Selasa, 12 Maret 2013
Golongan Pria dan Tentang Wanita Dalam Kehidupannya
..... Gege menghela nafas panjang.
Saatnya dia menjelaskan pada wanita yang dia cintai, apa yang selama ini dia lakukan.
Gege kemudian menjelaskan dengan panjang lebar teori yang dulu dia pernah kemukakan di makan siang bersama teman-temannya.
“Cowok itu pada dasarnya dibagi jadi dua”, Gege memulai pandangannya.
“Pertama adalah mereka yang percaya adanya seorang wanita dalam kehidupan mereka akan membuat mereka lebih bersemangat meraih cita-cita.
Kata mereka; ‘Malu dong sama pacar kalo nganggur’ ‘Malu dong sama dia kalo ga ranking’ Bagi mereka, kalo nggak pacaran malah kurang motivasi hidup.
Mereka butuh orang di samping untuk proses kedewasaan mereka.
Mereka ini butuh dihargai dulu sebelum mereka PD menghadapi hidup. Mereka bilang, ‘Liat deh, gue pengen jadi orang yang lebih dewasa karena elo. ’ Kedua adalah mereka yang terkesan jomblo seumur hidup. Mereka nggak berani pacaran sebelum tua.
Mereka bilang; ‘Takut IP-nya ditanya sama orang tua pacar’ ‘Gua belum punya apa-apa yang bisa dibanggain’
Mereka memotivasi diri.
Dan, sebenarnya mereka menempa diri untuk mencari penghargaan dalam hidup, agar suatu saat bisa PD menghadapi seorang perempuan”
“menarik”, Caca memotong penjelasan Gege
“wajar ya Ca.. Gege kan udah 27. Mikirnya kalo pacaran, ya untuk nikah,”
kali ini Gege memang bertutur terus terang, tentang bagaimana dia memandang perjodohan.
“Pria itu pemimpin keluarga. Tugasnya melindungi, membina, dan mencukupi. Mereka bangga kalo mereka bisa mencukupi istri dan anak.”
“...”
“Contoh paling gampang. Masalah pria dan harta. Kita lihat banyak pria yang bela-belain nikah tua. Mereka itu pengen maksain kalo mereka punya cukup bekal untuk nikah.”
“Tapi kan nggak semua wanita itu matre Ge. Jangan digener...”
“Bukannya kita memandang bahwa wanita itu matre...” Gege segera meneruskan argumennya “...tapi justru kita yang menuntut diri kita untuk mampu membiayai hidup anak istri.
Sedablek-dableknya pria, nggak ada suami yang pengen ngeliat istri susah kan?”
“...”
“Itu dari materi. Sekarang dari mental.
Banyak juga pria yang nggak mau nikah dulu karena mereka mikir, ngurus diri sendiri aja masih nggak disiplin, susah. Gimana mau ngurusin sebuah keluarga coba? Pria kan imam keluarga. Gimana berani jadi imam, kalo sholat juga masih bolong-bolong?”
“...”
“Di saat semua itu sudah siap, baru kita mencari pasangan. Semua pria dalam kadar yang berbeda mencari tempaan ya Ca. Pria itu membutuhkan pencapaian.”
“untuk?”
“Supaya mereka bisa yakin sama diri sendiri. Dan bisa ngeyakinin wanita bahwa dia layak dicintai. ‘Nih liat gue bisa cari duit’ ‘Nih liat, gue dewasa’ ‘Nih liat, gue bisa mimpin keluarga”
Mereka terdiam,
dan tanpa direncanakan, saling menyandarkan badan. Melihat gelas masing-masing. Tenggelam meresapi setiap kata yang Gege katakan.
***
dari Gege Mengejar Cinta by Adhitya Mulya
Selasa, 14 Agustus 2012
Miss (Rindu)
Sebagai awal dari sesuatu yang tertunda. Izinkan saya mencoba memberikan potongan cerita. Enjoy your time ^_^
Miss (Rindu)
Setelah pertemuan itu, aku jadi sering menemui Raka. Bahkan beberapa kali aku menemuinya tanpa diketahui Hanum. Bahkan aku sampai sering dimarahi Hanum karena telah menculik anaknya tanpa izin. Hanum senang anaknya bermain bersamaku. Dan, dia juga senang melihat aku menghabiskan waktu bersama anaknya. Raka adalah obat dibalik kepenatan.
Hari ini, setelah meeting dengan beberapa karyawan, aku kembali mencuri waktu menemui Raka di sekolahnya. Di tengah perjalanan Jakarta-Bandung aku sempatkan meminta izin akan mengajak Raka jalan-jalan ke Hanum. Aku telpon dia,
“Hai”, ujarku saat telpon diangkatnya
“Hei”, ujarnya di sana, sedikit terdengar suara kegaduhan di tempat Hanum mengajar.
“Aku mau ajak main Raka hari ini”, pintaku
Hanum sempat protes karena aku ke Bandung tiba-tiba, dan ketika aku bilang aku mangkir dari kerja, dia lebih protes. Namun, aku dapat izinnya. Aku bilang akan mengajak Raka ke sebuah hotel bintang 5 di Bandung. Ada salah satu teman lama yang mengundangku ke sana untuk sekedar temu dan makan. Daripada aku datang sendiri, lebih baik aku ajak Raka.
Tidak lama setelah ku tutup telpon. Selulerku kembali berbunyi, “My Honey” terpampang di layar.
“Hai sayang. Aku lagi di kantor kamu nih. Kata sekretaris, kamu lagi keluar.. sedih deehhh akunyaaa”, ujar gadis lucu yang telah mendampingi aku beberapa tahun ini.
“ Iya sayang, ini aku masih di jalan”, aku senyum sendiri mendengar kata terakhirnya
“Kapan kamu balik? Aku tunggu di kantor yah”
“Ja-jangan sayang. Aku balik besok siang. Aku dalam perjalanan ke Bandung sekarang”
“APA? KAMU KE BANDUNG?? Kok aku ga diajak???”
“Iya sayang. Maaf aku belum kabari kamu. Aku lupa kalo hari ini aku ada janji sama teman lama. Begitu ingat. Aku langsung cabut”
“Cewek mana yang buat kamu berpaling dari aku?”, ujarnya marah, tapi tidak sungguh-sungguh marah, dan entah mengapa dia tampak lucu untukku.
“hahahaa.. putri dari Raja Kerajaan Padjadjaran”
“ahhh..kamuu.. aku cemburuuuu...tau”
“Iyaa aku tau. Kamu jangan nakal yah selama aku tinggal”
“Iyaa.. kamu hati-hati yaa.. love you..”
“Love you too..”
“Miss you..”
-klik-
Thank you for read :)
Senin, 13 Agustus 2012
Untitle
Kata-kata pertama yang gue ucapin adalah alhamdulillah, puji Tuhan yang telah menciptakan alat tercanggih bernama "lupa". Mengapa "lupa", karena gue adalah salah satu penganutnya. Usut punya cerita, karena gue suka jadi gue suka cari sesuatu yang bisa memancing ingatan kalo si lupa lg kangen ma gue. Salah satunya, mencatat. Gue catet apa yang perlu dan harus gue catat, contoh: account2 email.
Yaa..maklumlah yah. Kadang kita harus membedakan email mana yang untuk resmi dan..untuk sekedar iseng untuk membuat account di social media.
Alhamdulillah sekali, setelah sekian lama. Ini blog bisa sign in kembali. Gue pernah coba beberapa waktu lalu, tapi selalu.. tak berhasil. Hari ini mungkin rejeki gue, jadi sekali open site, sign in, dan! tarraaa... Welcome to My Blog's Again.
Banyak cerita beberapa waktu ini. Tapi, Gue belum bisa share sekarang. Dikesempatan kali ini.
Well, cerita yang paling update mungkin, bahwa sekarang, hampir satu tahun ini gue jadi salah satu abdi Korean. Ternyata Korean Wave tidak hanya menyentuh dunia permusikan, dunia pekerjaan juga.
Cerita lainnya, lebaran tinggal menghitung hari. Ramadhan akan segera berakhir :(
Ok, lain waktu. Kita ketemu lagi, and hope, I'll keep always blogging T_T
Keep Smart Work's Fellas..
Yaa..maklumlah yah. Kadang kita harus membedakan email mana yang untuk resmi dan..untuk sekedar iseng untuk membuat account di social media.
Alhamdulillah sekali, setelah sekian lama. Ini blog bisa sign in kembali. Gue pernah coba beberapa waktu lalu, tapi selalu.. tak berhasil. Hari ini mungkin rejeki gue, jadi sekali open site, sign in, dan! tarraaa... Welcome to My Blog's Again.
Banyak cerita beberapa waktu ini. Tapi, Gue belum bisa share sekarang. Dikesempatan kali ini.
Well, cerita yang paling update mungkin, bahwa sekarang, hampir satu tahun ini gue jadi salah satu abdi Korean. Ternyata Korean Wave tidak hanya menyentuh dunia permusikan, dunia pekerjaan juga.
Cerita lainnya, lebaran tinggal menghitung hari. Ramadhan akan segera berakhir :(
Ok, lain waktu. Kita ketemu lagi, and hope, I'll keep always blogging T_T
Keep Smart Work's Fellas..
Sabtu, 29 Oktober 2011
Sekedar Kicauan
Lama ga nyentuh ini blog, jadi agak bingung juga mau mulai nulis dari mana.
Ah, sudahlah biar tanpa judul saja. Mungkin ini juga hanya ceracas-cerocos gue aja yang mungkin ga penting untuk kalian. Ehmm.. skedar mengingatkan kalian sedang berada di yudibastian.blogspot.com, so, apapun yang ada di blog ini (tanpa bermaksud offensive) terserah saya yah.
Terakhir gue nulis di blog ini, gue sedikit nyerempetin tentang gue yang baru aja diterima di perusahan multinasional yang berasal dari Negri Paman Sam. Selama gue kerja di sana, gue ga sentuh-sentuh ini blog. Sibuk? Tidak juga. Malas? Yah, lebih tepat seperti itu.
Bekerja di dunia retail yang jam operasionalnya 24 jam, membuat gue ketika libur, lebih memilih untuk stay di rumah dan punya waktu tidur lebih, dibanding melakukan hal-hal lainnya. Ini adalah strategi gue agar badan gue ga cepet drop. Sebab kalo tidak seperti itu, gue jamin, badan gue ga akan kuat dan akan lebih mudah sakit. Karena itu pula, gue kadang harus bisa menahan diri untuk sekedar bercengkrama dengan teman dan sahabat-sahabat gue. Gue juga harus sedikit melupakan sesuatu yang udah gue mulai sejak bangku kuliah, menulis.
Apapun yang terjadi itulah konsekuensi dari sebuah pekerjaan yang gue pilih. Ada pengorbanan? Yak, tentu saja. Gue rasa, setiap pekerjaan apapun pasti ada sisi-sisi lain yang harus dikorbankan.
Berjalannya waktu. Gue sangat berterima kasih bisa dikasih kesempatan bekerja di sana. Pengalaman luar biasa, yang mungkin ga akan gue dapat dua kali. Bekerja dengan tim-tim yang hebat dengan berbagai latar belakang yang berbeda, di manapun gue pernah di tempatkan.
Sampai akhirnya gue berada pada klimaks titik jemu.
Ada sesuatu yang bertolak belakang dengan apa yang gue pelajari dengan kenyataan yang gue hadapi. Sorry gue ga akan share lebih tentang hal yang satu ini. Cukup gue sendiri aja yang tau.
Saat titik jemu itu datang. Kesempatan lainnya datang secara tak terduga.
Perjudian besar. Ya, bisa dibilang seperti itu. Perusahaan yang dulu adalah perusahaan yang sudah memiliki nama besar dan punya pangsa pasar yang besar. Sedangkan yang sekarang adalah perusahaan yang baru saja melebarkan sayap-sayap investasinya di Indonesia. Tantangan terbesarnya adalah mengenalkannya kepada masyarakat Indonesia. Bukan sesuatu hal yang mudah tentunya. Tapi, apapun yang terjadi ke depannya, inilah jalan hidup yang gue pilih. Konsekuensi adalah hal yang wajar dalam setiap keputusan. Memulai sesuatunya dari nol lagi bukanlah suatu kesalahan.
Tuhan hanya memberikan jalan. Kita sendirilah yang menentukan di mana kaki ini harus melangkah. Tq
Ah, sudahlah biar tanpa judul saja. Mungkin ini juga hanya ceracas-cerocos gue aja yang mungkin ga penting untuk kalian. Ehmm.. skedar mengingatkan kalian sedang berada di yudibastian.blogspot.com, so, apapun yang ada di blog ini (tanpa bermaksud offensive) terserah saya yah.
Terakhir gue nulis di blog ini, gue sedikit nyerempetin tentang gue yang baru aja diterima di perusahan multinasional yang berasal dari Negri Paman Sam. Selama gue kerja di sana, gue ga sentuh-sentuh ini blog. Sibuk? Tidak juga. Malas? Yah, lebih tepat seperti itu.
Bekerja di dunia retail yang jam operasionalnya 24 jam, membuat gue ketika libur, lebih memilih untuk stay di rumah dan punya waktu tidur lebih, dibanding melakukan hal-hal lainnya. Ini adalah strategi gue agar badan gue ga cepet drop. Sebab kalo tidak seperti itu, gue jamin, badan gue ga akan kuat dan akan lebih mudah sakit. Karena itu pula, gue kadang harus bisa menahan diri untuk sekedar bercengkrama dengan teman dan sahabat-sahabat gue. Gue juga harus sedikit melupakan sesuatu yang udah gue mulai sejak bangku kuliah, menulis.
Apapun yang terjadi itulah konsekuensi dari sebuah pekerjaan yang gue pilih. Ada pengorbanan? Yak, tentu saja. Gue rasa, setiap pekerjaan apapun pasti ada sisi-sisi lain yang harus dikorbankan.
Berjalannya waktu. Gue sangat berterima kasih bisa dikasih kesempatan bekerja di sana. Pengalaman luar biasa, yang mungkin ga akan gue dapat dua kali. Bekerja dengan tim-tim yang hebat dengan berbagai latar belakang yang berbeda, di manapun gue pernah di tempatkan.
Sampai akhirnya gue berada pada klimaks titik jemu.
Ada sesuatu yang bertolak belakang dengan apa yang gue pelajari dengan kenyataan yang gue hadapi. Sorry gue ga akan share lebih tentang hal yang satu ini. Cukup gue sendiri aja yang tau.
Saat titik jemu itu datang. Kesempatan lainnya datang secara tak terduga.
Perjudian besar. Ya, bisa dibilang seperti itu. Perusahaan yang dulu adalah perusahaan yang sudah memiliki nama besar dan punya pangsa pasar yang besar. Sedangkan yang sekarang adalah perusahaan yang baru saja melebarkan sayap-sayap investasinya di Indonesia. Tantangan terbesarnya adalah mengenalkannya kepada masyarakat Indonesia. Bukan sesuatu hal yang mudah tentunya. Tapi, apapun yang terjadi ke depannya, inilah jalan hidup yang gue pilih. Konsekuensi adalah hal yang wajar dalam setiap keputusan. Memulai sesuatunya dari nol lagi bukanlah suatu kesalahan.
Tuhan hanya memberikan jalan. Kita sendirilah yang menentukan di mana kaki ini harus melangkah. Tq
Rabu, 26 Januari 2011
Arab vs Cina (Potongan Proyek Kecil-Kecilan Saya)
Aihh… sudah lama sekali saya tidak menyapa kalian. Merindu uy!
Apa kabar agan-agan di sana? Baik-baik saja yah..
Hemm.. langsung aja gan! ini ada potongan cerita yang rencananya akan ada diproyek kecil-kecilan ane, yang sayangnya belum tau selesainya kapan. Wajib dikomentarin yah! :)
Cekidot.. !!
***
“ARAAAAAAPPPP….!!!”, ada suara cewek cempreng manggil gue dari ujung pintu ruang tv. Gue tau siapa pemilik suara cempreng itu.
“Oy Cin.”, jawab gue datar, tanpa antusias.
“Najis lo Rap!”, katanya begitu liat gue rada malas membalas sapaannya yang kelewat antusias. Dia lalu masuk, bergabung dengan kita duduk-duduk di sofa.
Cewek itu adalah Cina. Kenapa Cina? Ya karena dia emang cina. Orang Cina. You know-lah.. mata sipit dan berkulit kuning menuju putih.
Kalo orang yang tidak tau akar mulanya. Pasti gue udah dikira rasis!
Perlu kalian tahu, faktanya tidaklah begitu. Kami cinta damai. Tidak ingin menyulut api permusuhan antar etnis. Itu hanya keisengan gue dan si Cina itu.
Oh, tapi kenapa harus marah juga yah kalo ada orang lain memanggil kita dengan identitas genetik?
Kenapa juga yah harus risih kalo kita dipanggil arab, cina, jawa, sunda, atau negro??
Toh mau marah-semarahnya pun, tidak akan merubah keadaan. Memang begitulah fakta yang ada di tubuh kita.
Bukankah kalian tahu bahwa, Tuhan memang sengaja menciptakan kita berbeda-beda agar kita saling mengenal satu sama lain. Tuhan ingin mengenalkan kita, ini lho yang namanya orang melayu.. ini lho yang namanya orang jawa.. ini lho yang namanya orang cina.. ini lho yang namanya orang arab dan lain sebagainya.
Begitu pula antara pola pikir gue dan kalian. Inilah pemikiran gue tentang perbedaan dan jika kalian berbeda dengan apa yang gue pikirkan, itu adalah pilihan kalian. Kita memang hidup diantara banyaknya perbedaan dan semua tinggal bagaimana kita memandang perbedaan itu sebagai jurang permusuhan atau sebagai fasilitas yang membuat kita saling mengisi kekurangan.
Kisah gue dan si Cina bermula tempo hari saat gue ketemu dia di kelas. Hari itu dia pake baju yang bertuliskan “Jangan Panggil Aku Cina”. Gue langsung kepikiran, gue mau pake baju yang tulisannya “Jangan Panggil Aku Arab”. Trus gue berimajinasi si Janu pake “Jangan Panggil Aku Sunda”. Trus si Jhoni juga “Jangan Panggil Aku Jawa”. Seru juga kayanya.
Eh! tapi kalo semua orang begitu, gue jadi bingung. Mereka tuh serasa tidak bangga yah dengan suku bangsanya masing-masing.
“Terus gue musti manggil lo apa donk?!”, ujar gue begitu baca tulisan dibajunya ‘Jangan Panggil Aku Cina’. Orang yang identitas genetiknya Cina tapi tidak mau dipanggil Cina.
“Ya panggil nama gua donk!”, ujarnya sambil merapikan catetan kuliah hari itu.
“ohh.. ok ok.”, gue mengiyakan tapi tak lama kemudian gue sadar sesuatu,
“lhaaa.. nama lo khan Liu Nio. Itu khan kecina-cinaan juga”
Dia berhenti merapikan catetan, melihat tajam ke arah gue yang persis duduk di bangku di depannya,
“Terserah elo dah Rap!”, ujarnya jutek, lalu pergi tanpa pamit. Ngambek.
Wah! Kalo dia marah, harusnya gue juga boleh marah nih. Kalo diurutkan ceritanya lebih awal, dialah orang yang pertama kali manggil gue dengan “arab”. Padahal khan gue juga punya nama, Bona Al-Saidi, dan kearab-araban juga.
Karena manusia diciptakan berbeda-beda agar saling mengenal satu sama lain. Gue jadi ngerti bahwa tidak semua orang menerima dipanggil identik dengan tubuhnya. Gue adalah orang yang terbuka. Maksudnya gue bisa menerima dan tidak memaksakan kehendak jika berbuat salah.
Besoknya di kantin kampus, gue langsung ngajaknya makan bareng. Mau sekalian minta maaf. Sebelumnya, gue sms dia dulu, isinya kaya gini:
“Lili cantik. Nanti siang makan di kantin yuk! Arab bayarin. Lagi dapet gusuran minyak di Abu Dhabi”, sms dikirim. Kalo cuma sekedar bayarin ketoprak, soto atau bubur ayam mah gue masih sanggup dah.
“ok”,
Cuma itu sms balesan dari dia. Singkat padat dan penuh makna. Sekedar informasi, Lili itu adalah panggilan dari anak-anak cewek dan sebagian cowok lainnya di kampus.
“Kenapa si Rap? Kok diem aja”, ujarnya pas makan soto di kantin.
Gimana gue ga diem yak! Nah pas itu khan gue udah kaya tersangka utama. Penyulut api jika sampai terjadi peperangan antar etnis, terutama yang berkaitan dengan kecina-cinaan dan kearab-araban.
“Ngga napa-napa..”, ujar gue sambil pura-pura menikmati soto yang padahal mah siang itu kuahnya lagi keasinan.
“Rap maaphin Lili ya. Kemaren Arab Lili jutekin seharian”
“Iya Li maafin Arab juga. Kemaren udah salah. Bawa-bawa cina-cinaan”
Ini obrolan udah kaya pacar yang lagi marah-marahan dah.
“bhahahahaa…”
Gue bingung si Lili ketawa
“ohh.. jadi elo ngira gua marah gara-gara itu?”, todongnya tanpa basa-basi lagi
“iya”
“Murah banget gua, ngambek cuma disogok pake soto semangkok!”
“lhaa..trus lo marah kenapa?”
“kaga Arabb.. gua kaga marah gara-gara ituu..”
“trus?”, makin penasaran aja gue!
“Biasa Rapp.. penyakit cewek kalo lagi PMS. Bawaannya sensitip, pengennya marah-marah mulu”
“!@#$%^&* !!!” (ngga tau artinya? Sama, gue juga ga tau itu apa artinya :) lanjuutt..)
Ya Tuhan.. wanita adalah misterimu yang sangat menakjubkan!
Gila, itu emosi naik-turunnya drastis kalo lagi/mau dapet tamu bulanan.
Gue udah khawatir-khawatirnya. Dia cuma bilang itu akibat PMS!!
Besok-besok mungkin dia bakal nabrak gue pake mobil dan di rumah sakit pas gue udah lagi sekarat-karatnya, sambil senyum-senyum dia cuma bilang, “Biasa Rap.. lagi PMS”
SAKIT JIWA !!
Dari sanalah bermulai, tiada dusta diantara kita (dangdut kalii..). Kita tidak memunafikan diri. Kalo gue dipanggil arab ya emang begitulah identitas genetik gue. Kalo si Lili gue panggil cina, ya memang begitu faktanya. Kalo gue panggil si Janu sunda ya memang dia orang sunda. Kalo si Jhoni gue panggil jawa gila. Itu emang pantes!
Tapi tentu, semua panggilan itu juga masih tergantung kondisi. Gue ngga mungkin jugalah manggil si Lili dengan Cina di depan orang tuanya. Karena bisa saja orang tuanya salah menangkap arti sapaan gue itu. Sapaan yang sebetulnya untuk mengakrabkan akan terdengar penghinaan jika lain kondisi dan suasana.
***
Thanks udah mau nyimak gan..
Mohon responnya gan.. ^_^
Apa kabar agan-agan di sana? Baik-baik saja yah..
Hemm.. langsung aja gan! ini ada potongan cerita yang rencananya akan ada diproyek kecil-kecilan ane, yang sayangnya belum tau selesainya kapan. Wajib dikomentarin yah! :)
Cekidot.. !!
***
“ARAAAAAAPPPP….!!!”, ada suara cewek cempreng manggil gue dari ujung pintu ruang tv. Gue tau siapa pemilik suara cempreng itu.
“Oy Cin.”, jawab gue datar, tanpa antusias.
“Najis lo Rap!”, katanya begitu liat gue rada malas membalas sapaannya yang kelewat antusias. Dia lalu masuk, bergabung dengan kita duduk-duduk di sofa.
Cewek itu adalah Cina. Kenapa Cina? Ya karena dia emang cina. Orang Cina. You know-lah.. mata sipit dan berkulit kuning menuju putih.
Kalo orang yang tidak tau akar mulanya. Pasti gue udah dikira rasis!
Perlu kalian tahu, faktanya tidaklah begitu. Kami cinta damai. Tidak ingin menyulut api permusuhan antar etnis. Itu hanya keisengan gue dan si Cina itu.
Oh, tapi kenapa harus marah juga yah kalo ada orang lain memanggil kita dengan identitas genetik?
Kenapa juga yah harus risih kalo kita dipanggil arab, cina, jawa, sunda, atau negro??
Toh mau marah-semarahnya pun, tidak akan merubah keadaan. Memang begitulah fakta yang ada di tubuh kita.
Bukankah kalian tahu bahwa, Tuhan memang sengaja menciptakan kita berbeda-beda agar kita saling mengenal satu sama lain. Tuhan ingin mengenalkan kita, ini lho yang namanya orang melayu.. ini lho yang namanya orang jawa.. ini lho yang namanya orang cina.. ini lho yang namanya orang arab dan lain sebagainya.
Begitu pula antara pola pikir gue dan kalian. Inilah pemikiran gue tentang perbedaan dan jika kalian berbeda dengan apa yang gue pikirkan, itu adalah pilihan kalian. Kita memang hidup diantara banyaknya perbedaan dan semua tinggal bagaimana kita memandang perbedaan itu sebagai jurang permusuhan atau sebagai fasilitas yang membuat kita saling mengisi kekurangan.
Kisah gue dan si Cina bermula tempo hari saat gue ketemu dia di kelas. Hari itu dia pake baju yang bertuliskan “Jangan Panggil Aku Cina”. Gue langsung kepikiran, gue mau pake baju yang tulisannya “Jangan Panggil Aku Arab”. Trus gue berimajinasi si Janu pake “Jangan Panggil Aku Sunda”. Trus si Jhoni juga “Jangan Panggil Aku Jawa”. Seru juga kayanya.
Eh! tapi kalo semua orang begitu, gue jadi bingung. Mereka tuh serasa tidak bangga yah dengan suku bangsanya masing-masing.
“Terus gue musti manggil lo apa donk?!”, ujar gue begitu baca tulisan dibajunya ‘Jangan Panggil Aku Cina’. Orang yang identitas genetiknya Cina tapi tidak mau dipanggil Cina.
“Ya panggil nama gua donk!”, ujarnya sambil merapikan catetan kuliah hari itu.
“ohh.. ok ok.”, gue mengiyakan tapi tak lama kemudian gue sadar sesuatu,
“lhaaa.. nama lo khan Liu Nio. Itu khan kecina-cinaan juga”
Dia berhenti merapikan catetan, melihat tajam ke arah gue yang persis duduk di bangku di depannya,
“Terserah elo dah Rap!”, ujarnya jutek, lalu pergi tanpa pamit. Ngambek.
Wah! Kalo dia marah, harusnya gue juga boleh marah nih. Kalo diurutkan ceritanya lebih awal, dialah orang yang pertama kali manggil gue dengan “arab”. Padahal khan gue juga punya nama, Bona Al-Saidi, dan kearab-araban juga.
Karena manusia diciptakan berbeda-beda agar saling mengenal satu sama lain. Gue jadi ngerti bahwa tidak semua orang menerima dipanggil identik dengan tubuhnya. Gue adalah orang yang terbuka. Maksudnya gue bisa menerima dan tidak memaksakan kehendak jika berbuat salah.
Besoknya di kantin kampus, gue langsung ngajaknya makan bareng. Mau sekalian minta maaf. Sebelumnya, gue sms dia dulu, isinya kaya gini:
“Lili cantik. Nanti siang makan di kantin yuk! Arab bayarin. Lagi dapet gusuran minyak di Abu Dhabi”, sms dikirim. Kalo cuma sekedar bayarin ketoprak, soto atau bubur ayam mah gue masih sanggup dah.
“ok”,
Cuma itu sms balesan dari dia. Singkat padat dan penuh makna. Sekedar informasi, Lili itu adalah panggilan dari anak-anak cewek dan sebagian cowok lainnya di kampus.
“Kenapa si Rap? Kok diem aja”, ujarnya pas makan soto di kantin.
Gimana gue ga diem yak! Nah pas itu khan gue udah kaya tersangka utama. Penyulut api jika sampai terjadi peperangan antar etnis, terutama yang berkaitan dengan kecina-cinaan dan kearab-araban.
“Ngga napa-napa..”, ujar gue sambil pura-pura menikmati soto yang padahal mah siang itu kuahnya lagi keasinan.
“Rap maaphin Lili ya. Kemaren Arab Lili jutekin seharian”
“Iya Li maafin Arab juga. Kemaren udah salah. Bawa-bawa cina-cinaan”
Ini obrolan udah kaya pacar yang lagi marah-marahan dah.
“bhahahahaa…”
Gue bingung si Lili ketawa
“ohh.. jadi elo ngira gua marah gara-gara itu?”, todongnya tanpa basa-basi lagi
“iya”
“Murah banget gua, ngambek cuma disogok pake soto semangkok!”
“lhaa..trus lo marah kenapa?”
“kaga Arabb.. gua kaga marah gara-gara ituu..”
“trus?”, makin penasaran aja gue!
“Biasa Rapp.. penyakit cewek kalo lagi PMS. Bawaannya sensitip, pengennya marah-marah mulu”
“!@#$%^&* !!!” (ngga tau artinya? Sama, gue juga ga tau itu apa artinya :) lanjuutt..)
Ya Tuhan.. wanita adalah misterimu yang sangat menakjubkan!
Gila, itu emosi naik-turunnya drastis kalo lagi/mau dapet tamu bulanan.
Gue udah khawatir-khawatirnya. Dia cuma bilang itu akibat PMS!!
Besok-besok mungkin dia bakal nabrak gue pake mobil dan di rumah sakit pas gue udah lagi sekarat-karatnya, sambil senyum-senyum dia cuma bilang, “Biasa Rap.. lagi PMS”
SAKIT JIWA !!
Dari sanalah bermulai, tiada dusta diantara kita (dangdut kalii..). Kita tidak memunafikan diri. Kalo gue dipanggil arab ya emang begitulah identitas genetik gue. Kalo si Lili gue panggil cina, ya memang begitu faktanya. Kalo gue panggil si Janu sunda ya memang dia orang sunda. Kalo si Jhoni gue panggil jawa gila. Itu emang pantes!
Tapi tentu, semua panggilan itu juga masih tergantung kondisi. Gue ngga mungkin jugalah manggil si Lili dengan Cina di depan orang tuanya. Karena bisa saja orang tuanya salah menangkap arti sapaan gue itu. Sapaan yang sebetulnya untuk mengakrabkan akan terdengar penghinaan jika lain kondisi dan suasana.
***
Thanks udah mau nyimak gan..
Mohon responnya gan.. ^_^
Selasa, 07 Desember 2010
Untukmu Wanita
Senang rasanya bisa kembali menyapa kalian. Langsung saja, satu lagi persembahan dari ane ^_^
Untukmu Wanita
Ketika Tuhan menciptakan wanita , Dia lembur pada hari ke-6. Malaikat datang dan bertanya, "Mengapa begitu lama Tuhan?"
Tuhan menjawab, "Sudahkah engkau lihat semua detail yang Aku buat untuk menciptakan mereka? 2 tangan ini harus bisa dibersihkan, tetapi bahannya bukan dari plastik. Setidaknya terdiri dari 200 bagian, yang bisa digerakkan dan berfungsi baik untuk segala jenis makanan. Mampu menjaga anak-anak, memiliki pelukan yang dapat menenangkan hati dari keterpurukan. Semua dilakukannya dengan 2 tangan ini."
Malaikat itu takjub, "Hanya dengan 2 tangan?"
Tuhan menjawab, "Ya dan Aku akan menyelesaikannya, karena ini adalah ciptaan favoritku. Dia juga akan mampu menyembuhkan dirinya sendiri"
Malaikat mendekat dan mengamati bentuk ciptaan Tuhan itu.
"Tapi Engkau membuatnya begitu lembut Tuhan?"
"Ya, Aku membuatnya begitu lembut, tapi engkau belum bisa membayangkan kekuatan yang Aku berikan agar mereka dapat mengatasi banyak hal yang luar biasa?"
"Dia bisa berpikir?", tanya malaikat.
Tuhan menjawab, " Tak hanya berpikir, dia mampu bernegoisasi."
Malaikat itu menyentuh dagunya.
"Tuhan Engkau buat ciptaan ini kelihatanya lelah dan rapuh, seolah terlalu banyak beban baginya."
"Itu bukan lelah atau rapuh. Itu AIR MATA"
"Untuk apa?", tanya malaikat
Tuhan melanjutkan, " AIR MATA adalah salah satu cara dia mengekspresikan kebahagiaan dan penderitaannya"
"ENGKAU memikirkan segala sesuatunya. Ciptaan-Mu ini sungguh menakjubkan! "
"Ya. Wanita ini akan mempunyai kekuatan bagi laki-laki.
Dia dapat mengatasi bebannya sendiri dan bahkan mengatasi beban laki-laki.
Dia mampu menyimpan kebahagian dan pendapatnya sendiri.
Dia mampu tersenyum bahkan saat hatinya menjerit.
Dia berkorban demi orang yang dicintainya.
Dia menerjunkan diri untuk keluarga.
Dia begitu bahagia mendengar kelahiran.
Dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang.
Hatinya akan begitu sedih ketika mendengar berita sakit dan kematian. Akan tetapi dia selalu punya kekuatan untuk mengatasi hidup, dia tahu bahwa sebuah pelukan dapat menyembuhkan luka.
Hanya 1 Kekurangan dari Wanita itu,
DIA LUPA BETAPA BERHARGANYA DIA
Makasih udah mau nyimak gan ^_^
Untukmu Wanita
Ketika Tuhan menciptakan wanita , Dia lembur pada hari ke-6. Malaikat datang dan bertanya, "Mengapa begitu lama Tuhan?"
Tuhan menjawab, "Sudahkah engkau lihat semua detail yang Aku buat untuk menciptakan mereka? 2 tangan ini harus bisa dibersihkan, tetapi bahannya bukan dari plastik. Setidaknya terdiri dari 200 bagian, yang bisa digerakkan dan berfungsi baik untuk segala jenis makanan. Mampu menjaga anak-anak, memiliki pelukan yang dapat menenangkan hati dari keterpurukan. Semua dilakukannya dengan 2 tangan ini."
Malaikat itu takjub, "Hanya dengan 2 tangan?"
Tuhan menjawab, "Ya dan Aku akan menyelesaikannya, karena ini adalah ciptaan favoritku. Dia juga akan mampu menyembuhkan dirinya sendiri"
Malaikat mendekat dan mengamati bentuk ciptaan Tuhan itu.
"Tapi Engkau membuatnya begitu lembut Tuhan?"
"Ya, Aku membuatnya begitu lembut, tapi engkau belum bisa membayangkan kekuatan yang Aku berikan agar mereka dapat mengatasi banyak hal yang luar biasa?"
"Dia bisa berpikir?", tanya malaikat.
Tuhan menjawab, " Tak hanya berpikir, dia mampu bernegoisasi."
Malaikat itu menyentuh dagunya.
"Tuhan Engkau buat ciptaan ini kelihatanya lelah dan rapuh, seolah terlalu banyak beban baginya."
"Itu bukan lelah atau rapuh. Itu AIR MATA"
"Untuk apa?", tanya malaikat
Tuhan melanjutkan, " AIR MATA adalah salah satu cara dia mengekspresikan kebahagiaan dan penderitaannya"
"ENGKAU memikirkan segala sesuatunya. Ciptaan-Mu ini sungguh menakjubkan! "
"Ya. Wanita ini akan mempunyai kekuatan bagi laki-laki.
Dia dapat mengatasi bebannya sendiri dan bahkan mengatasi beban laki-laki.
Dia mampu menyimpan kebahagian dan pendapatnya sendiri.
Dia mampu tersenyum bahkan saat hatinya menjerit.
Dia berkorban demi orang yang dicintainya.
Dia menerjunkan diri untuk keluarga.
Dia begitu bahagia mendengar kelahiran.
Dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang.
Hatinya akan begitu sedih ketika mendengar berita sakit dan kematian. Akan tetapi dia selalu punya kekuatan untuk mengatasi hidup, dia tahu bahwa sebuah pelukan dapat menyembuhkan luka.
Hanya 1 Kekurangan dari Wanita itu,
DIA LUPA BETAPA BERHARGANYA DIA
Makasih udah mau nyimak gan ^_^
Senin, 04 Oktober 2010
Dimsum (Idola Sang Pacar)
Hai..!! akhirnya bisa posting-posting lagi..
Gimana kabar agan-agan di-seberang sana nih? Baik-baik sajalah yah. Kalo kabar ane? Uhm..*sambil keselek salak*, lagi rada kurang bersahabat sama yang namanya leye-leye. Di mana 5 dari 7 hari harus dilewatkan bergaul dengan buku-buku yang ga kalah tebel sama modulnya anak kedokteran. Dunia semakin mendekati kiamat karena ane harus hafal, setidaknya 90% dari isi buku-buku itu! FYI, Hafal-menghafal adalah perbuatan yang sulit ane lakukan. Ane masih suka ketinggalan dalam hal hafal-menghafal, bahkan untuk rata-rata kemampuan orang menghafal. Meskipun demikian ane tetep usahakan yang terbaik, so minta doanya agan-agan yak! ^_^
Lagi, belakangan ini ane kembali masuk dalam taraf panceklik postingan baru. So, main-mainlah ane ke folder-folder lama di kompi dan menemukan ada sesuatu yang bikin ane senyum-senyum sendiri di depan monitor. Langsung aja cekidot..!!
Dimsum
Hai. Nama gue Ule dan gue adalah pacar paling sial di dunia. Pacar gue yang bernama Guti…uhmm, let me re-phrase that. Pacar gue, yang bernama Guti, tergila-gila dengan seorang bintang film Indonesia bernama Dimas Sumitro. Seorang bintang muda Indonesia yang gemilang. Akting dalam semua film layar lebarnya memang sih gue akui, jago. I tell you, gak ada yang lebih bikin minder dari pada seorang pacar yang tergila-gila sama orang yang lebih terkenal, 160 kali lebih kaya dan kurang lebih, 2 juta kali lebih ganteng di umur yang sama dengan gue.
Gue dan Guti berusia 20 tahun dan yang membuat gue minder adalah bahwa Dimsum ini, begitu gue menyingkat dia, di-umur yang sama sudah membintangi 5 film layar lebar. Kebayang dong minder gue seperti apa. Untuk menambah kesengsaraan hidup, tega-teganya Cannes Film Festival menobatkan dia sebagai actor terbaik dalam kategori film asing 2003. Itu di saat dia berumur 19. If that’s not enough, santer isu yang beredar IPK-nya di Universitas Jakarta juga terancam 4. Gue? Terancam gak lulus-lulus. Uhm, … where was I? oh yes, he’s a star, I’m basically a toad. Satu-satunya konsolasi bagi gue adalah kenyataan bahwa dia medok.
Entah gue dosa apa, mungkin waktu kecil gue salah omong ke nenek atau apa, ada stasiun TV yang memutar film Tukang Siomay ini 5 malam berturut-turut. Guti ada dasarnya seperti diem di sofa menunggu semua film itu. Dia bahkan bersumpah untuk tidak kuliah satu minggu ini dengan alasan, “Kalo pulang kuliah dan macet, kelewatan dong Guti.”
Janjian ama gue aja, ngaretnya se-abad.
Malam pertama, gue ikut menyaksikan film pertama di rumah Guti. Ini Adalah film Dimsum pertama. Film ini berjudul “Malin Kundang”, sebuah film dari legenda minang yang sukses dibawakan Dimsum dengan medok yang anehnya, tidak ada yang kritik. Sebenarnya gak terlalu ikhlas juga sih menonton tapi di luar, hujan. So there I was stuck.. di samping Guti yang berdecak kagum “Gantengnyaaaa..” setiap -mungkin, 2 detik sekali.
Iklan! Hore! Gue sedikit lega.
Iklan itu produk pasta gigi.
Bintang wanitanya cantik.
Bintang prianya?
Dimsum
ARRRGGHHHH!!
“Kamu suka banget sama dia?” Tanya gue, dengan bodohnya.
“Biasa aja.” Gue ulek juga ni anak.
“Basi banget kamu.”
“Ya iya lah gua suka banget sama dia, gimana sih?” Lha, jadi gue yang salah?
“Aktingnya keren banget. Ngerti gitu bikin percaya penonton. Ganteng pula. Trus pinter, trus..” kalimat berikutnya gue cukup blur karena terlalu sibuk doa TV ini disambar petir.
*DZEEEEZZZZZ*
Ha! Petir! Makan tuh Siomay, sayangku.
“Yaaahh…. mampus banget. Aduh gue pengen banget nonton ini.”
“Kamu kan udah punya VCDnya.”
“Rusak. Baret. Gara-gara….” ada jeda lama di kalimat itu yang disertai lirikan dari matanya di sela poni panjang yang cantik “…. keseringan Guti tonton.”
“Ah..sakit jiwa cewek gue.”
“Eh Le….uhm, betulin antenanya dong sayaaang..”
“Rumah kamu ini udah 3 tingkat..” gue berusaha menjadi orang yang lebih sensible, menjelaskan.
“Makanya.. cepetan.” Et dah buset ni bocah.
“Guti mau Ule kesamber petir?”
“Ule mau Guti kesamber petir?”
“GKGKGKGKKIKKK” gue memberikan pantomime, ‘sini-lo-gue-cekek’ sambil mengalah beranjak ke lantai tiga.
Pas gue lagi basah-basah itulah gue mendapat ide brilyan. Kenapa gak gue cari alamat Dimsum, set-up satu kencan dengan Guti di hari Valentine? That’s brilyant! Okay, okay, that’s dumb utterly. But it’s so stupid that’s brilyant! Sekarang begini,
1. Gue pertemukan Guti dengan Malin Kundang ini.
2. Mereka makan malam sebentar, biarkan Guti bertanya apa saja langsung pada bintang favoritnya.
3. Guti akan puas mengenal Dimsum ini. Tidak akan ada lagi acara Guti penasaran.
4. Dimsum akan keluar dari semua system pendarahan Guti dan mengurangi resiko menjadikan Guti seorang psikopat. Seperti apa ya…uhm, memberikan es kirim ke arwah penasaran yang mengantui rumah karena mati ditabrak truk pas mau beli es krim.
5. Gue dan Guti dapat melanjutkan kehidupan dengan damai. Pacaran, nikah and have lots and lots and lots, of sex tanpa salah satu memfantasikan Dimsum. In my case, membayangkan memotong-motong Dimsum. See the logic now?
Gue pikir gak apa-apa Guti kencan dengan Dimsum. Gue sayang Guti. Bener-bener sayang sama Guti. Itu, dan gue akan masuk jurang jika gue denger sekali lagi Dimsum disebut. So, keesokan harinya gue bolos kuliah dan memutuskan untuk mencari teman-teman gue yang kira-kira tahu bagaimana cara mengontak Dimsum. Sebuah keputusan yang salah karena ternyata semua masuk kuliah !!
Fine, gue pergi dari rumah gue di Jakarta Selatan menuju kampus, di Depok, Selatan Jakarta hanya untuk menemukan bahwa semua sudah pulang. Tenang, tenang. Belum saatnya melempar belimbing ke orang jelek, begitu gue bilang ke diri gue.
Akhirnya gue ada ide cemerlang. Gue pergi ke tempat rental VCD dan mencari rumah produksi film-film dari Dimsum. Dari sana akan gue cari di yellow pages nomor kontak PH dan gue tanya nomor kontak Dimsum.
‘Klining, klining’
Kenapa sih ada sebagian orang di dunia ini yang mengira bahwa memasang lonceng di pintu itu sesuatu yang cerdas? Anway, fokus.
“Siang Mbak. Ada film-filmnya Dimas Sumitro?” Ternyata pertanyaan ini meniumbulkan efek mata penuh mimpi bagi gadis penjaga rental. “Mbak? Mbak? Hai?”
“Oh? Uhmm sori otak saya brenti. Saya gak ngeces kan tadi?”
Sabar. Sabaaaaaaar sabar. “Gak kok Mbak. Ada film-filmnya Dimas Sumitro?”
Kembali sang mbak dengan mata penuh mimpi.
“Would you STOP THAT?” gue hampir mencekik sang mbak.
“Mas anggota sini?”
“Nggak.”
“Maaf saya gak bisa layani.”
Akhirnya gue membayar keanggotaan dan mengisi lembar keanggotaan yang mana jauh lebih rumit dari mengantri imunisasi anak. Selesai.
“Ya udah. Nih. Saya mau minjem salah satu film Dimas Sumitro. Yang mana aja terserah.”
“Pada keluar Mas namanya juga bentar lagi valentine.” Ujar sang mbak dengan air muka ‘gimana-sih?’
“ARRRGGGHHHH GJGKJGKIGKGKJGKGHLJGKGKKK”
Gue keluar dari tempat VCD itu dan mendapatkan akal baru. Gue pergi ke TU kampus, mungkin mereka memiliki nomor telfon kantor TU kampus dari Dimsum. Gue cukup yakin ikatan antar TU kampus itu erat. Setiap tahun mungkin mereka saling berkumpul dalam KTUKI (Konferensi TU Kampus Indonesia) di mana pegawai TU kampus Dimsum akan dengan secara kasual minum teh, makan biscuit dan memulai percakapan dengan,
“Dek Dimas Sumitro ganteng sekali lo.” Yang dibalas dengan malas oleh yang lain dengan,
“Denger-denger secara kasat mata, jidatnya gak proporsional ya Bu?”
I’ sure of that. Regarding the conference.. and the jidat issue.
Anyway, where was I? oh yes, on the way to to my TU. Sampai di sana gue meminta agar gue dapat berbicara langsung dengan pegawai TU, maksud gue agar lebih sopan. Pegawai TU di seberang bernama Mbak Pipit, seorang wanita yang telah lewat masa mbak-mbaknya namun masih berstatus ‘mbak’.
“Siang Mbak Pipit. Nama saya Ule. Rulli Prasetya. Boleh saya tahu nomor telfon Dimas Sumitro?”
“Ada alasan khusus kenapa mas ingin tau nomor telfon mas-mas lain?”
“Oh sori. Jadi gini Mbak. Saya ingin mengatur sebuah kencan di hari valentine dengan Dimas Sumitro.”
“Uhmmm setahu saya dia bukan gay loh mas, maaf loh….”
“Oh bukan Mbak. Bukan dengan saya. Dengan pacar saya.”
“SAKIT!”
-Klik-
“Loh? Loh? LOHH!!” Akhirnya gue coba telfon lagi dan berusaha menjelaskan kepada Mbak Pipit sebaik mungkin. Mbak Pipit akhirnya kembali tenang.
“Tapi saya gak tau mas nomor HP-nya, Kalo pun tau, ngapain saya ngasih tau Mas?”
“Hhh…..Tapi dia ada di sana? Kuliah gak?”
“Kuliah Mas. Saya yakin. Soalnya tadi dia baru saja masuk ke dalam kantor ini dengan rambut coklatnya. Dia menatap saya dengan tatapan dingin gagah yang memperlihatkan bahu bidang dibalut kemeja John Curtis biru. Tato di lengan kokohnya terlihat ketika dia menyerahkan buku absen dosen sambil berkata penuh chemistry pada saya ‘Ini mbak….’ Hhh hhh hhh..”
“SAKIT!”
-Klik-
Gue menghormati kenyataan bahwa tukang Siomay ini pasti sibuk. Jadi gue memutuskan untuk melakukan perjalanan lintas kota di panasnya Jakarta dari selatan ke utara, sebuah perjalanan yang dapat mentransformasi pria baik-baik perlente rapih seperti gua sampai di tujuan terlihat seperti yang baru saja melakukan kesalahan dan di-arak massa.
Dalam bus pertama Gue dengan sukses menduduki kursi yang ternyata baru saja di-ompoli anak kecil penduduk sebelumnya.
Dalam bus kedua, gue ikut mendorongnya.
Dalam mikrolet sesudahnya, gue dipalak anak STM yang meski 3 tahun lebih muda, 30 kali lebih banyak.
Di bus ketiga ada nenek-nenek muntah di atas pangkuan.
Di mikrolet kedua gue bertemu lagi dengan para anak STM itu. Gue berusaha menginisiasi percakapan dengan mengatakan bahwa Jakarta itu sangat panas namun percakapan ini tidak ditanggapi dengan baik.
Di bus keempat gue terpaksa memberikan jam tangan gue kepada supir yang tidak percaya bahwa gue baru saja ditodong dua kali oleh anak STM yang sama.
Bus kelima, diserang anak STM itu.
Sekali lagi bertemu mereka, sumpah deh gue bakal bikin milis.
Setelah 6 jam, di pukul 17:00, gua sampai di kampus si Joko Tingkir eh maaf, Malin Kundang itu. Sekarang gue memakai sandal hasil barter palak. Tapi tak apa. Yang penting sampai, pikir gue sambil masuk gerbang.
“Maaf Dek. Masuk kampus ini gak boleh make sandal.”
Meninggal aja gue sekalian! Tepat di saat itu, sebuah mobil Jaguar keluar perlahan dari gerbang. Ha! Dimsum!
“STOP!”
Alhamdulillah akhirnya bertemu juga dengan dia. Dia membuka kaca. Ada konvensi di alam sosial Jakarta bahwa semakin mahal mobil, semakin lambat power window terbuka untuk menimbulkan kesan lebih dramatis dan angkuh. It works like hell. Ini saatnya. Gue harus baik-baik untuk membujuk dia ikut dengan rencana gue.
“Siomaynya satu Dim.” DAMN!
“Sori?”
“Uhmmm sori Dim..” Gue kemudian mengutarakan rencana gue. Meminta satu malam kesediaan dia untuk makan malam di restoran yang dia pilih dan semua biaya gue yang bayar. Wajar karena dia artis dan dia pasti lebih tahu restoran mana yang membuat wanita klepek-klepek. Gue ceritakan juga bahwa pacar gue adlaah fans terberat dia dan dia akan sangat menghargai acara ini. Gue sempat kehilangan fokus presentasi ketika gue sadar di dalamnya penuh dengan artis lain. Semua wanita. Lucky bastard!
“..jadi gimana?”
“Sori. Gue gak nge-date sama orang yang gue gak kenal.” Jawabnya, tanpa menimbang bahkan ½ detik dan berlalu. Lengkap dengan kaca angkuhnya.
Gue speechless.
Jam yang gue serahkan pada kondektur adalah pemberian Guti untuk valentine 2002. Sepatu favorit yang gue pakai setiap hari, yang dipalak oleh anak-anak STM itu, pemberianya di valentine 2001.
“Gila ya, kamu.” Begitu reaksi pertama Guti dengan mata nanar. Tidak mempercayai kebodohan pacarnya mungkin. Gue hanya dapat mengangkat bahu.
“Ule cuman pengen Guti seneng. Ule tau Guti gak akan ngapa-ngapain. Ule tau Guti sayang sama Ule. Bagi Ule, Siomay gila itu gak lebih dari sekeping VCD rental yang dipinjam semalam. Bedanya VCD ini bisa makan bareng kamu. Kamu kan fans berat. Ya kenalan lah. Kaya temu selebriti gitu.”
“Idih ngapain banget? Guti juga suka George Clooney tapi kan bukan berarti mesti ketemu. Masak kamu gak tau sih betapa sombongnya dia? Infotainment berantakan gitu di mana-mana.”
“Lain kali tergila-gila sama orang, jelek-jeleknya juga kasih tau dong!”
“Iya iya.”
“Ya sud. Kamu valentine mau apa? Ule gak kepikiran lagi apaan. But you deserve something special.”
“Ya saya cuma pengen kamu aja coz you’re my something special.” (end)
Maaph kepanjangan gan! Dan makasih udah mau nyimak.. ^_^
sumber: suamigila.com
Gimana kabar agan-agan di-seberang sana nih? Baik-baik sajalah yah. Kalo kabar ane? Uhm..*sambil keselek salak*, lagi rada kurang bersahabat sama yang namanya leye-leye. Di mana 5 dari 7 hari harus dilewatkan bergaul dengan buku-buku yang ga kalah tebel sama modulnya anak kedokteran. Dunia semakin mendekati kiamat karena ane harus hafal, setidaknya 90% dari isi buku-buku itu! FYI, Hafal-menghafal adalah perbuatan yang sulit ane lakukan. Ane masih suka ketinggalan dalam hal hafal-menghafal, bahkan untuk rata-rata kemampuan orang menghafal. Meskipun demikian ane tetep usahakan yang terbaik, so minta doanya agan-agan yak! ^_^
Lagi, belakangan ini ane kembali masuk dalam taraf panceklik postingan baru. So, main-mainlah ane ke folder-folder lama di kompi dan menemukan ada sesuatu yang bikin ane senyum-senyum sendiri di depan monitor. Langsung aja cekidot..!!
Dimsum
Hai. Nama gue Ule dan gue adalah pacar paling sial di dunia. Pacar gue yang bernama Guti…uhmm, let me re-phrase that. Pacar gue, yang bernama Guti, tergila-gila dengan seorang bintang film Indonesia bernama Dimas Sumitro. Seorang bintang muda Indonesia yang gemilang. Akting dalam semua film layar lebarnya memang sih gue akui, jago. I tell you, gak ada yang lebih bikin minder dari pada seorang pacar yang tergila-gila sama orang yang lebih terkenal, 160 kali lebih kaya dan kurang lebih, 2 juta kali lebih ganteng di umur yang sama dengan gue.
Gue dan Guti berusia 20 tahun dan yang membuat gue minder adalah bahwa Dimsum ini, begitu gue menyingkat dia, di-umur yang sama sudah membintangi 5 film layar lebar. Kebayang dong minder gue seperti apa. Untuk menambah kesengsaraan hidup, tega-teganya Cannes Film Festival menobatkan dia sebagai actor terbaik dalam kategori film asing 2003. Itu di saat dia berumur 19. If that’s not enough, santer isu yang beredar IPK-nya di Universitas Jakarta juga terancam 4. Gue? Terancam gak lulus-lulus. Uhm, … where was I? oh yes, he’s a star, I’m basically a toad. Satu-satunya konsolasi bagi gue adalah kenyataan bahwa dia medok.
Entah gue dosa apa, mungkin waktu kecil gue salah omong ke nenek atau apa, ada stasiun TV yang memutar film Tukang Siomay ini 5 malam berturut-turut. Guti ada dasarnya seperti diem di sofa menunggu semua film itu. Dia bahkan bersumpah untuk tidak kuliah satu minggu ini dengan alasan, “Kalo pulang kuliah dan macet, kelewatan dong Guti.”
Janjian ama gue aja, ngaretnya se-abad.
Malam pertama, gue ikut menyaksikan film pertama di rumah Guti. Ini Adalah film Dimsum pertama. Film ini berjudul “Malin Kundang”, sebuah film dari legenda minang yang sukses dibawakan Dimsum dengan medok yang anehnya, tidak ada yang kritik. Sebenarnya gak terlalu ikhlas juga sih menonton tapi di luar, hujan. So there I was stuck.. di samping Guti yang berdecak kagum “Gantengnyaaaa..” setiap -mungkin, 2 detik sekali.
Iklan! Hore! Gue sedikit lega.
Iklan itu produk pasta gigi.
Bintang wanitanya cantik.
Bintang prianya?
Dimsum
ARRRGGHHHH!!
“Kamu suka banget sama dia?” Tanya gue, dengan bodohnya.
“Biasa aja.” Gue ulek juga ni anak.
“Basi banget kamu.”
“Ya iya lah gua suka banget sama dia, gimana sih?” Lha, jadi gue yang salah?
“Aktingnya keren banget. Ngerti gitu bikin percaya penonton. Ganteng pula. Trus pinter, trus..” kalimat berikutnya gue cukup blur karena terlalu sibuk doa TV ini disambar petir.
*DZEEEEZZZZZ*
Ha! Petir! Makan tuh Siomay, sayangku.
“Yaaahh…. mampus banget. Aduh gue pengen banget nonton ini.”
“Kamu kan udah punya VCDnya.”
“Rusak. Baret. Gara-gara….” ada jeda lama di kalimat itu yang disertai lirikan dari matanya di sela poni panjang yang cantik “…. keseringan Guti tonton.”
“Ah..sakit jiwa cewek gue.”
“Eh Le….uhm, betulin antenanya dong sayaaang..”
“Rumah kamu ini udah 3 tingkat..” gue berusaha menjadi orang yang lebih sensible, menjelaskan.
“Makanya.. cepetan.” Et dah buset ni bocah.
“Guti mau Ule kesamber petir?”
“Ule mau Guti kesamber petir?”
“GKGKGKGKKIKKK” gue memberikan pantomime, ‘sini-lo-gue-cekek’ sambil mengalah beranjak ke lantai tiga.
Pas gue lagi basah-basah itulah gue mendapat ide brilyan. Kenapa gak gue cari alamat Dimsum, set-up satu kencan dengan Guti di hari Valentine? That’s brilyant! Okay, okay, that’s dumb utterly. But it’s so stupid that’s brilyant! Sekarang begini,
1. Gue pertemukan Guti dengan Malin Kundang ini.
2. Mereka makan malam sebentar, biarkan Guti bertanya apa saja langsung pada bintang favoritnya.
3. Guti akan puas mengenal Dimsum ini. Tidak akan ada lagi acara Guti penasaran.
4. Dimsum akan keluar dari semua system pendarahan Guti dan mengurangi resiko menjadikan Guti seorang psikopat. Seperti apa ya…uhm, memberikan es kirim ke arwah penasaran yang mengantui rumah karena mati ditabrak truk pas mau beli es krim.
5. Gue dan Guti dapat melanjutkan kehidupan dengan damai. Pacaran, nikah and have lots and lots and lots, of sex tanpa salah satu memfantasikan Dimsum. In my case, membayangkan memotong-motong Dimsum. See the logic now?
Gue pikir gak apa-apa Guti kencan dengan Dimsum. Gue sayang Guti. Bener-bener sayang sama Guti. Itu, dan gue akan masuk jurang jika gue denger sekali lagi Dimsum disebut. So, keesokan harinya gue bolos kuliah dan memutuskan untuk mencari teman-teman gue yang kira-kira tahu bagaimana cara mengontak Dimsum. Sebuah keputusan yang salah karena ternyata semua masuk kuliah !!
Fine, gue pergi dari rumah gue di Jakarta Selatan menuju kampus, di Depok, Selatan Jakarta hanya untuk menemukan bahwa semua sudah pulang. Tenang, tenang. Belum saatnya melempar belimbing ke orang jelek, begitu gue bilang ke diri gue.
Akhirnya gue ada ide cemerlang. Gue pergi ke tempat rental VCD dan mencari rumah produksi film-film dari Dimsum. Dari sana akan gue cari di yellow pages nomor kontak PH dan gue tanya nomor kontak Dimsum.
‘Klining, klining’
Kenapa sih ada sebagian orang di dunia ini yang mengira bahwa memasang lonceng di pintu itu sesuatu yang cerdas? Anway, fokus.
“Siang Mbak. Ada film-filmnya Dimas Sumitro?” Ternyata pertanyaan ini meniumbulkan efek mata penuh mimpi bagi gadis penjaga rental. “Mbak? Mbak? Hai?”
“Oh? Uhmm sori otak saya brenti. Saya gak ngeces kan tadi?”
Sabar. Sabaaaaaaar sabar. “Gak kok Mbak. Ada film-filmnya Dimas Sumitro?”
Kembali sang mbak dengan mata penuh mimpi.
“Would you STOP THAT?” gue hampir mencekik sang mbak.
“Mas anggota sini?”
“Nggak.”
“Maaf saya gak bisa layani.”
Akhirnya gue membayar keanggotaan dan mengisi lembar keanggotaan yang mana jauh lebih rumit dari mengantri imunisasi anak. Selesai.
“Ya udah. Nih. Saya mau minjem salah satu film Dimas Sumitro. Yang mana aja terserah.”
“Pada keluar Mas namanya juga bentar lagi valentine.” Ujar sang mbak dengan air muka ‘gimana-sih?’
“ARRRGGGHHHH GJGKJGKIGKGKJGKGHLJGKGKKK”
Gue keluar dari tempat VCD itu dan mendapatkan akal baru. Gue pergi ke TU kampus, mungkin mereka memiliki nomor telfon kantor TU kampus dari Dimsum. Gue cukup yakin ikatan antar TU kampus itu erat. Setiap tahun mungkin mereka saling berkumpul dalam KTUKI (Konferensi TU Kampus Indonesia) di mana pegawai TU kampus Dimsum akan dengan secara kasual minum teh, makan biscuit dan memulai percakapan dengan,
“Dek Dimas Sumitro ganteng sekali lo.” Yang dibalas dengan malas oleh yang lain dengan,
“Denger-denger secara kasat mata, jidatnya gak proporsional ya Bu?”
I’ sure of that. Regarding the conference.. and the jidat issue.
Anyway, where was I? oh yes, on the way to to my TU. Sampai di sana gue meminta agar gue dapat berbicara langsung dengan pegawai TU, maksud gue agar lebih sopan. Pegawai TU di seberang bernama Mbak Pipit, seorang wanita yang telah lewat masa mbak-mbaknya namun masih berstatus ‘mbak’.
“Siang Mbak Pipit. Nama saya Ule. Rulli Prasetya. Boleh saya tahu nomor telfon Dimas Sumitro?”
“Ada alasan khusus kenapa mas ingin tau nomor telfon mas-mas lain?”
“Oh sori. Jadi gini Mbak. Saya ingin mengatur sebuah kencan di hari valentine dengan Dimas Sumitro.”
“Uhmmm setahu saya dia bukan gay loh mas, maaf loh….”
“Oh bukan Mbak. Bukan dengan saya. Dengan pacar saya.”
“SAKIT!”
-Klik-
“Loh? Loh? LOHH!!” Akhirnya gue coba telfon lagi dan berusaha menjelaskan kepada Mbak Pipit sebaik mungkin. Mbak Pipit akhirnya kembali tenang.
“Tapi saya gak tau mas nomor HP-nya, Kalo pun tau, ngapain saya ngasih tau Mas?”
“Hhh…..Tapi dia ada di sana? Kuliah gak?”
“Kuliah Mas. Saya yakin. Soalnya tadi dia baru saja masuk ke dalam kantor ini dengan rambut coklatnya. Dia menatap saya dengan tatapan dingin gagah yang memperlihatkan bahu bidang dibalut kemeja John Curtis biru. Tato di lengan kokohnya terlihat ketika dia menyerahkan buku absen dosen sambil berkata penuh chemistry pada saya ‘Ini mbak….’ Hhh hhh hhh..”
“SAKIT!”
-Klik-
Gue menghormati kenyataan bahwa tukang Siomay ini pasti sibuk. Jadi gue memutuskan untuk melakukan perjalanan lintas kota di panasnya Jakarta dari selatan ke utara, sebuah perjalanan yang dapat mentransformasi pria baik-baik perlente rapih seperti gua sampai di tujuan terlihat seperti yang baru saja melakukan kesalahan dan di-arak massa.
Dalam bus pertama Gue dengan sukses menduduki kursi yang ternyata baru saja di-ompoli anak kecil penduduk sebelumnya.
Dalam bus kedua, gue ikut mendorongnya.
Dalam mikrolet sesudahnya, gue dipalak anak STM yang meski 3 tahun lebih muda, 30 kali lebih banyak.
Di bus ketiga ada nenek-nenek muntah di atas pangkuan.
Di mikrolet kedua gue bertemu lagi dengan para anak STM itu. Gue berusaha menginisiasi percakapan dengan mengatakan bahwa Jakarta itu sangat panas namun percakapan ini tidak ditanggapi dengan baik.
Di bus keempat gue terpaksa memberikan jam tangan gue kepada supir yang tidak percaya bahwa gue baru saja ditodong dua kali oleh anak STM yang sama.
Bus kelima, diserang anak STM itu.
Sekali lagi bertemu mereka, sumpah deh gue bakal bikin milis.
Setelah 6 jam, di pukul 17:00, gua sampai di kampus si Joko Tingkir eh maaf, Malin Kundang itu. Sekarang gue memakai sandal hasil barter palak. Tapi tak apa. Yang penting sampai, pikir gue sambil masuk gerbang.
“Maaf Dek. Masuk kampus ini gak boleh make sandal.”
Meninggal aja gue sekalian! Tepat di saat itu, sebuah mobil Jaguar keluar perlahan dari gerbang. Ha! Dimsum!
“STOP!”
Alhamdulillah akhirnya bertemu juga dengan dia. Dia membuka kaca. Ada konvensi di alam sosial Jakarta bahwa semakin mahal mobil, semakin lambat power window terbuka untuk menimbulkan kesan lebih dramatis dan angkuh. It works like hell. Ini saatnya. Gue harus baik-baik untuk membujuk dia ikut dengan rencana gue.
“Siomaynya satu Dim.” DAMN!
“Sori?”
“Uhmmm sori Dim..” Gue kemudian mengutarakan rencana gue. Meminta satu malam kesediaan dia untuk makan malam di restoran yang dia pilih dan semua biaya gue yang bayar. Wajar karena dia artis dan dia pasti lebih tahu restoran mana yang membuat wanita klepek-klepek. Gue ceritakan juga bahwa pacar gue adlaah fans terberat dia dan dia akan sangat menghargai acara ini. Gue sempat kehilangan fokus presentasi ketika gue sadar di dalamnya penuh dengan artis lain. Semua wanita. Lucky bastard!
“..jadi gimana?”
“Sori. Gue gak nge-date sama orang yang gue gak kenal.” Jawabnya, tanpa menimbang bahkan ½ detik dan berlalu. Lengkap dengan kaca angkuhnya.
Gue speechless.
Jam yang gue serahkan pada kondektur adalah pemberian Guti untuk valentine 2002. Sepatu favorit yang gue pakai setiap hari, yang dipalak oleh anak-anak STM itu, pemberianya di valentine 2001.
“Gila ya, kamu.” Begitu reaksi pertama Guti dengan mata nanar. Tidak mempercayai kebodohan pacarnya mungkin. Gue hanya dapat mengangkat bahu.
“Ule cuman pengen Guti seneng. Ule tau Guti gak akan ngapa-ngapain. Ule tau Guti sayang sama Ule. Bagi Ule, Siomay gila itu gak lebih dari sekeping VCD rental yang dipinjam semalam. Bedanya VCD ini bisa makan bareng kamu. Kamu kan fans berat. Ya kenalan lah. Kaya temu selebriti gitu.”
“Idih ngapain banget? Guti juga suka George Clooney tapi kan bukan berarti mesti ketemu. Masak kamu gak tau sih betapa sombongnya dia? Infotainment berantakan gitu di mana-mana.”
“Lain kali tergila-gila sama orang, jelek-jeleknya juga kasih tau dong!”
“Iya iya.”
“Ya sud. Kamu valentine mau apa? Ule gak kepikiran lagi apaan. But you deserve something special.”
“Ya saya cuma pengen kamu aja coz you’re my something special.” (end)
Maaph kepanjangan gan! Dan makasih udah mau nyimak.. ^_^
sumber: suamigila.com
Langganan:
Postingan (Atom)