Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 April 2009

Cinta Seratus Hari (Cerpen)

Beberapa waktu yang lalu gue menemukan sebuah cerita cinta mengharukan.
Namun sayangnya hanya diceritakan secara singkat.
Untuk menambah jam terbang gue coba menulisnya kembali dan dengan sedikit edit menjadikannya sebuah cerpen ^_^.

Biar bacanya lebih mantap nih gue punya rekomendasi lagu-lagu yang pas buat nemenin lo semua pas ngebaca ni cerpen.
1. Secondhand Serenade – Vulnerable
2. Secondhand Serenade – Awake
3. Evanescene – My Immortal
4. Avril Lavigne – How Does it Feel
5. The Red Jumpsuit Apparatus - Your Guardian Angel
6. ST 12 – Saat Terakhir
7. Peterpan – Tak Ada Yang Abadi
8. Kangen Band – Bintang 14 Hari, hehee..
Selamat menikmati..

Cinta Seratus Hari

Indah rasanya menikmati sore dalam suasana nyaman. Menikmati cerah langi-langit sore, menyambut datangnya kejora. Taman yang ada di kampus ini pun menjadi tempat yang pas untuk melepas lelah. Lelah dari aktifitas akademik sehari-hari..

Peter dan Tina duduk diantara penikmat sore di taman itu. Menikmati sore, memandang birunya langit, melepas lelah.. Mereka tak hanya berdua, ada sahabat-sahabat mereka disana. Berbeda dengan Peter dan Tina yang hanya memandang langit, para sahabatnya, Riko dan Arga justru melewati sore dengan bercengkrama canda tawa dengan pacar mereka masing-masing.

“duh, bosen banget”, Tina memecahkan suasana
“kenapa?”, respon Peter yang duduk tepat di sebelahnya
Sambil tetap memandang langit sore Tina berkata, “gue juga mau punya pacar yang berbagi waktu sama gue, seperti mereka” Tina menoleh kepada Riko dan Arga yang bercanda ria dengan pacarnya
“iyah, gue juga pengen banget berbagi seperti mereka”, Peter berkata dan ikut menoleh.

Tina kaget dengan perkataan Peter. Peter memang seorang yang tak banyak bicara. Tina mengira Peter nyaman dengan status jomblonya dan tak memikirkan hal-hal seperti ini. Sikap Peter yang tenang membuatnya sulit ditebak. Mereka terlelap dalam keluhan perasaan kesepian masing-masing dan berbicara angan dan mimpi lalu terhentak oleh sunyi. Mereka terdiam beberapa saat.

“Gue punya ide bagus”, untuk kedua kalinya Tina memecahkan suasana diantara mereka
“eh? Ide?”, respon Peter datar namun penuh dengan tanya
“iyah, kita adain permainan”, lanjut Dina bersemangat
“permainan apa?”, tanya Ardi
“emm..gampang sih permainannya. Aku jadi pacar kamu dan kamu jadi pacar aku tapi hanya untuk 100 hari aja. Gimana? Mau ngga?”

Peter kaget dengan permainan yang diajukan Tina tapi dengan yakin Peter menjawab, “ok. Gue juga ga ada rencana beberapa bulan ke depan”
“kok kamu ga semangat gitu sih, semangat donk!” ujar Tina yang disambut senyum hangat Peter
“berarti hari ini, hari pertama kita jadian dan berarti ini hari pertama kencan kita” lanjut Tina dengan semangat.
“gimana kalo kita nonton? Kalo gak salah ada film P.S I Love You yang lagi diputer, katanya bagus”, ajak Peter
“oke deh.. yuk! Kita pergi sekarang. Ntar pulang nonton kita karaoke ya.. ajak Riko dan Arga sama pacarnya, biar seru”
“boleh juga. Nge-date bareng nih..”

Peter dan Tina bergegas pergi nonton setelah berpamitan dan mengajak karaoke Riko dan Arga. Mereka janjian bertemu ditempat karaoke setelah Peter dan Tina nonton.

Selepas nonton Peter dan Tina terhanyut dalam alunan lagu-lagu yang mereka nyanyikan di tempat karaoke. Terhanyut dalam suasana indah menyenangkan. Namun sayang kebersamaan ini harus berakhir dengan malam yang semakin larut. Peter bergegas mengantar Tina pulang. Peter mengantar sampai depan pintu rumah kediaman Tina. Memastikan Tina tiba di kamarnya dan mengucapkan selamat malam untuknya, lalu Peter pun pulang.


***

Hari kedua mereka jadian Peter menjemput Tina. Mereka pergi ke kampus bareng. Layaknya orang normal berpacaran, pagi itu pun mereka saling menanyakan kabar dan memperhatikan pasangannya. Keduanya saling perhatian seolah mereka tidak merasa dalam suatu lingkaran permainan.

Ketika perkuliahan selesai Peter kembali menjemput Tina. Lalu mengantarnya pulang dan menjemputnya kembali sore harinya. Hari kedua ini mereka merencanakan makan malam bersama. Peter sudah memesankan tempat special untuk mereka.

Makan malam itu terasa sangat manis. Mereka makan di sebuah kafe di daerah dataran tinggi di kota Bandung. Cahaya lampu-lampu mewarnai Bandung di malam hari. Mereka syahdu dalam indahnya malam dan semakin romantis dengan alunan musik-musik indah yang disediakan pihak kafe.

Setelah makan malam Peter mengantar Tina pulang. Namun disela-sela lampu merah di tengah perjalanan mereka, Peter melihat suatu benda yang menariknya untuk membeli. Spontan saja Peter membalikan arah mobilnya menuju toko itu.
“lho kok puter balik?” ujar Tina heran

Peter tak membalasnya, terus berjalan dan langsung memberhentikan mobilnya tepat di tepi toko itu. Tina diajaknya ke dalam toko itu.
“mau ngapain kita?”, tanya Tina dan sekali lagi Peter tak membalas seolah tak peduli, Peter langsung menemui penjaga toko dan berkata sambil berbisik. Tina dibuatnya tampak kesal dan ditinggalkan sendiri di lobi toko itu.

Peter kembali menemui Tina yang di tinggalkan dengan rasa kesal. Di tangannya menggenggam kotak hitam. Lalu dibukalah kotak tersebut.
“kalung ini untuk kamu”, Peter mengeluarkan kalung liontin bintang itu dan memakaikannya ke leher Tina. Raut kesal Tina berubah seratus derajat menjadi wajah yang sumringah dan bahagia.

***

Hari ketiga. Hari ini setelah pulang kuliah mereka mampir ke sebuah mall. Peter mencari kado untuk adiknya yang berulang tahun hari ini. Lama mereka keluar masuk toko di mall tersebut sampai akhirnya usaha mereka membuahkan hasil. Kado cantik untuk adiknya tercinta. Sebuah boneka putri raja yang cantik lengkap dengan miniatur kamarnya.

Setelah itu mereka sejenak beristirahat dan melepas lelah di sebuah stage yang menyediakan kue dan es krim lezat. Semua menjadi lebih nikmat karena kelezatan kue dan es krim tersebut mereka makan bersama. Sepotong kue dan segelas es krim untuk berdua.

***

Hari ketujuh. Seminggu mereka jadian. Tak terasa bahwa satu minggu ini telah menjadi lebih indah sejak kebersamaan mereka satu sama lain. Tina menemani Peter berlatih basket di kampus. Ketika Peter berlatih Tina mengisi waktunya dengan membaca buku, duduk di tepi lapangan.

Selesai berlatih Peter lalu menemani Tina di tepi lapang sambil menghilangkan keringat. Sebuah bola basket tiba-tiba menghampiri mereka. Rasa ingin tau Tina keluar. Tina mengajak Peter memainkan bola basket itu kembali, bersamanya.

Lelahnya Peter terbuang begitu saja ketika menemani Tina bermain. Berlompat-lompat, berlari, senyum dan tawa menghiasi wajah mereka ketika bermain bersama.

Tina terlihat bersemangat, tak kenal lelah berlari-lari, melompat-lompat menangkap bola sampai akhirnya harus berhenti akibat kakinya sedikit terkilir akibat pendaratan lompat yang tak sempurna. Peter dengan cepat menolong Tina dan dipijitnya kaki Tina dengan lembut dan penuh kasih sayang.

***

Hari ke-25. Peter mengajak Tina makan malam. Kali murni datang dari Peter tidak ada kesepakatan seperti waktu itu. Peter memilih tempat yang sama seperti waktu itu tapi dengan spot yang berbeda. Kali ini Peter memilih spot yang menghadap langsung dengan alam terbuka. Lampu warna-warni semakin terlihat menghiasi malam kota Bandung. Suasana alam yang sejuk semakin mendukung keindahan dengan hadirnya ribuan bintang yang memeluk langit malam, yang mengelilingi cahaya bulan.

Peter menggeser bangkunya lebih dekat dengan Tina. Seperti awal mereka memulai permainan ini, mereka memandang langit. Namun kali ini mereka tak menemukan kejora. Bintang-bintanglah yang menghampiri mereka malam ini.

Keduanya seperti terbawa suasana malam. Tina merebahkan kepalanya di dada Peter. Tak berapa lama terlihat sebuah bintang bergerak seolah akan menghantam bumi. Bintang jatuh. Tina mengucapkan sesuatu dalam hatinya, permintaan hatinya yang terdalam.

***

Hari ke-41. Peter berulang tahun. Tina membuatkan kue ulang tahun untuk Peter. Kue ini memang bukan buatannya yang pertama, tapi kasih sayang yang timbul dalam hatinya membuat kue itu menjadi karyanya yang terbaik.

Bak kebahagiaan yang seolah baru menghampiri, Peter pun terharu menerima kue itu. Kejutan yang luar biasa bahagianya. Peter mengucapkan harapannya saat meniup lilin ulang tahun di kue itu.

***

Hari ke-67. Mereka menghabiskan waktu ke Dunia Fantasi. Menikmati wahana-wahana, makan es krim bersama, mengunjungi stand permainan yang berhadiah.

Peter berhasil memenangkan sebuah permainan dan menghadiahkan boneka Teddy Bear untuk Tina. Seolah tak mau kalah menunjukan cintanya Tina pun berhasil memenangkan permainan dan menghadiahkan pulpen untuk Peter. Barang-barang tersebut bermakna lebih karena seseorang yang bermakna yang memberikannya.

***

Hari ke-72. Terdapat sebuah festival besar di tengah kota Bandung. Banyak acara dan tempat bagus yang ditawarkan di sana. Begitu meriah..

Tina tiba-tiba saja menghilang ketika Peter membeli cemilan manis yang mengingatkan pada masa kecil, gulali. Peter menyuruhnya duduk di bangku di depan stand sulap. Namun ketika kembali, Peter tak menemukan Tina, Peter menunggu di sana.

Tina ternyata masuk ke stand sulap itu dan mencoba peramal yang ada di sana. Sang peramal hanya mengataka, “hargai waktumu bersamanya mulai sekarang”. Lalu peramal tersebut meneteskan air mata. Tina keheranan dibuatnya.

Tina kembali menemui Peter. Semua kata dan tetesan air mata sang peramal yang membuatnya heran terlupakan oleh suasana meriah festival tersebut.

***

Hari ke-84. Peter mengajak Tina ke pantai. Suasana pantai tampak sepi, dikarenakan hari ini bukanlah hari libur. Mereka melepas sandal dan berjalan di tepi pantai. Sambil berpegangan tangan, berpegangan tangan dan merasakan dinginnya air laut menghempaskan kaki mereka.

Mereka menikmati saat matahari mulai terbenam dengan berpelukan seerat-eratnya seolah mereka tak mau berpisah lagi.

***

Hari ke-99. Seratus hari permainan itu akan segera berakhir. Hari-hari penuh kebahagian itu akan segera usai. Namun sayangnya dari hari-hari yang mereka lewatkan bersama, tiada sedetik pun untuk mengatakan cinta atau sayang. Mereka, Peter dan Tina menganggap ini adalah sebuah permainan. Tanpa menghargai perasaan masing-masing.

Peter memutuskan agar mereka menjalani hari ini dengan santai dan sederhana. Mereka hanya berkeliling kota, melihat-lihat bangunan-bangunan di tengah kota. Lalu berakhir di taman kota.

Terik matahari sudah tak begitu menyengat. Sore datang. Peter dan Tina duduk-duduk di taman memandang langit. Tatapan mereka kosong, namun kegelisahan menghampiri diraut wajah masing-masing. Kegelisahan karena permainan yang mereka mainkan akan segera berakhir.

Pukul 15.20
“aku haus”, Tina memecahkan suasana
“oh, tunggu di sini biar aku yang beli minumannya. Kamu mau minum apa?” ujar Peter penuh perhatian
“biar aku aja yang beli. Kamu khan capek dah seharian nyetir keliling kota”
Peter mengangguk setuju. Kemacetan jalan kali ini memang membuatnya sedikit capek.
“kamu mau minum apa?” lanjut Tina
“disamain aja sama kamu”
“bentar yah” lalu Tina bangkit dari duduknya
“Tina” panggil Peter sambil bangkit dari duduknya. Tina menoleh “yah”
“aku ke toilet dulu yah” pamit Peter yang hanya dibalas sebuah senyuman manis oleh Tina. Mereka berjalan saling membelakangi.

Peter sedikit memeriksa kerapihan pakaiannya setelah dari toilet. Tina belum kembali. Tiba-tiba saja sesosok orang yang tak dikenal dengan setengah berlari datang menghampirinya.
“ada apa pak?” ujar Peter ramah penuh tanya
“ada seorang perempuan tertabrak mobil di jalan. Kelihatannya temanmu”

Mendengar berita itu Peter lari dengan sekencang-kecangnya. Di sana, di aspal yang berpanas sisa-sisa terik matahari siang tubuh Tina tergeletak bersimbah darah. Di tangannya menggenggam sebuah botol minuman. Sebotol minum untuk mereka berdua. Peter segera mengambil mobilnya dan segera melarikan Tina ke rumah sakit terdekat.

Peter menunggu dan berdoa tak henti-hentinya di luar ruang ICU tempat Dina dirawat. Keluarga Tina datang, lalu tak lama kemudian keluarga Peter pun tiba di sana.

Pukul 23.53
Seorang dokter keluar dengan wajah penuh penyesalan.
“maaf, yang terbaik sudah kami lakukan, dia masih bernafas. Namun kami tak tau kehendak Tuhan setelah usaha kami”
Lalu dokter mengeluarkan secarik kertas yang terkena percikan darah.
“kami menemukan ini di sakunya”, dokter menyerahkan secarik kertas itu ke Peter

Peter diperbolehkan masuk ke ruang Tina di rawat. Wajah Tina tampak pucat, namun pucatnya itu menampakan kedamaian. Peter duduk di kursi di samping pembaringan Tina. Digenggam tangan Tina dengan erat.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Peter merasakan torehan luka yang sangat mendalam di hatinya. Mencoba tegar, namun perasaannya yang mendalam tak mampu menahan butiran air mata yang mengalir dari kedua bola matanya. Peter mulai membaca secarik kertas tersebut.

Dear Peter
Ke-100 hari kita sudah hampir berakhir... Aku menikmati hari-hari yang kulalui bersamamu.
Walaupun kadang-kadang kamu jutek dan tidak bisa ditebak, tapi semua hal ini telah membawa kebahagiaan dalam hidupku...

Aku sudah menyadari bahwa kau adalah pria yang berharga dalam hidupku. Aku menyesal tidak pernah berusaha mengenalmu lebih dalam lagi sebelumnya.

Sekarang aku tidak meminta apa-apa. Aku hanya berharap kita bisa memperpanjang hari-hari kebersamaan kita. Sama seperti yang kuucapkan pada bintang jatuh malam itu. Aku ingin kamu menjadi cinta sejati dalam hidupku. Aku ingin menjadi kekasihmu selamanya dan berharap kamu juga bisa berada di sisiku seumur hidupku.

Peter, aku sangat sayang padamu

Pukul 23.58
“Tina, apa kamu tau harapan apa yang aku ucapkan dalam hati saat meniup lilin ulang tahunku? Aku pun berdoa agar Tuhan mengijinkan kita bersama-sama selamanya.

Tina kamu tidak bisa meninggalkan aku. Hari yang kita lalui baru berjumlah 99 hari. Kamu harus bangun dan kita akan melewati puluhan ribu hari bersama-sama.

Aku juga sayang kamu. Tina jangan tinggalkan aku. Jangan biarkan aku kesepian. Tina, aku sayang kamu…”

Takdir Tuhan berbicara. Tepat pukul 00.00, jantung Tina berhenti berdetak. Tepat di keseratus hari mereka.

Rabu, 11 Maret 2009

Jalan Terbaik (mencoba mencerpen)

Hoihoiii…
Uh, awalnya mau nulis cerpen yang ringan-ringan tapi pas udah nulis jadi belok haluan gini.. rada melankolis nan plegmatis..
Maaph ya bos-bos.. kalo tulisan kali ini rada-rada sadis dan cadas jg..
Gue dapet ide cerpen ini dari salah satu dosen gue cuy..


Jalan Terbaik

Malam kian larut, bulan pun mulai terhalang oleh awan-awan yang berkeliaran disampingnya. Tiada bintang-bintang malam ini, bahkan salah satu bintang itu telah pergi untuk selama-lamanya. Ya, tepat seminggu yang lalu aku ditinggalkan nenekku tercinta. Beliau pergi dari dunia ini menuju akhirat yang kekal. Doaku mengiringinya hampir setiap hari. Dalam detik, menit, jam, dan hari-hari ketika beliau sakit tak hentinya ku berdoa. Satu doa yang ku panjatkan, semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuknya. Maka Tuhan memperlihatkan kematiaanlah yang terbaik untuknya. Selamat jalan nenekku.

Tepat sepuluh hari sebelum wafatnya, nenekku selalu menyapa cucu-cucunya. Menemui mereka dengan hangat dan senyuman yang tak terlupakan. Tepat hari ini adalah hari dimana umat muslim sedunia merayakan hari kemenangan. Takbir berkumandang hampir dipelosok bumi. Idul Fitri kali ini merupakan Idul Fitri terakhirnya. Terakhir dimana aku mendengar suara doanya ketika ku cium tangannya. Terakhir dimana keluarga besar ini berkumpul dan berbagi rasa dengannya.

Senyumnya menghiasi hari-hari itu. Kami, para cucunya secara tak disengaja berkumpul membuat forum tersendiri dengan nenek, tanpa kehadiran orang tua kami yang merupakan anak-anaknya. Perkumpulan ini tanpa disengaja terbuat atau memang Tuhan kah yang telah mengaturnya? Sedih rasanya mengetahui bahwa disaat itulah waktu terakhir kami berkumpulnya.

Setelah lima hari berada di rumah untuk merayakan lebaran, aku akan kembali ke kota dimana aku menuntut ilmu. Setelah berpamitan dengan kedua orang tua ku tak lupa pula berpamitan dengan nenek. Ku cium tangannya dan terdengar suara seperti yang diucapkannya saat Idul Fitri lalu. Aku berlalu dari Jakarta menuju Bandung.

Kuat dalam ingatanku dua nasehat terbesarnya dalam hidupku. Jangan pernah berpaling dan mengecewakan orang tua dan selalu ingatlah perintah Tuhan-mu yang telah menciptakan orang tuamu.

Tak berapa lama berada di Bandung aku kembali ke Jakarta. Nenekku masuk rumah sakit. Berita itu sungguh mengagetkan, karena tak terbayang jika nenek akan jatuh sakit. Sebelum, saat, dan setelah Idul Fitri beliau masih terlihat bertenaga. Bahkan saat aku berpamitan. Namun inilah suratan takdir, tak bisa ditebak dengan akal.

Sesampainya di Jakarta aku langsung menuju rumah sakit. Orang tua, paman dan bibi ku semua ada disana. Ku lihat nenek berada dalam sebuah ruangan yang dipenuhi dengan alat-alat medis. Beberapa dokter dan perawat berada di dalamnya memeriksa dan memasangkan banyak alat bantu kehidupan di tubuh nenek. Tak lama kemudian sekelompok berbaju putih itu keluar. Satu dokter menemui orang tua ku. Entah apa yang mereka bicarakan.

Tuhan mendengar doaku untuk memberikan yang terbaik bagi nenek ku. Ternyata alat bantu kehidupan dokter itu dikalahkan oleh takdir Tuhan. Alat tersebut hanya bertahan tak lebih dari dua hari. Nenekku kini telah pergi menghadap Sang Pencipta.

Janganlah kau takut dengan kematian, karena sesungguhnya engkau pun belum hidup.


*jangan lupa comment cuy...

Rabu, 08 Oktober 2008

Merah Marun (Mencoba Mencerpen)


”Dit uangnya udah kakak kirim 200rb, nanti tasnya kamu paketin aja yach.”
06/04/2007
04:43
Sender : kaka’Qu

Hari ini gue memulai kehidupan dengan membaca sms dari kakak gue. Kakak terbaik yang sangat pengertian terhadap adiknya ini. Dia minta tolong untuk dibelikan tas di Bandung. Sebagai seorang laki-laki, gue bingung harus membeli tas seperti apa untuk seorang wanita. Apalagi tas yang bisa dibawa ke kantor. Huh! Merepotkan. Namun sebagai seorang adik gue harus membelikannya. Aha! Muncul ide, gue akan minta tolong ke Dina untuk membelikan tasnya. Soalnya teman gue yang satu ini sangat stylish fashion dan gue yakin, Dina pasti tau selera untuk seorang wanita seperti kakak gue. Tanpa pikir panjang gue langsung mengirim sms (short message service) ke Dina, isinya minta tolong dibelikan tas yang sesuai selera kakak gue.

***

Selesai kuliah jam 11:30 gue pergi ke atm. Tapi nanti gue harus ke kampus lagi, gue janjian mau memberikan uang, untuk membelikan tas kakak gue ke Dina siang ini. Karena dia masih kuliah sampai jam satu kurang sepuluh jadi kita janjian mau ketemu di kampus aja. Gue ada perkuliahan lagi nanti jam satu pas, sekarang jadwal gue kosong. Jadi gue pikir ngambil uang di atmnya sekarang aja.

Sesampainya di atm center yang ada di gerbang utama kampus terlihat antrian yang sangat panjang. Kalo seperti ini biasanya gue akan mengurungkan niat masuk antrian, lalu segera gue putuskan untuk ke atm yang ada di kantor bank cabang pembantu di gerbang timur. Jaraknya sekitar lima ratus meter dari gerbang utama.

Awalnya gue berpikir pergi ke bank dengan menggunakan angkutan gratisan yang ada dilingkungan kampus, tapi berhubung angkutannya selalu penuh terus jadi gue putusin untuk berjalan kaki sajalah. Terik matahari begitu menyengatnya sehingga terasa seperti membakar kulit, bahkan trotoar yang diberi atap ini pun (red. kanopi) seolah tidak berpengaruh menangkal teriknya sinar matahari.

Sesampainya di bank pun masih terlihat antrian, namun setidaknya di sini lebih baik dan tidak sebanyak antrian di gerbang utama tadi. Gue masuk antrian, masuk antrian ketiga dari depan, lalu tidak lama kemudian gue berhasil dengan sukses mengambil empat lembar uang pecahan lima puluh ribu senilai dua ratus ribu rupiah dari mesin atm. Sambil berjalan menjauh dari mesin atm tersebut gue melihat jam yang ada di ponsel. Waktu menunjukkan pukul 12:13, berselang beberapa detik terdengar suara panggilan shalat saling bersahutan dari satu masjid ke masjid lain. Waktu zhuhur pun tiba.

Gue pun bergegas meninggalkan area bank, namun ketika gue menoleh ke arah…

”braakk” uh! Shittt . . ponsel gue jatuh, gue ambil tapi masih tetap melihat ke arahnya. Ada seorang wanita cantik berjalan dari arah gerbang timur, ditengah teriknya matahari. Seolah tidak menyadari, dia berjalan tanpa menoleh ke arah manapun. Pandangannya hanya terfokus pada satu arah ke depan. Bahkan ketika melewati gue yang sedang setengah berdiri pun dia tetap hanya menatap ke satu arah. Berjalan dan berlalu begitu saja. Gerak langkahnya terlihat cepat, mungkin untuk menghindari terik matahari yang sangat menyengat hari ini.

Gue berjalan dibelakangnya, bukan maksud gue untuk mengikutinya. Namun secara kebetulan arah tujuannya berjalan sama dengan gue. Entah siapa nama wanita cantik itu. Akan tetapi sepertinya gue merasa tidak asing ketika sekilas memandang wajahnya tadi. Otak gue berjalan cepat mencari stimulus memorinya, dalam sekejap gue dapat. Dia satu kampus dengan gue, dia satu tingkat dibawah gue, dan kalo tidak salah juga, gue pernah berpapasan dengannya dikampus.

Terlihat wajahnya memerah tersengat teriknya matahari. Air keringatnya pun mengalir dari wajahnya. Mengingat perjalanan yang cukup menguras energi, cukup wajar bila air keringat itu keluar. Gue pun sama berkeringatnya tapi sepertinya lebih banyak dia, mungkin karena dia berjalan dengan langkah yang lebih cepat. Sampai-sampai nafasnya pun sedikit terengah-engah.

Sebelum mencapai kampus wanita itu memberhentikan langkahnya. Nafasnya agak tersendat-sendat. Dalam pemberhentiannya tiba-tiba saja seorang lelaki menghampirinya. Lelaki yang bersamanya ketika gue berpapasan waktu itu. Terjadi pembicaraan diantara mereka, entah apa yang mereka bicarakan. Namun dari sekilas pandangan gue bilang sepertinya sangat penting dan sedikit menegang, bertengkar. Tiba-tiba gue dikagetkan dengan tingginya suara lelaki itu berbicara, suara tersebut menghentikan langkah gue. Sontak! Gue lebih dikagetkan, ketika lelaki itu tiba-tiba saja melayangkan tangannya diwajah wanita tersebut. Apa yang sebenarnya terjadi? Tanya gue dalam hati. Wajah wanita tersebut memerah tapi kali ini bukan karena sengatan terik matahari. Wanita tersebut masih tetap berbicara seperti mencoba menjelaskan segala sesuatunya. Matanya pun terlihat berkaca menahan air mata, namun perih di hatinya lebih deras sehingga tidak sanggup menahannya, air mata itu pun terjatuh dari kelopak matanya yang indah. Akan tetapi lelaki tersebut malah terlihat semakin murka dan seolah tidak mau mendengar apa yang diucapkan wanita tersebut. Suatu perbuatan egois tentunya. Kejadian tersebut berlangsung beberapa menit namun gue rasa akan menimbulkan efek berkepanjangan, terutama untuk si wanita cantik tersebut.

Apapun alasannya bagi gue perbuatan tersebut bukan suatu cara yang baik untuk menyelesaikan suatu masalah, terutama perbuatan bodoh lelaki tersebut. Kesalahan apakah yang wanita itu lakukan? Dan apakah baiknya menyelesaikan masalah seperti itu? Apapun alasannya gue merasa menjadi orang yang salah sudah membiarkan kejadian tersebut berlangsung. Apalagi perbuatan bodoh laki-laki tersebut. Seharusnya seorang laki-laki dewasa itu tau bagaimana memperlakukan wanitanya, bukan seenak hatinya menghukum rimba seperti itu. Yang lebih patut disayangkan, wanita itu adalah kekasihnya, orang yang seharusnya mendapatkan perlindungan bukan penganiyaan.

Wanita itu masih tersendat dengan tangisnya dan berbicara dengan terpatah-patah. Perjalanannya begitu sia-sia, karena tiada sedikit pun penghargaan dari lelaki tersebut atas pengorbanannya. Ingin sekali rasanya membantu wanita itu, namun siapa diri ini? Aku sadar, aku bukanlah siapa-siapa diantara keduanya. Aku hanyalah seorang pejalan kaki, yang mengagumi wanita yang telah berjalan di depannya. Kagum terhadap apa yang dia memperjuangkan untuk cintanya.

***

”Dit tasnya udah kakak terima. Bagus modelnya, warnanya juga, merah marun. Kakak suka, makasih yach Aoli tanya kapan kamu pulang ke Jakarta lagi?”
09/04/2007
10:47
Sender : kaka’Qu

Gue harus berterima kasih banget sama Dina, karena berkat jasanya gue bisa memenuhi amanat dari kakak gue. Setidaknya membuat kakak gue bisa sedikit tersenyum dengan tas barunya tersebut.

Dan hari ini di kampus gue kembali dipertemukan dengan mereka. Kali ini dalam suasana yang sangat jauh berbeda. Kini canda dan tawa mengiringi mereka. Sedikit tawa ku dalam hati ketika melihat mereka dengan kemesraan yang penuh kehangatan. Lalu dari hati gue yang terdalam keluar pertanyaan, apakah yang menyatukan mereka? ”Cinta?”. Lalu dimanakah cinta itu berada, ketika siang itu. Apakah cinta itu selalu datang ketika kita sedang merasa senang atau bahagia saja? Bagaimana ketika kita sedang sedih, benci, dan marah? Kemanakah cinta itu pergi?. (ioudi)