Semakin Lama Waktu Yang Terlewatkan
Semakin Lama Dirimu Dalam Ingatan
Aku Masih Saja Terlelap Dalam Satu Impian
Sedangkan Engkau Telah Membangun Mimpi Baru
Menggenggam Indahnya Hari Esok
Merajut Ruang Waktu Yang Elok
Disaat Aku Masih Termenung
Engkau Telah Merasa Riang dan Bahagia
Melewatkan Hari Dengan Tawa
Merangkai Senja Dengan Warna
Walaupun Aku Masih Saja Termenung Dengan Satu Impian
Aku Tak Merasakan Kecewa
Aku Berharap Ada Secercah Harapan
Yang Dapat Aku Raih, Lalu Aku Wujudkan
Menjadi Puing-Puing Kasih Sayang
Yang Kuikatkan Dalam Cinta
Dan Kuberi Wadah Dengan Kebahagiaan
Kini Maafkanlah Aku
Karena Mungkin Mimpi Ini Akan Segera Ku Akhiri
Terik Matahari Telah Datang Menyapaku
Menerangkan Pandangan Mata,
Menyadarkan Raga
Aku Harus Bergegas
Menyiapkan Diri,
Menghadapi Pagi
Terimakasih Untuk Engkau, Mimpiku
Terimakasih Telah Hadir Dalam Lelapku
by; Yudi Bastian
Minggu, 23 November 2008
Selasa, 18 November 2008
Kontroversi Laskar Pelangi
Aneh banget! Pas tuh novel ma filmnya udah melambung tinggi, ada aja yah yang ngaku-ngaku..
Dasarlah orang Indonesia (kaya gue ga aja’)..
Kalo kata gue sih ni orang ga mau aja ketinggalan terkenal, hahahaa..
Kenapa yah si mawar (sebut saja wanita itu mawar) itu mengakunya pas filmnya booming yah, padahal novelnya lebih dulu booming. Kalo emang dia itu salah satu dari karakter dalam ceritanya seharusnya pas novelnya booming dia udah ngaku-ngaku tapi kenafaa..baru sekarang?? Telat banget sii lho’
Tapi masa bodo ah dengan aspek eksternalnya, Laskar Pelangi (novel n filmnya) tetap karya yang patut diberi pujian..
Hidup Andrea Hirata!
Hidup Karya Sastra Indonesia!
Hidup buat gue juga! Hehehee..ga mau ketinggalan juga ahh..
Dasarlah orang Indonesia (kaya gue ga aja’)..
Kalo kata gue sih ni orang ga mau aja ketinggalan terkenal, hahahaa..
Kenapa yah si mawar (sebut saja wanita itu mawar) itu mengakunya pas filmnya booming yah, padahal novelnya lebih dulu booming. Kalo emang dia itu salah satu dari karakter dalam ceritanya seharusnya pas novelnya booming dia udah ngaku-ngaku tapi kenafaa..baru sekarang?? Telat banget sii lho’
Tapi masa bodo ah dengan aspek eksternalnya, Laskar Pelangi (novel n filmnya) tetap karya yang patut diberi pujian..
Hidup Andrea Hirata!
Hidup Karya Sastra Indonesia!
Hidup buat gue juga! Hehehee..ga mau ketinggalan juga ahh..
Sabtu, 08 November 2008
Hayo' Majukan Budaya Nasional, Dananya???
Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Rabu siang, gue dateng ke acara puncak Dies Natalis Fakultas Sastra yang ke-50. Sebenarnya rangkaian acara Dies Natalis ini sudah dimulai dari minggu sebelumnya tapi berhubung gue lagi KKNM ya baru bisa ke kampus pas ada kuliah ajah.
Pada acara puncak ada yang menarik dan patut gue datengin, yaitu stadium general oleh Bung Rano Karno a.k.a Si Doel. Kenapa gue harus menghadiri?? Jawabannya pas denger nama Rano Karno pasti memori yang terlintas adalah Si Doel Anak Sekolahan. Alasan yang tepat bukan! Si Doel Anak Sekolahan identik dengan budaya Betawi dan gue lahir dari seorang ayah dan ibu yang kebetulan berasal dari suku Betawi, maka bangkit pulalah rasa kesukuan gue..
Diacara tersebut bang Doel dalam makalahnya menyampaikan kuliah bertema “Memberdayakan Potensi Budaya Lokal (Sunda)”. Bang Doel menyampaikan kuliah dengan baik dan tidak kalah juga dengan kuliah yang disampaikan oleh dosen sini. Bang Doel dalam ceramahnya memberikan semacam masukan motivasi untuk kita semua bersama-sama untuk mengembangkan budaya lokal, budaya dari suku-suku kita. Pengalaman yang berharga bisa menjadi bagian dari kuliah bersama ini.
Ketika telinga ini masih tertuju perkataan-perkataan Bang Doel, otak ini justru mampir ke memori beberapa bulan yang lalu. Bukan ketika melihat “Merah Marun” yah (hanya orang-orang tertentu yang tau dibalik nama “Merah Marun” itu). Saat itu kami berjuang keras untuk mengadakan suatu acara yang bertemakan budaya. Huh! Luar biasa perjuangannya, mulai dari konsistensi panitianya yang naik turun karena kejelasan acara yang berubah-ubah, penolakan proposal-proposal oleh calon sponsor, sampai perizinan sana-sini yang menguras tenaga, pikiran, dan perasaan. Namun akhirnya kami tetap berhasil melaksanakannya. Nama acara tersebut “Kampung Budaya Unpad”. Kini Kampung Budaya Unpad sedang berproses ditahunnya yang ke-2. Sukses untuk kalian teman-teman yang bergabung dalam kepanitiaan. Maaf kami terpaksa tidak bisa bergabung kembali.
Kembali ke acara kuliah bersama oleh Bang Doel. Saat sesi pertanyaan ditawarkan beberapa orang yang hadir langsung mengacungkan tangan. Dalam hati gue juga punya pertanyaan yang gue ambil dari pengalaman mengikuti kepanitiaan Kampung Budaya Unpad. “Ketika sekelompok mahasiswa dengan semangat yang tinggi untuk mengembangkan potensi budaya nasional, kendala klasik tapi menentukan adalah kendala keuangan. Adakah solusi untuk kendala tersebut? Karena setiap kami memasukkan proposal-proposal selalu dipentalkan oleh perusahaan-perusahaan, menurut mereka tema budaya tidak cocok dengan konten produk mereka. Padahal diantara perusahaan tersebut terdapat salah satu perusahaan yang diiklannya selalu menampilkan sisi-sisi budaya nasional dan yang ironi ketika proposal kami hampir ditolak oleh dinas pariwisata. Bahkan kalo kami tidak bernegosiasi yang baik bantuan dari pihak rektorat pun tak akan turun”. Pertanyaan tersebut gue mau sampaikan kepada Bang Doel selaku budayawan dan seorang ibu dari dinas pariwisata Indonesia. Namun pertanyaan itu masih dalam angan gue aj karena terkendala waktu, maka terjadi pembatasan pertanyaan. Sudahlah pertanyaan tersebut masih tersimpan.
Pada acara puncak ada yang menarik dan patut gue datengin, yaitu stadium general oleh Bung Rano Karno a.k.a Si Doel. Kenapa gue harus menghadiri?? Jawabannya pas denger nama Rano Karno pasti memori yang terlintas adalah Si Doel Anak Sekolahan. Alasan yang tepat bukan! Si Doel Anak Sekolahan identik dengan budaya Betawi dan gue lahir dari seorang ayah dan ibu yang kebetulan berasal dari suku Betawi, maka bangkit pulalah rasa kesukuan gue..
Diacara tersebut bang Doel dalam makalahnya menyampaikan kuliah bertema “Memberdayakan Potensi Budaya Lokal (Sunda)”. Bang Doel menyampaikan kuliah dengan baik dan tidak kalah juga dengan kuliah yang disampaikan oleh dosen sini. Bang Doel dalam ceramahnya memberikan semacam masukan motivasi untuk kita semua bersama-sama untuk mengembangkan budaya lokal, budaya dari suku-suku kita. Pengalaman yang berharga bisa menjadi bagian dari kuliah bersama ini.
Ketika telinga ini masih tertuju perkataan-perkataan Bang Doel, otak ini justru mampir ke memori beberapa bulan yang lalu. Bukan ketika melihat “Merah Marun” yah (hanya orang-orang tertentu yang tau dibalik nama “Merah Marun” itu). Saat itu kami berjuang keras untuk mengadakan suatu acara yang bertemakan budaya. Huh! Luar biasa perjuangannya, mulai dari konsistensi panitianya yang naik turun karena kejelasan acara yang berubah-ubah, penolakan proposal-proposal oleh calon sponsor, sampai perizinan sana-sini yang menguras tenaga, pikiran, dan perasaan. Namun akhirnya kami tetap berhasil melaksanakannya. Nama acara tersebut “Kampung Budaya Unpad”. Kini Kampung Budaya Unpad sedang berproses ditahunnya yang ke-2. Sukses untuk kalian teman-teman yang bergabung dalam kepanitiaan. Maaf kami terpaksa tidak bisa bergabung kembali.
Kembali ke acara kuliah bersama oleh Bang Doel. Saat sesi pertanyaan ditawarkan beberapa orang yang hadir langsung mengacungkan tangan. Dalam hati gue juga punya pertanyaan yang gue ambil dari pengalaman mengikuti kepanitiaan Kampung Budaya Unpad. “Ketika sekelompok mahasiswa dengan semangat yang tinggi untuk mengembangkan potensi budaya nasional, kendala klasik tapi menentukan adalah kendala keuangan. Adakah solusi untuk kendala tersebut? Karena setiap kami memasukkan proposal-proposal selalu dipentalkan oleh perusahaan-perusahaan, menurut mereka tema budaya tidak cocok dengan konten produk mereka. Padahal diantara perusahaan tersebut terdapat salah satu perusahaan yang diiklannya selalu menampilkan sisi-sisi budaya nasional dan yang ironi ketika proposal kami hampir ditolak oleh dinas pariwisata. Bahkan kalo kami tidak bernegosiasi yang baik bantuan dari pihak rektorat pun tak akan turun”. Pertanyaan tersebut gue mau sampaikan kepada Bang Doel selaku budayawan dan seorang ibu dari dinas pariwisata Indonesia. Namun pertanyaan itu masih dalam angan gue aj karena terkendala waktu, maka terjadi pembatasan pertanyaan. Sudahlah pertanyaan tersebut masih tersimpan.
Rabu, 05 November 2008
Surat Untuk Mama Terkasih
Gue nemuin sebuah surat yang mengharukan (setidaknya menurut gue)..
coba aja nih lo baca..
"Surat Untuk Mama Terkasih"
Mamaku sayang, aku mau cerita sama mama. Tapi ceritanya pake surat ya.Kan, mama sibuk, capek, pulang udah malem. Kalo aku banyak ngomong nanti mama marah kayak kemarin itu, aku jadinya takut dan nangis.
Kalo pake surat kan mama bisa sambil tiduran bacanya. Kalo ngga sempet baca malem ini bisa disimpen sampe besok, pokoknya bisa dibaca kapan aja deh. Boleh juga suratnya dibawa ke kantor.
Ma, boleh ngga aku minta ganti mbak? Mbak Jum sekarang suka galak,Ma. Kalo aku ngga mau makan, piringnya dibanting di depan aku. Kalo siang aku disuruh tidur melulu, ngga boleh main, padahal mbak kerjanya cuman nonton TV aja. Bukannya dulu kata mama mbak itu gunanya buat nemenin aku main?
Trus aku pernah liat mbak lagi ngobrol sama tukang roti di teras depan. Padahal kata Mama kan ngga boleh ada tukang-tukang yang masuk rumah kan? Kalo aku bilang gitu sama mbak, mbak marah banget dan katanya kalo diaduin sama Mama dia mau berhenti kerja.
Kalo dia berhenti berarti nanti Mama repot ya? Nanti Mama ngga bisa kerja ya? Nanti ngga ada yang jagain aku di rumah ya? Kalo gitu susah ya, Ma? Mbak ngga diganti ngga apa-apa, tapi Mama bilangin dong jangan galak sama aku
Ma, bisa ngga hari Kamis sore Mama nganter aku ke lomba nari Bali? Pak Husin sih selalu nganterin, tapi kan dia cowok, Ma. Ntar yang dandanin Aku siapa? Mbak Jum ngga ngerti dandan. Ntar aku kayak lenong. Kalo Mama kan kalo dandan cantik.
Temen-temen aku yang nganterin juga mamanya. Waktu lomba gambar minggu lalu Pak Husin yang nganter; tiap ada lomba Pak Husin juga yang nganter. Bosen, ma. Lagian aku pingin ngasi liat sama temen-temenku kalo Mamaku itu cantik banget, aku kan bangga,Ma. Temen-temen tuh ngga pernah liat mama. Pernah sih liat, tapi itu tahun lalu pas aku baru masuk SD, kan Mereka jadinya udah lupa tampangnya mama.
Ma, hadiah ulang tahun mulai tahun ini ngga usah dibeliin deh. Uangnya Mama tabungin aja. Trus aku ngga usah dibeliin baju sama mainan mahal lagi deh. Uangnya Mama tabung aja. Kalo uang Mama udah banyak,kan Mama ngga usah kerja lagi. Nah, itu baru sip namanya. Lagian mainanku udah banyak dan lebih asyik main sama Mama kali ya?
Udah dulu ya, ma. Udah ngantuk. I love you Mom,..(aku tanya bu guru katanya artinya "aku cinta padamu", berarti aku juga boleh mencintai mama ya )
Coba bayangkan! Bagaimana perasaan seorang ibu jika menerima surat semacam itu dari anak yang dikasihinya? Dan bagaimana pula reaksi seorang ayah jika membaca surat tersebut? Masa bodohkah? Marahkah? Sedihkah? Bingungkah? Atau menantang kita untuk memikirkan kembali prioritas hidup yang kita jalan selama ini?
Mengharukan Bukan!
coba aja nih lo baca..
"Surat Untuk Mama Terkasih"
Mamaku sayang, aku mau cerita sama mama. Tapi ceritanya pake surat ya.Kan, mama sibuk, capek, pulang udah malem. Kalo aku banyak ngomong nanti mama marah kayak kemarin itu, aku jadinya takut dan nangis.
Kalo pake surat kan mama bisa sambil tiduran bacanya. Kalo ngga sempet baca malem ini bisa disimpen sampe besok, pokoknya bisa dibaca kapan aja deh. Boleh juga suratnya dibawa ke kantor.
Ma, boleh ngga aku minta ganti mbak? Mbak Jum sekarang suka galak,Ma. Kalo aku ngga mau makan, piringnya dibanting di depan aku. Kalo siang aku disuruh tidur melulu, ngga boleh main, padahal mbak kerjanya cuman nonton TV aja. Bukannya dulu kata mama mbak itu gunanya buat nemenin aku main?
Trus aku pernah liat mbak lagi ngobrol sama tukang roti di teras depan. Padahal kata Mama kan ngga boleh ada tukang-tukang yang masuk rumah kan? Kalo aku bilang gitu sama mbak, mbak marah banget dan katanya kalo diaduin sama Mama dia mau berhenti kerja.
Kalo dia berhenti berarti nanti Mama repot ya? Nanti Mama ngga bisa kerja ya? Nanti ngga ada yang jagain aku di rumah ya? Kalo gitu susah ya, Ma? Mbak ngga diganti ngga apa-apa, tapi Mama bilangin dong jangan galak sama aku
Ma, bisa ngga hari Kamis sore Mama nganter aku ke lomba nari Bali? Pak Husin sih selalu nganterin, tapi kan dia cowok, Ma. Ntar yang dandanin Aku siapa? Mbak Jum ngga ngerti dandan. Ntar aku kayak lenong. Kalo Mama kan kalo dandan cantik.
Temen-temen aku yang nganterin juga mamanya. Waktu lomba gambar minggu lalu Pak Husin yang nganter; tiap ada lomba Pak Husin juga yang nganter. Bosen, ma. Lagian aku pingin ngasi liat sama temen-temenku kalo Mamaku itu cantik banget, aku kan bangga,Ma. Temen-temen tuh ngga pernah liat mama. Pernah sih liat, tapi itu tahun lalu pas aku baru masuk SD, kan Mereka jadinya udah lupa tampangnya mama.
Ma, hadiah ulang tahun mulai tahun ini ngga usah dibeliin deh. Uangnya Mama tabungin aja. Trus aku ngga usah dibeliin baju sama mainan mahal lagi deh. Uangnya Mama tabung aja. Kalo uang Mama udah banyak,kan Mama ngga usah kerja lagi. Nah, itu baru sip namanya. Lagian mainanku udah banyak dan lebih asyik main sama Mama kali ya?
Udah dulu ya, ma. Udah ngantuk. I love you Mom,..(aku tanya bu guru katanya artinya "aku cinta padamu", berarti aku juga boleh mencintai mama ya )
Coba bayangkan! Bagaimana perasaan seorang ibu jika menerima surat semacam itu dari anak yang dikasihinya? Dan bagaimana pula reaksi seorang ayah jika membaca surat tersebut? Masa bodohkah? Marahkah? Sedihkah? Bingungkah? Atau menantang kita untuk memikirkan kembali prioritas hidup yang kita jalan selama ini?
Mengharukan Bukan!
Rabu, 22 Oktober 2008
In Memoriam Timdis

Banyak orang mengatakan ospek adalah kegiatan yang tak berguna. Kegiatan yang diadakan untuk senior-senior yang senang menginjak dan menjatuhkan juniornya.
Berbeda dengan orang-orang tersebut, gue justru senang dengan adanya kegiatan ospek. Ok! Sekarang namanya bukan ospek lagi. Disetiap universitas, fakultas atau bahkan jurusan sudah mengharamkan penggunaan kata “ospek” sebagai kegiatan penyambutan mahasiswa baru. Terlepas dari nama-nama kegiatan pengenalan kampus tersebut, gue justru senang dengan keberadaan acara ospek dan sejenisnya. Aneh! Tapi buat gue ajang tersebut banyak bermanfaat, bisa lebih kenal sama temen-temen baru bahkan sampai senior-senior yang boleh dikatakan seniornya senior.. hahahaa…
Acara tersebut mengenalkan kita bagaimana bertindak dalam situasi senang (kaga’ akan bisa senang sii dalam ospek mah, sedikit ketawa ada aja senior yang ngomel-ngomel), Susah ( gimana ga susah disuruh bawa yang macem-macem?), dan lelah (klo ini kolektif rasa ikut acara beginian)..
Ospek atau apalah namanya buat gue sangat asyik buat dikenang. Sangat lumayan buat bercerita kepada adik, saudara, anak, cucu nantinya..
Saat ini alam bawah sadar gue sedang membawa makhluk yang bernama lengkap Yudi Bastian ini berkelana dalam memori ketika menjadi Steering Committee Pengenalan Fakultas Sastra 2008 (SC PFS 2008). Setelah dua tahun berturut-turut berpartisipasi menjadi panitia pelaksana, sekarang di tahun yang ketiga gantian gue yang harus berbagi ilmu dan pengetahuan ke adik-adik panitia pelaksana atau Organizing Committee (OC).
Pengalaman hebat teman-teman!
Ternyata gue dan teman-teman SC yang lain bisa membuat OC melaksanakan tugasnya dengan baik dari awal sampai akhir. Walaupun ada banyak kekeliruan, kesalahan, dan kekurangan, namun mereka juga membuat banyak hal-hal yang bagus dan patut mendapat pujian.
Ketika menjadi panitia selama dua tahun gue selalu menjadi Tim Disiplin (Timdis), maka otomatis ketika menjadi SC pun gue ga lepas dari Timdis. Membantu teman-teman SC satu divisi, M. Aji Moerdani (kordinator SC Timdis), Muhammad (fisik), dan Bintang Stevi Tania (vocal) gue memegang tugas utama sebagai penyampai materi teori dan praktek latihan malam. Oh iya ada satu lagi yang tak patut dilupakan Bapak Gilar Ramdhani sebagai kordinator SC keseluruhan..
Selama penyampaian materi gue bersama teman-teman kadang menyimpan keirian kepada OC. Klo dibolehkan kami ingin berposisi seperti mereka kembali. Hal yang sangat mustahil diwujudkan, mengingat ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan, menjadikan kami bertugas sebagai OC selama dua tahun saja.
Banyak hal yang membuat kita kadang merindukan masa-masa latihan dan saat beraksi dihari pelaksanaan. Saat latihan banyak kejadian-kejadian lucu dan menyenangkan serta sedih yang mengharukan tersaji oleh kita untuk kita. Selama hari pelaksanaan kesulitan dan penyebalan disajikan oleh kita ke mahasiswa baru. Semuanya menjadi lucu ketika kita mengingat-ingat dimana kita yang berada sebagai mahasiswa baru. Lugu, polos yang penuh kepatuhan terhadap perintah senior dan sedikit kenakalan untuk mencari perhatian.
Tanpa maksud membeda-bedakan inilah orang-orang yang mendapat kesempatan langka menjadi Timdis 2008, Timdis yang kata salah satu kita disebut mempunyai Idealisme tentang bagaimana memandang kesalahan yang terjadi di dalam sebuah tim. Mereka adalah:
1. Agus Priyanto, si kordinator.
2. Febriyana, pasangannya si bapak koor.
3. Fushila Insani Solihat, masih tetep dengan cerewetnya.
4. Laras Sukmaningtyas a.k.a boyas, dengan kaca mata dan agak kecengoannya.
5. Rona Maryefti N, dengan kekalemannya.
6. Amelia Triane, lebih okeh Mel di Provokator..keren’
7. G. A. Rilis Cininta, yang suka bermanja-manjaan klo sehabis latihan.
8. Adi Prasetya, si orator dengan aksen jawanya dan ehm.ehmm..cinlok ni a’
9. Rico Verdian, masih dengan pertanyaan-pertanyaannya yang polos.
10. P. Jaka Pratama, payah Jekk.. ahahaa..ngga-ngga canda.
11. Resya Aprilian, ehm..push-upnya
12. M. Rizky Akbar, dipuji dikit dah ge-er..
13. R. Rakhmawati Khasanah, satu-satunya cewe berkerudung di Timdis kali ini, oh iya idealismenya mbak ehm..jangan kejurusan atuh ini kahn acara fakultas..
14. Amelia Hani, heran deh pas latihan disuruh ke depan langsung pucet-pucet tapi pas hari H, beuhh..galak amat mbak’
15. Saskia Soraya, patut disayangkan ya mbak ga bisa ikut pas hari H, tahun depan ikut lg aj ya.
16. Shinta Agustin, si kecil yang hobi ngupil.. dah dalem Taa..
17. Yuni Khairrunisa, ehm..cinloknya pak orator nih, dan masih tetep dengan aksen sundanya.
18. Dewi Yuliani, nah ni dia yang kata salah satu senior disebelin pas pengukuhan.
19. Feny Febriantini, pindah jalur ya mbak tapi maaf keinginanmu tak bisa dikabulkan.
20. Kristha Immanuel G, kritis c kritis tp so iye ni orang.
21. Yuki Permana, ni orang sedikit banget klo ngomong, panteskan ditaro di eksekutor.
22. Revyna Nurlisa Bella, selalu dengan eye shadow-nya, hampir sama kaya Yuki , Bella juga hemat klo ngomong tapi ini pas latihan aj, pas dah diluar mah ramee..
23. Rangga Hargo Baskoro, jalannya itu lho mas..hehehee…
24. Rinaldi Pratama, dasar’ bocah! Ga bisa diingetin sekali.
25. Didit Mardiansyah, hayo mas ajak nak-nak Timdis offroad, hahaa…
26. Nanda Yuniastuti, keras kepala parah ni orang.
27. Ghea Raissa, anak gahulnya Timdis nii, pas hari H nyerocos ajaa..
28. Imas Khotimah H, klo yang ni ce-es-nya c anak gahul, ahahaa.. keren’ Mas jd eksekutornya.
29. Mochamad Davie, jangan bisa cuma ng-plagiatin orang, kerja yang bener.
30. Andri Asmoro, sayang ya ga ikutan pengukuhan jadi ga tau deh jawaban yang ditanyain tempo hari.
Hohoo…masih ada satu lagi tapi dia ini Timdis yang sukses berposisi sebagai korlap (kordinator Lapangan) Deni Kurniawan..
Jaga Terus Kekompakan, Go-Fight-Win Timdis!!!
Rabu, 08 Oktober 2008
Pagi Ini
Alhamdulilah pagi ini Allah masih memberi aku kesempatan untuk menghirup udara pagi
Walaupun hari-hari yang lalu selalu aku lewatkan dengan perbuatan dosa yang hina
Ketika udara yang diselimuti embun pagi mulai memasuki lubang-lubang hidungku
Ketika matahari meranjak dari ufuk timur
Kurasakan indahnya pagi ini
Manusia hina ini kembali diberi kesempatan merasakan dunia fana ini
Manusia ini kembali akan perbuatan dosanya
Entah apa bentuknya,
Entah apa besarnya,
Entah berapa banyak jumlahnya
Namun Engkau selalu setia dengan ke maha pengampun-Mu
Aku tak tau kapan ku perbuat dosa itu
Aku tak tau mengapa aku berbuat dosa
Bahkan setiap kebaikan pun aku takut berbuat dosa
Engkaulah yang berkehendak menentukan segalanya
Aku hanya bisa berbuat dengan usahanya
Engkaulah yang maha mengetahui segalanya
Aku hanya tau Engkau selalu memberikan apa yang umatmu butuhkan
Bukan apa yang ia inginkan
Walaupun hari-hari yang lalu selalu aku lewatkan dengan perbuatan dosa yang hina
Ketika udara yang diselimuti embun pagi mulai memasuki lubang-lubang hidungku
Ketika matahari meranjak dari ufuk timur
Kurasakan indahnya pagi ini
Manusia hina ini kembali diberi kesempatan merasakan dunia fana ini
Manusia ini kembali akan perbuatan dosanya
Entah apa bentuknya,
Entah apa besarnya,
Entah berapa banyak jumlahnya
Namun Engkau selalu setia dengan ke maha pengampun-Mu
Aku tak tau kapan ku perbuat dosa itu
Aku tak tau mengapa aku berbuat dosa
Bahkan setiap kebaikan pun aku takut berbuat dosa
Engkaulah yang berkehendak menentukan segalanya
Aku hanya bisa berbuat dengan usahanya
Engkaulah yang maha mengetahui segalanya
Aku hanya tau Engkau selalu memberikan apa yang umatmu butuhkan
Bukan apa yang ia inginkan
Setengah Nafas
“Setengah Nafas”
KuSandarkan Diri pada Lamunanku
Bersama Cinta tak SadarkaH Dia,
Aku Hanya Mampu Memendam Rasa ini Dalam-dalam
Ragaku Mungkin diSini, BerSama Mereka,
tapi JiwaKu Pergi
PikiranKu TerSandar olehnya dan
Semua AnganKu Hanya Mampu KuSimpan Sendiri Malam ini
KuSandarkan DiriKu pada Bahu Mereka yang Ada diSini
Saat Malam Semakin Larut,
JiwaKu Pun Semakin Larut TerBawa Pergi
Sampai AkhirNya
Aku Mampu Menghela Setengah NafasKu dan
SetengahNya Lagi Belum TerJawab,
Sudah BiarKan SemuaNya TerJawab hari Esok,
Karena Ku Tahu
Malam Ini Dia Telah Terjaga..
(ioudi)
KuSandarkan Diri pada Lamunanku
Bersama Cinta tak SadarkaH Dia,
Aku Hanya Mampu Memendam Rasa ini Dalam-dalam
Ragaku Mungkin diSini, BerSama Mereka,
tapi JiwaKu Pergi
PikiranKu TerSandar olehnya dan
Semua AnganKu Hanya Mampu KuSimpan Sendiri Malam ini
KuSandarkan DiriKu pada Bahu Mereka yang Ada diSini
Saat Malam Semakin Larut,
JiwaKu Pun Semakin Larut TerBawa Pergi
Sampai AkhirNya
Aku Mampu Menghela Setengah NafasKu dan
SetengahNya Lagi Belum TerJawab,
Sudah BiarKan SemuaNya TerJawab hari Esok,
Karena Ku Tahu
Malam Ini Dia Telah Terjaga..
(ioudi)
Langganan:
Postingan (Atom)