yang diberikan, wanita itu akan menuduhnya sebagai “tidak peka”. Sedangkan pria di manapun akan membela diri, “apakah aku harus bisa membaca pikiran mereka?”.
Lyn dan Chris sedang mengendarai mobil pulang dari sebuah pesta. Chris mengemudi, Lyn menunjukkan arah. Mereka rupanya baru saja bertengkar karena Lyn mengatakan untuk berbelok ke kiri, padahal sesungguhnya yang dimaksudkan adalah berbelok ke kanan. Sembilan menit berlalu dalam kebisuan, sehingga Chris menduga ada yang tidak beres. “Sayang.. kamu tidak apa-apa?” tanya Chris. “Ya. Aku tidak apa-apa!” sahut Lyn.
Penekanan pada kata “tidak apa-apa!” berarti bahwa segalanya jauh dari ‘tidak apa-apa’. Chris mengingat kembali pesta yang baru saja mereka hadiri. “Aku melakukan kesalahan malam ini?” tanya Chris. “Aku tidak mau membicarakannya!” bentak Lyn.
Ini artinya Lyn sangat marah dan betul-betul ingin membicarakannya. Sementara Chris, ia betul-betul kebingungan mengingat-ingat kesalahan apa yang telah dilakukannya sehingga membuat marah Lyn. “Katakan padaku, sayang. Apa yang aku lakukan di pesta?” ia memohon. “Aku betul-betul tidak tahu apa yang telah kulakukan tadi!”
Dalam percakapan seperti ini, biasanya si pria memang mengatakan yang sebenarnya – dia betul-betul tidak mengerti masalahnya.
“Baiklah,” kata Lyn. “Aku akan katakan masalahnya, walau kamu pura-pura bodoh!” –tetapi Chris tidak berpura-pura bodoh. Ia benar-benar tidak mengerti mengapa Lyn marah. Lyn menarik nafas panjang. “Wanita centil murahan itu, selalu berada di dekatmu sepanjang malam dan mengirim tanda-tanda ajakan padamu. Sementara kamu tidak menghindarinya –kamu bahkan membuatnya semakin berani!”
Sekarang Chris benar-benar bingung. Wanita centil murahan yang mana? Tanda-tanda ajakan apa? ia tidak melihat apa-apa.
Berikut adalah yang terjadi di pesta: Ketika ‘wanita centil murahan itu’ berbicara pada Chris (ini adalah istilah yang digunakan wanita untuk wanita semacam itu. Sementara pria akan menyebut wanita seperti itu sebagai ‘ wanita menawan’). Ia tidak melihat bahwa wanita itu mengangkat pinggulnya ke arah Chris, menyibakkan rambutnya, mengusap-usap pahanya sendiri, menatap Chris lebih lama dari yang bisa disebut tatapan sopan, dan mengelus-elus tangkai gelas minumannya serta berbicara dengan nada manja seperti seorang gadis sekolahan.
Yah, Chris adalah ‘seorang pemburu’(hakikat seorang pria pada umumnya). Ia mampu melihat seekor Rusa diujung cakrawala dan mengatakan seberapa cepat hewan itu bergerak. Namun ia tidak memiliki kemampuan untuk mengerti tanda-tanda bahasa tubuh, arti suara dan tatapan yang ditujukan padanya.
Semua wanita dalam pesta itu akan melihat ‘wanita centil murahan itu’ tanpa harus memalingkan kepalanya untuk benar-benar menyaksikannya. Lalu sebuah naluri jarak jauh ‘waspada akan wanita nakal’ terkirim dan diterima oleh semua wanita dalam pesta itu. Sementara kebanyakan pria di sana, tidak mengerti sama sekali akan hal itu.
Maka ketika seorang pria mengaku bahwa ia memang mengatakan yang sebenarnya –tentang apa yang dituduhkan padanya– ia mungkin saja memang mengatakan yang sesungguhnya. Hal ini bisa terjadi karena otak pria tidak dilengkapi dengan bagian untuk mendengar atau melihat lebih rinci dibandingkan wanita. Oleh karena itu para pria selalu membutuhkan bantuan wanita untuk mengetahui ketidakpekaannya tersebut.
Sebuah penelitian membuktikan bahwa pria merupakan pembaca pikiran yang payah. Tapi kabar baiknya adalah pada umumnya mereka dapat dilatih untuk meningkatkan kewaspadaan mereka akan pesan-pesan tak terucap dan nada suara. (end)
Btw, sampel yang disajikan tadi itu hanyalah satu sampel dari sekian banyak sampel yang ada di dunia ini. Jadi, untuk penerapannya tinggal disesuaikan dengan kondisi terkini yang terjadi yak!
Makasih buat yang udah mau nyimak dan mau meninggalkan komentarnya di-postingan ini ^_^
Sumber: Why Men Don’t Listen and Woman Can’t Read Maps – Allan + Barbara Pease.
Entahlah ada atau tidak adanya hubungan antara status itu sama buku yang lagi ane baca, yang penting ane cuma pengen posting, ehehehee.. langsung aj deh ke TKP..
Mengapa Pria Tidak Lebih Peka Dari Wanita?
Mengapa pria tidak lebih peka dari wanita?
Itu bukan karena wanita memiliki indera yang lebih hebat. Hanya saja, indera pria lebih tumpul jika dibandingkan dengan indera wanita. Dalam dunia wanita yang sangat peka, mereka mengharapkan pria mampu membaca lisan, suara dan tanda-tanda bahasa tubuh mereka.
Untuk alasan revolusionerlah, maka hal itu didiskusikan –meski bukan itu masalahnya. Wanita secara diam-diam menduga bahwa seorang pria akan tahu apa yang diinginkannya atau dibutuhkannya; dan ketika para pria itu tidak mengerti tanda-tanda yang diberikan, wanita itu akan menuduhnya sebagai “tidak peka”. Sedangkan pria di manapun akan membela diri, “apakah aku harus bisa membaca pikiran mereka?”.
Lyn dan Chris sedang mengendarai mobil pulang dari sebuah pesta. Chris mengemudi, Lyn menunjukkan arah. Mereka rupanya baru saja bertengkar karena Lyn mengatakan untuk berbelok ke kiri, padahal sesungguhnya yang dimaksudkan adalah berbelok ke kanan. Sembilan menit berlalu dalam kebisuan, sehingga Chris menduga ada yang tidak beres. “Sayang.. kamu tidak apa-apa?” tanya Chris. “Ya. Aku tidak apa-apa!” sahut Lyn.
Penekanan pada kata “tidak apa-apa!” berarti bahwa segalanya jauh dari ‘tidak apa-apa’. Chris mengingat kembali pesta yang baru saja mereka hadiri. “Aku melakukan kesalahan malam ini?” tanya Chris. “Aku tidak mau membicarakannya!” bentak Lyn.
Ini artinya Lyn sangat marah dan betul-betul ingin membicarakannya. Sementara Chris, ia betul-betul kebingungan mengingat-ingat kesalahan apa yang telah dilakukannya sehingga membuat marah Lyn. “Katakan padaku, sayang. Apa yang aku lakukan di pesta?” ia memohon. “Aku betul-betul tidak tahu apa yang telah kulakukan tadi!”
Dalam percakapan seperti ini, biasanya si pria memang mengatakan yang sebenarnya – dia betul-betul tidak mengerti masalahnya.
“Baiklah,” kata Lyn. “Aku akan katakan masalahnya, walau kamu pura-pura bodoh!” –tetapi Chris tidak berpura-pura bodoh. Ia benar-benar tidak mengerti mengapa Lyn marah. Lyn menarik nafas panjang. “Wanita centil murahan itu, selalu berada di dekatmu sepanjang malam dan mengirim tanda-tanda ajakan padamu. Sementara kamu tidak menghindarinya –kamu bahkan membuatnya semakin berani!”
Sekarang Chris benar-benar bingung. Wanita centil murahan yang mana? Tanda-tanda ajakan apa? ia tidak melihat apa-apa.
Berikut adalah yang terjadi di pesta: Ketika ‘wanita centil murahan itu’ berbicara pada Chris (ini adalah istilah yang digunakan wanita untuk wanita semacam itu. Sementara pria akan menyebut wanita seperti itu sebagai ‘ wanita menawan’). Ia tidak melihat bahwa wanita itu mengangkat pinggulnya ke arah Chris, menyibakkan rambutnya, mengusap-usap pahanya sendiri, menatap Chris lebih lama dari yang bisa disebut tatapan sopan, dan mengelus-elus tangkai gelas minumannya serta berbicara dengan nada manja seperti seorang gadis sekolahan.
Yah, Chris adalah ‘seorang pemburu’(hakikat seorang pria pada umumnya). Ia mampu melihat seekor Rusa diujung cakrawala dan mengatakan seberapa cepat hewan itu bergerak. Namun ia tidak memiliki kemampuan untuk mengerti tanda-tanda bahasa tubuh, arti suara dan tatapan yang ditujukan padanya.
Semua wanita dalam pesta itu akan melihat ‘wanita centil murahan itu’ tanpa harus memalingkan kepalanya untuk benar-benar menyaksikannya. Lalu sebuah naluri jarak jauh ‘waspada akan wanita nakal’ terkirim dan diterima oleh semua wanita dalam pesta itu. Sementara kebanyakan pria di sana, tidak mengerti sama sekali akan hal itu.
Maka ketika seorang pria mengaku bahwa ia memang mengatakan yang sebenarnya –tentang apa yang dituduhkan padanya– ia mungkin saja memang mengatakan yang sesungguhnya. Hal ini bisa terjadi karena otak pria tidak dilengkapi dengan bagian untuk mendengar atau melihat lebih rinci dibandingkan wanita. Oleh karena itu para pria selalu membutuhkan bantuan wanita untuk mengetahui ketidakpekaannya tersebut.
Sebuah penelitian membuktikan bahwa pria merupakan pembaca pikiran yang payah. Tapi kabar baiknya adalah pada umumnya mereka dapat dilatih untuk meningkatkan kewaspadaan mereka akan pesan-pesan tak terucap dan nada suara. (end)
Btw, sampel yang disajikan tadi itu hanyalah satu sampel dari sekian banyak sampel yang ada di dunia ini. Jadi, untuk penerapannya tinggal disesuaikan dengan kondisi terkini yang terjadi yak!
Makasih buat yang udah mau nyimak dan mau meninggalkan komentarnya di-postingan ini ^_^
Sumber: Why Men Don’t Listen and Woman Can’t Read Maps – Allan + Barbara Pease.
Langganan:
Postingan (Atom)